M & L

M & L
Sabar, sabar dan sabar


__ADS_3

Tidak di sangka, bahkan pria yang enggan menikah dan enggan mempunyai anak itu kini begitu fokus membuat makanan yang mengandung nutrisi yang baik untuk istri dan anaknya yang bahkan masih janin kecil.


Hari ini Magma akan membawa Laura memeriksa kandungannya, minimal ia harus tahu ada berapa anak di kandungan istrinya. Sebab Laura kembar dan bahkan adiknya Yura saja mempunyai anak kembar karena suaminya juga kembar.


Ketika memasak, benaknya memikirkan Laura. Apa perempuan itu masih tidak mau dekat dengan dirinya. Lalu bagaimana ia bisa sarapan bersama kalau Laura masih enggan dekat Magma.


"Apa ingin cerai termasuk ngidam juga?" gumam Magma yang bingung sendiri sambil memasak daging di wajan.


"Kalau memang iya, keterlaluan sekali. Kenapa aku punya anak yang mau orang tuanya bercerai."


Magma menghela nafas kasar, dari pada memikirkan hal tidak jelas. Lebih baik ia cepat-cepat membereskan masakannya sebelum Laura bangun.


Pria itu menghidangkan semua makanan di meja. Minuman bukan hanya air putih saja di atas meja kali ini, tapi ada susu ibu hamil, jus buah dan jus sayur. Biarkan Laura memilih mana yang mau dia minum.


Termasuk dengan makanannya, dari protein hewani, nabati, sayuran dan daging berbagai macam olahan ia hidangkan untuk istrinya.


Tok tok tok


"Sayang, sarapan ..." teriaknya.


Tak lama kemudian pintu terbuka, terlihat Laura dengan rambut sedikit basah karena baru selesai mandi.


"Masak apa?" tanya nya dengan wajah datar.


"Banyak. Ayo ..." Magma hendak mengenggam tangan istrinya, tapi ketika teringat istrinya tidak mau dekat dengannya, ia langsung kembali menarik tangan nya.


Laura berjalan melewati Magma menuju meja makan. Magma menghela nafas panjang, sabar jangan marah.


Magma menarik kursi di depan Laura. "Kita ke dokter ya setelah sarapan."


"Hmm."


Laura menjawab singkat sambil menyendok nasi ke piring. Magma membantu dengan menaruh beberapa lauk ke piring istrinya. Bukannya berterimakasih, Laura justru menatap Magma dengan tatapan jengkel lalu fokus dengan makanannya.


Sekali lagi, sabar. Hanya itu yang bisa Magma lakukan.


Magma juga ikut makan dengan sesekali menoleh ke arah istrinya. Sudah berapa hari meja makan selalu hening ketika sarapan, makan siang atau makan malam.


Rasanya seperti Magma tinggal sendirian di apartemen sebab istrinya yang jarang berbicara sekarang.


"Apa, apa kau senang dengan kehamilanmu sayang? kau tampak diam saja dari kemarin malam."

__ADS_1


"Siapa yang tidak senang punya anak, aku hanya tidak senang denganmu," sahut Laura ketus.


Sekali lagi, sabar. Pria itu hanya tersenyum tipis walaupun geram di dalam hati karena istrinya belum berubah. Ia hanya mencengkram kuat sendok di tangan nya. Jangan marah, jangan marah. Yang ada di dalam kandungan Laura adalah anaknya.


"Sayangku ... hamil sembilan bulan, tidak mungkin selama sembilan bulan kau terus kesal denganku. Iya kan?"


"Yang aku kandung ini anakmu, semenjak dia ada aku selalu kesal denganmu. Tanya saja anakmu, jangan tanya aku!"


Magma terkekeh dengan menahan kekesalannya. "Hehe iya sayang, nanti kalau dia sudah lahir aku intograsi dia." Pria itu menghela nafas panjang. Sabar, sabar dan sabar, ia yakin bisa meningkatkan kesabarannya selama Laura hamil.


*


Selesai sarapan, Magma dan Laura pergi ke Dokter Obgyn. Laura terbaring di ranjang dengan Dokter yang menggerakan sesuatu di atas perut Laura dan matanya yang fokus ke monitor samping ranjang.


"Sepertinya ada tiga janin."


"Apa?!" seru Magma dan Laura bersamaan.


"T-tiga?" ulang Magma tak percaya. Ia meminta satu terlebih dahulu, tapi yang ia dapat tiga sekaligus.


"Woah tiga!" seseorang langsung membuka pintu ruangan dengan keras membuat Magma, Laura dan Dokter Rini terkejut.


"Jen, kau kenapa di sini?" tanya Laura melihat Jeni yang tiba-tiba masuk ke ruangan. Magma spontan beranjak dari duduknya dan menarik selimut untuk menutupi perut Laura yang tadi terbuka. Ia tidak suka jika Jeni sampai melihatnya.


Dan Jeni sendiri tahu Laura hamil karena memang Laura langsung memberitahu Jeni ketika hasil tespack nya positif.


"Jeni tadi Liat mobil om tua, jadi Jeni ikutin deh."


"Kau, aku pikir sudah mati!" seru Magma kepada Jeni.


"Ish, om galak deh. Cie om, mau jadi Ayah ya. Engga cocok sih, harusnya jadi kakek. Ya kan Dok?"


Dokter Rini hanya tersenyum.


"Siapa yang menyuruhmu berbicara!" kesal Magma.


"Tidak ada, tapi Jeni kan punya mulut. Sayang dong engga di pake. Oh iya, om selamat ya om. Nanti Jeni aja yang jadi Baby sitternya. Siapa tau ada yang mau jadi penerus Jeni." Jeni kemudian cekikikan sendiri membayangkan ada anak laki-laki Magma yang banci seperti dirinya.


Magma bergidik, jangan sampai hal itu terjadi. Jika anaknya laki-laki dia harus berwibawa seperti dirinya.


"Keluar kau!" Magma mengusir Jeni.

__ADS_1


Jeni menekuk wajahnya. "Lala, Jeni kangen ih sama Lala ..."


"Lala juga kan ---"


"Jeni pergi!" suara Magma meninggi.


Jeni mendengus kasar, menghentakan kakinya kesal kemudian pergi dari ruangan itu. Dokter Rini hanya menggelengkan kepala melihat kepergian Jeni.


"Sayang jangan banyak bergaul dengan dia. Aku takut anakku seperti dia!"


Laura hanya mendengus kasar kemudian memalingkan wajahnya.


Mereka kembali pulang setelah selesai mengecek kandungan Laura. Usia kandungannya masuk minggu ke empat, Magma sudah meminta vitamin untuk menguatkan tiga janin yang ada di dalam tubuh istrinya.


Setiap langkah Laura selalu di perhatikan oleh Magma. Pria itu berjalan di belakang istrinya dengan alasan yang sama, Laura masih belum mau dekat dengan dirinya.


Magma hanya berjalan pelan di belakang istrinya sambil siap siaga jika tiba-tiba Laura merasakan pusing atau tiba-tiba akan pingsan. Magma khawatir hal itu terjadi.


"Bagaimana dia membawa tiga anak di perutnya selama sembilan bulan. Bukankah itu berat nanti," gumam Magma menatap punggung istrinya.


Seandainya bisa berbagi, ia juga mau dua anak di masukan saja ke perutnya agar Laura tidak keberatan membawanya nanti. Tapi itu tidak mungkin bisa.


Magma pun berjalan lebih dekat menghampiri istrinya. "Sayang mau pakai kursi roda?"


"Kursi roda? untuk apa? kakiku baik-baik saja."


"Siapa tau kau kelelahan, aku tidak mau kau kelelahan sayang."


Laura menggelengkan kepala beberapa kali. "Apa aku terlihat kelelahan? aku baik-baik saja. Aku mau pergi pemotretan nanti sore."


"Tidak! Sayang kali ini tolong jangan membantah, ada tiga janin di tubuhmu. Waktunya kita memikirkan nasib mereka, kalau kau kelelahan bagaimana?"


"Tapi aku bosan di apartemen!"


"Kita bisa jalan-jalan, liburan ke tempat yang dekat. Banyak yang indah di sini, jangan dulu naik pesawat. Kita kembali ke Spanyol setelah mereka lahir saja. Bagaimana?"


"Aku mau camping!" sahut Laura lalu berjalan lebih cepat meninggalkan Magma.


"Camping?" Magma mematung di tempat. Itu artinya Laura ingin tidur di gunung. Perempuan yang selalu menjaga kecantikan dan kebersihan seperti Laura ingin camping? Astaga Magma tidak menyangka itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2