
Laura tidur di kamar tamu, mengunci pintu kamar berpikir Magma tidak akan bisa masuk. Tapi ini mansion Magma, jelas dia punya kunci untuk setiap kamar.
Diam-diam Magma masuk setelah istrinya terlelap, merebahkan diri di samping Laura dengan memeluk perempuan itu dari belakang.
Sampai ketika jam menunjukan pukul tiga pagi, Magma bangun dari tidurnya hendak bersih-bersih di mansion nya sendiri untuk merasakan apa yang Laura rasakan dulu.
Magma beranjak dari ranjang setelah menaikan selimut menutupi tubuh istrinya sampai leher.
Pria itu pun bergegas mencari vacum cleaner, di mulai ia memvacum sofa yang cukup besar di lantai dua, membersihkan beberapa hiasan dan memvacum karpet dan lantai lalu mengambil alat pel.
Karena mereka baru kembali ke mansion, belum ada piring kotor. Alhasil Magma memilih mengambil baju kotor di ranjang kamar mandi dan mencucinya di belakang mansion. Ia memasukan semua bajunya ke mesin cuci. Sambil menunggu, Magma meminum kopi sejenak dengan menikmati halaman belakang mansion yang lebih banyak pepohonan hijau.
"Cucianku masih banyak di koper."
Magma yang tengah duduk menoleh ke belakang. Laura berdiri dengan tangan bersedekap dada.
"Itu kan bersih," sahut Magma.
"Iti kin birsih," ledek Laura. "Kau juga dulu menyuruhku mencuci baju bersih!" Laura melengos meninggalkan Magma.
Magma menghela nafas kasar, menyimpan kopinya lalu bergegas mengambil cucian di kamarnya. Semua baju Laura di dalam koper yang bersih dan harum itu ia bawa ke belakang mansion untuk di cuci.
Selesai mencuci semua bajunya ia langsung menjemur semua pakaiannya tersebut. Magma melakukannya dengan senang hati.
"Aku juga dulu sangat bersemangat ketika hari pertama bersih-bersih menjadi seorang istri. Kita lihat saja kalau dia sudah seminggu bersih-bersih di mansion nya sendiri, pasti kelelahan juga!" Seru Laura dengan tersenyum miring menatap suaminya yang masih menjemur baju.
Magma mengeluarkan bahan-bahan makanan di kulkas, ia memasak dengan Laura yang menonton tv sendirian. Laura mengangkat kakinya ke atas meja, seperti nyonya yang tengah menunggu pelayan menyiapkan makan.
Satu jam lebih berlalu akhirnya Magma selesai masak dan selesai menghidangkan semua sarapan yang di buatnya di meja.
"Sarapan sudah siap Ratu, hamba memasak sarapan spesial untukmu ..."
"Kau membuat sup jagung kan?" tanya Laura.
"Iya," sahut Magma berdiri di samping meja makan.
"Bawa kesini! aku hanya ingin makan sup jagung saja, aku sedang diet."
"Tapi makanan yang lain ---"
"Aku tidak mau, sup jagung saja!"
"O-oh, oke."
Magma membawa semangkuk sup jagung untuk istrinya. Kemudian ia duduk di samping Laura.
"Suapi aku."
"Ah, baiklah." Sahut Magma dengan senang. Ia memakan sup jagungnya itu sendiri lalu mendekatkan bibirnya ke wajah Laura sontak Laura mendorong wajah Magma.
"Kau mau apa?" sentak Laura.
__ADS_1
"Menyuapimu, dengan mulutku." Magma tersenyum.
Laura membulatkan mata. "Kau gila! menjijikan sekali!"
"Jujur saja, itu kan yang kau mau. Kau gengsi ..." Magma tersenyum menggoda mengedipkan sebelah matanya.
Laura menghela nafas, menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Ternyata m*sum mu separah ini ya! aku baru tau!"
"Kau yang menggodaku lebih dulu jadi jangan protes!" sahut Magma.
"I-iya sih. Sudahlah, aku mau makan." Laura mengambil sup jagung di tangan Magma.
Ketika Laura makan, Magma terus memperhatikan wajah perempuan itu dengan sesekali tersenyum membuat Laura tidak nyaman karena ia tidak suka ketika makan di lihat seperti itu.
Magma mengulurkan tangannya membersihkan bibir Laura yang belepotan. Laura menatap Magma sekilas lalu kembali makan.
"Lebih baik kau makan saja dari pada melihatku seperti itu!" kesal Laura.
"Melihatmu membuatku kenyang."
"Magma kau tidak pantas mengatakan itu, kau bukan pria muda lagi yang suka menggombal."
"Memangnya pria tua tidak boleh menggombal? lalu apa yang boleh?" Magma mendekatkan wajahnya. "Mengajakmu ke kamar, boleh?"
"Ti-dak!" sahut Laura penuh penekanan.
"Tidak sekarang, baik tidak apa-apa. Nanti siang saja."
"Nanti sore," sahut Magma.
"Nanti sore juga tidak!"
"Oke, nanti malam."
"Nanti malam juga tidak!"
"Tidak apa-apa, masih ada besok pagi." Magma tersenyum.
"Besoknya lagi, besoknya lagi, terus sampai besoknya lagi juga ti-dak!" seru Laura.
"Karena kau tinggal bersamaku selamanya, tidak ada akhir dari kata besok. Selalu ada besoknya lagi dan besoknya lagi sampai aku bisa membawamu ke kamar."
"Aku sudah bilang, aku tidak berselera denganmu lagi!" geram Laura.
"Bukan tidak berselera, tapi kau masih dendam denganku. Itu yang benar, iya kan?"
"Cih, selama aku dendam denganmu, selama itu juga kau tidak bisa mengajakku tidur!!"
Magma mengangguk-ngangguk sambil tersenyum. "Setelah dendammu hilang, selama itu juga kau akan selalu ada di kamar!"
"Kau mau mengurungku di kamar?"
__ADS_1
"Tentu saja, tugasmu hanya melayaniku dan menghabiskan uangku. Selesai ..."
"Aku ingin tetap menjadi model. Aku tidak mau karier ku hancur!" protes Laura.
"Boleh, asal tidak mengumbar tubuhmu!"
"Model harus siap memakai pakaian yang di berikan perusahaan kapanpun, karena itu sikap profesional dalam bekerja!"
"Dan suami boleh mengatur istrinya kapanpun, karena itu sikap tanggung jawab suami yang tidak mau tubuh istrinya di lihat orang lain!"
"Jangan mengaturku Magma!"
"Aku menikah karena kau menjebakku, ingat? jadi bagaimanapun aku mengaturmu, kau harus siap!" Magma tersenyum mengecup kening istrinya lalu kabur dari sofa sebelum Laura sadar dan marah.
"Magma!" teriak Laura.
"Ya sayang?" sahut Magma enteng sambil menaiki anak tangga, ia berbalik sejenak, tersenyum dan melambaikan tangan ke istrinya lalu kembali berjalan karena harus menyetrika baju.
Selesai menyetrika baju Magma pun mandi, Laura masuk ke kamarnya dan mendengar bunyi shower di kamar mandi.
"Dia mau pergi bekerja," gumam Laura lalu duduk di sisi ranjang.
"Aku siapkan bajunya atau jangan. Ah tidak perlu lah, biar dia ambil sendiri, dia kan sedang merasakan apa yang aku rasakan dulu!"
Magma keluar dari kamar mandi sambil bersiul, rambut gondrongnya terlihat basah. Ia berhenti bersiul ketika melihat Laura sedang main ponsel di ranjang.
Laura mendesis sambil memalingkan wajahnya ketika melihat handuk Magma tiba-tiba jatuh.
"Ah, maaf. Handuknya terlalu longgar." Magma mengambil handuknya di lantai dan melilitkannya kembali di bagian bawah tubuhnya.
"Alasan!" hardik Laura yang yakin Magma membuka handuknya sendiri.
Magma tersenyum, ia berjalan membuka lemari dan mengambil satu kemeja dan jas pilihan nya.
"Aku bekerja dulu ya ..."
"Pergi saja," sahut Laura enteng.
"Mencari uang untuk Ratu ku yang suka sekali shopping barang-barang mahal," seru Magma sambil memakai kemeja nya.
"Heh, apa maksudmu?" seru Laura tidak terima. "Selama jadi istrimu, belum pernah kau mengajakku shopping ya! fitnah sekali bilang aku shopping barang-barang mahal!"
Magma berbalik, dia baru memakai kemeja nya saja. Bawahannya masih di tutupi handuk.
Ia tersenyum menghampiri istrinya dan duduk di sisi ranjang. Ia berbicara dengan lembut. "Maksudku, Laura istriku ini suka shopping barang-barang mahal. Aku memang belum pernah mengajakmu shopping, nanti setelah aku pulang kerja ya?"
Laura hanya berdecih dan kembali main ponsel saja. Hening beberapa detik, sampai akhirnya Magma langsung menc*um bibir Laura dan segera kabur dari kamar setelah mengambil celana yang ia sampirkan di atas kursi.
"MAGMAAAAA ..." Jerit Laura memegang bibirnya karena walaupun suaminya hanya menc*umnya beberapa detik saja tapi pria itu berhasil mengigit bibir Laura.
#Bersambung
__ADS_1
Laura mendengus kasar.