
"Tuan, saya sudah melihat cctv di bandara. Sepertinya memang benar itu Nyonya Laura. Dia bersama tiga laki-laki." kata Lail yang duduk di depan Magma.
"Laki-laki?" dahi Magma mengkerut. "Siapa?" tanya nya kemudian.
"Kalau tidak salah dia salah satu rekan bisnis kuliner De Willson, Tuan. Namanya ... Kenzo."
"Kenzo," ulang Magma. "Kemana tujuan mereka Lail?"
"New Zealand."
"Haruskah aku menyusul dia ke sana?" tanya Magma.
"Tuan, bukankah anda akan memberi waktu untuk Nyonya Laura."
Magma berdecak.
Dugaanku benar, kau masih hidup Laura ... aku berjanji akan membawamu pulang lagi ke sini!
"Aku tidak akan menganggu dia tapi kirimkan seseorang untuk merekam kegiatan dia di sana, Lail."
Lail mengangguk paham. "Baik Tuan."
Lail maupun Benjamin benar, Magma harus memberikan waktu untuk Laura. Perempuan itu terlalu banyak tekanan saat menjadi istrinya, sekarang Laura mungkin sedang menikmati kebebasan nya kembali.
*
Laura merasa bebas di New Zealand. Ia keluar pagi hari untuk jogging sendirian, perempuan itu memakai topi dan juga masker. Meskipun pengap, dia harus menggunakan masker sebab banyak orang yang mengenalinya. Ketika ada beberapa orang mendekati Laura dan bertanya.
"Kau Laura yang kecelakaan itu?"
Maka Laura akan menggelengkan kepala dan lanjut jogging menghiraukan mereka.
Bisa mati aku kalau pakai masker terus-terusan begini.
Laura berhenti sejenak di salah satu kursi ia menunduk membuka masker untuk mengatur nafasnya.
Dari jarak jauh seorang pria merekam Laura, ia memperbesar layar agar wajah Laura nampak lebih jelas kemudian mengirimkan nya ke Magma.
Magma yang baru selesai mandi mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja. Ia kemudian duduk di ranjang membuka isi pesan tersebut.
Kemudian ujung bibirnya tersenyum kala melihat Laura tengah mengelap keringat di wajah dengan tangan nya.
"Memang benar-benar perempuan licik," gumam Magma tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.
Siang hari pria di New Zealand tersebut masih mengikuti Laura. Perempuan itu kini sudah mengganti bajunya, ia memakai dress ketat berwarna rose gold, senada dengan rambutnya. Masker tidak lepas dari wajah cantiknya.
Laura hendak pergi ke mall untuk membeli beberapa pakaian. Setiap langkahnya di rekam oleh Wiski kemudian pria itu mengirimkan videonya kepada Magma.
Magma sudah kembali ke kantor setelah memastikan ternyata istrinya masih hidup. Ponsel nya bergetar, ia segera membuka pesan dari Wiski.
__ADS_1
"Kenapa dia memakai baju seketat ini!" hardik Magma kala melihat penampilan Laura di New Zealand.
Mungkin Magma tidak sadar, Laura ketika di mansion tidak memakai baju ketat karena di tugaskan bersih-bersih bak seorang pelayan. Tidak mungkin kan Laura mengepel dengan memakai dress ketat.
Dengan kesal Magma menyimpan kembali ponselnya. Entah kenapa sekarang ia tidak suka Laura memakai baju ketat seperti itu.
Laura membeli banyak pakaian, bukan hanya untuk dirinya saja. Kali ini ia mau mentraktir Kenzo, Aris dan Farel. Laura memilah-Milah kemeja pria juga membeli beberapa kaos untuk Kenzo, Farel dan Aris.
Lagi, Wiski mengirim video tersebut kepada Magma. Belum habis rasa kesal Magma sekarang ia malah melihat Laura sedang membeli baju laki-laki.
Kemudian Magma mengingat perkataan Lail jika Laura pergi bersama Kenzo. Magma kemudian menelpon Lail.
"Lail kirimkan data pria itu kepadaku!"
"Siap Tuan."
Tak sampai lima menit Lail langsung mengirim identitas Kenzo ke email Magma. Magma membukanya dan melihat seperti apa Kenzo itu.
Mulai dari pendidikan, status keluarga dan pekerjaan Kenzo.
"Orang biasa rupanya," seru Magma.
*
"Lala ..." Laura yang tengah bayar di kasir berbalik.
"Ih bete deh, Jeni telpon Lala ga di angkat terus jadinya Jeni telpon si tampan Kenzo deh hehe."
"Ini Nona ..." kasir tersebut memberikan pesanan Laura. Laura mengambilnya.
"Ayo, jangan bicara di sini."
Laura mengajak Jeni ke sebuah restaurant yang ada di mall. Sambil menunggu makanan Jeni bercerita soal dirinya yang hampir di seret ke mansion Magma tapi tidak jadi.
"Kau tau alasan nya kenapa kau di bebaskan?" tanya Laura yang heran seharusnya pria yang mungkin anak buahnya Magma itu menangkap Jeni.
"Tidak, La. Jeni di bebasin gitu aja, aneh kan ih. Udah cape-cape ngejar Jeni eh malah di bebasin gitu aja."
"Jen, apa mungkin mereka udah tau kalau Lala masih hidup?" tanya Laura.
Jeni terdiam sejenak.
"Jeni juga curiga itu sih, La. Apalagi Lala bilang mau ke bandara sempat di kejar Magma. Bisa jadi Magma juga udah tau Lala masih hidup."
Laura mendengus kasar. "Yasudahlah, biarkan saja. Lala mau refreshing dulu di sini."
Kemudian Laura mengambil flashdisk di dalam tasnya dan memberikan nya kepada Jeni.
"Semuanya udah ada di sini?" tanya Jeni. Laura mengangguk dengan tersenyum miring.
__ADS_1
*
Kenzo sedang membaca buku, tiba-tiba ponselnya bergetar. Pesan masuk dari seseorang yang tidak ia kenal.
Jangan cari masalah denganku kalau kau dan adikmu ingin tetap hidup!
Kenzo terdiam, kemudian ia melihat nomor yang mengiriminya pesan. "Ini bukan nomor Indonesia," gumam Kenzo.
"Hallo semua ..." teriak Jeni yang baru masuk ke apartemen bersama Laura. Kenzo langsung menyimpan ponselnya di meja, ia menatap tangan Laura yang banyak menenteng kantung coklat.
Farel dan Aris keluar dari kamar. "Belanja lagi?" tanya Aris dengan nada tidak suka kemudian duduk di sofa.
"Kali ini, aku yang mentraktir kalian ..." Laura menyimpan semua barang belanjaan nya di meja. Farel yang paling antusias langsung melihat isi belanjaan tersebut.
"Itu baju-baju mahal loh, Lala beli khusus buat kalian," seru Jeni.
"Eh kau tidak mau?" tanya Jeni kepada Aris karena sedari tadi Aris menunjukan wajah tidak sukanya kepada Laura.
"Tidak," sahut Aris.
"Ck. Gengsi sekali!"
"Ken, aku beli beberapa kemeja untukmu." seru Laura yang duduk di samping Jeni.
"Makasih Lala, tapi bajuku masih banyak yang bagus."
"Ya tidak apa-apa, buat ganti-ganti kan," sahut Laura lalu memberikan salah satu belanjaanya kepada Kenzo.
Kenzo mengambilnya untuk menghargai pemberian dari Laura. Tapi ia tidak berpikir akan memakai kemeja mahal tersebut.
"Terimakasih Lala," seru Kenzo.
"Terimakasih kak Laura," seru Farel antusias.
Aris masih enggan menyentuh satu belanjaan pun yang di beli Laura. Ia hanya duduk sambil memalingkan wajahnya.
"Tidak perlu gengsi, kalau suka ambil saja," seru Laura.
"Huh dasar malu-malu tapi mau," sindir Jeni.
"Ck, aku lebih baik pakai baju murah saja!"
"Yasudah kalau tidak mau, buat Jeni saja. Ini Jen ..." Laura memberikan semua baju itu kepada Jeni.
"Aw makasih Lala sayang ..."
Aris terlihat kecewa ketika baju itu di berikan kepada Jeni. Laura tersenyum dan Jeni menjulurkan lidahnya kepada Aris.
Bersambung
__ADS_1