
Satu jam sebelum mereka berangkat Dinner, Magma berkata harus pergi ke kantor terlebih dahulu karena ada urusan penting
Laura sudah menunggu di sofa, duduk dengan gelisah sambil sesekali menatap jam di pergelangan tangan nya. Sudah satu jam lebih Magma belum juga kembali ke mansion, di telpon pun tidak di angkat.
"Sudahlah ... aku bilang apa, jangan terlalu berharap. Pake di ajak Dinner segala," seru Jeni berjalan ke arah dapur sambil menyindir Laura.
Laura tidak menanggapi ucapan Jeni, ia memilih menunggu Magma datang.
Sampai tiba dimana ponsel di tasnya berdering pendek tanpa pesan masuk. Laura mengambil ponselnya di tas dan terbelalak ketika Byanca mengirim foto sedang berselfie dengan Magma.
Terlihat mereka tengah makan berdua karena di meja banyak sekali makanan. Laura tahu, itu di ruangan kerja Magma.
Perempuan itu mencengkram kuat ponsel di tangan nya dengan mata berkaca-kaca akibat amarah yang menjalar cepat di seluruh tubuhnya.
Laura kembali menyimpan ponselnya di tas kemudian duduk menyenderkan punggungnya di sandaran sofa dengan menghela nafas.
Pikirannya kalut seketika, apa ini resiko yang harus ia hadapi ketika menikah dengan pria yang tidak mencintainya. Sekalipun mau marah kepada Magma tapi pria itu pasti akan balik menyalahkan dirinya.
Setengah jam kemudian terdengar deru mobil masuk ke halaman mansion. Mobil berhenti di depan dan tiga kali berturut-turut Magma membunyikan klakson untuk memanggil Laura.
Dengan malas perempuan itu beranjak dari duduknya pergi menuju teras depan. Magma membuka jendela mobilnya.
"Cepatlah!" sentaknya.
"Sebentar," sahut Laura pelan lalu masuk dan duduk di samping Magma.
Laura menoleh ke samping menatap Magma lekat-lekat dari atas sampai bawah. Tidak salah lagi, Magma baru selesai makan bersama Byanca karena pakaiannya sama persis dengan yang di foto.
Magma menyalakan mesin dan mobil pun melaju keluar dari halaman mansion.
"Restaurant mana?" tanya Magma tanpa menoleh ke arah Laura.
Laura menaikan alisnya. "Kau belum memesan restaurant nya?"
"Bukankah kau yang mengajakku dinner, seharusnya kau yang memesan," sahut Magma membuat Laura menghela nafas kasar.
Biasanya pria yang mengatur dinner romantis. Tapi ternyata Magma belum memesan restaurant sama sekali untuk mereka dinner.
__ADS_1
"Ke Spanish Resto saja," seru Laura dengan tatapan kosong menatap jalanan di depan.
Semangatnya untuk dinner pertama dengan suaminya hilang sudah karena Magma makan berdua di luar sana bersama Byanca.
*
Magma benar-benar membuat Laura sakit hati, ketika mereka duduk di meja pun hanya Laura yang makan, pria itu sibuk main ponsel tanpa sedikitpun menatap ke arah Laura.
Ini tidak seperti dinner romantis. Ini seperti Magma mengantar Laura makan di luar saja.
"Kau tidak mau makan?" tanya Laura.
Magma menggeleng. "Kenyang!"
"Pastilah kenyang, makan bersama Byanca," gumam Laura pelan yang mendapat delikan dari Magma.
"Dia baru selesai pemotretan dan mengajakku makan. Apa salahnya?"
"Hah? apa salahnya kau tanya?" Laura tersenyum kecut menyimpan garpuh di piring nya dengan kasar sampai membuat suara berdenting dari piring.
"Aku dan dia rekan kerja, kau juga pernah mengajakku makan berdua di kantor ketika masih bekerja denganku, Lala. Tidak ada bedanya dengan aku makan dengan Byanca sekarang!"
"Beda, Magma! Jelas berbeda!! sekarang kau sudah punya istri, tidak seharusnya kau makan bersama perempuan lain selain istrimu!!"
"Berapa kali aku bilang, aku tidak menjadikanmu istri, kau yang menginginkan pernikahan ini!!"
Nafas keduanya sama-sama memburu, guratan amarah terlihat jelas di wajah keduanya. Rahang Magma terlihat menegang dengan tatapan tajam menatap Laura.
Laura tak kalah menatap tajam Magma, hanya saja terlihat sedikit kesedihan di mata cantik perempuan itu. Marah dan sedih bercampur di hatinya.
Dengan kesal, Laura mengambil tas di belakang tubuhnya lalu pergi meninggalkan Magma di meja. Magma menghela nafas panjang, memijat keningnya yang pening.
Langkah perempuan itu berjalan sangat cepat, ia ingin segera sampai ke mansion, tidur dan melupakan kejadian hari ini tentang melihat foto suaminya makan bersama perempuan lain.
Dug
"Akhh."
__ADS_1
Laura tak sengaja menabrak seorang pria yang berlari dengan memakai pakaian dinas koki.
"M-maaf ..."
"Farel," ucap Laura.
"Loh, kak Laura." Farel menunjuk wajah Laura dengan ekspresi kaget dan tidak menyangka bertemu Laura di restaurant ini.
"Farel kenapa di sini? kau jadi koki di sini?" Laura melihat topi koki yang tinggi yang di pakai Farel.
"Aku bekerja di sini kak hehe. Lumayan selama tinggal di sini aku bisa sambil nyari uang."
"Loh, bukannya bekerja dengan De Willson?" tanya Laura.
"Kan restaurant nya belum jadi kak."
"Tadi kau bilang apa, selama tinggal di sini? kau mau tinggal di sini memangnya?"
"Eum ..." Farel menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sama sekali, ia tidak mungkin mengatakan kalau dirinya tinggal di sini karena sang kakak Kenzo.
"Selama beberapa hari saja sih, kak. Sambil liburan."
"Oh ..." Laura mengangguk-ngangguk.
Aku harus apa ya, masa aku harus bilang kalau Kak Kenzo galau karena Kak Laura. Atau aku bilang ke Kak Kenzo saja aku bertemu Kak Laura di sini.
"Hei ..." Laura mengibas-gibaskan tangan nya di depan wajah Farel membuat Farel mengerjap.
"Kenapa melamun?" tanya Laura.
"Ah tidak kak hehe. Kalau begitu aku kerja dulu ya kak, ini hari pertamaku."
Laura mengangguk dengan tersenyum. Kemudian Farel pun pergi menuju dapur sambil sesekali menoleh ke belakang melihat Laura.
"Tidak, jangan kasih tau Kak Kenzo. Nanti dia semakin galau, apalagi aku yakin suaminya juga ada di sini," gumam Farel.
Bersambung
__ADS_1