M & L

M & L
#Kegalauan Kenzo


__ADS_3

Setelah melihat perempuan yang ia suka menikah dengan pria lain, hidup Kenzo seakan runtuh seketika. Pasalnya, selama ini ia merintis restaurant nya agar menjadi besar itu untuk Laura, ia ingin menjadi kaya raya agar bisa menikahi Laura.


Kenzo terlalu gengsi mendekati Laura disaat dirinya bukan apa-apa, Kenzo masih seorang pengusaha kuliner biasa yang kekayaannya tidak sebanding dengan Keluarga Arsen Zahair Bachtiar.


Apalagi Laura terbilang sukses dengan karier nya sendiri. Dia perempuan yang mandiri yang pasti penghasilan nya melebihi Kenzo.


Pria itu hanya diam di depan balkon kamar sambil meneguk satu botol alcohol di tangan nya, di meja sudah ada tiga botol alcohol kosong dan dua botol alcohol yang belum di buka.


Aris dan Farel hanya menatap tak tega Kenzo di balik jendela. Mereka sudah berusaha membujuk Kenzo agar fokus dengan restaurant lagi saja dari pada memikirkan Laura, tapi pria itu tetap seperti itu tidak berubah sama sekali.


Apalagi saat menikah Laura maupun keluarganya tidak ada yang memberitahu dirinya.


"Aku juga sebenarnya sudah senang karena berpikir akan mendapatkan kakak ipar model. Eh ternyata hanya prank saja!" seru Farel membuat Aris menyikut lengan lelaki itu.


"Kau jangan ikut-ikutan tidak waras seperti kakakmu ya!" hardik Arsen.


"Dari dulu, aku sudah berusaha memperingati kakakmu itu, tidak mudah menikah dengan perempuan dari keluarga kaya raya. Seperti rakyat jelata yang mau menikahi putri bangsawan."


"Berani sekali kau mengatakan kakak ku rakyat jelata, dia juga kaya tau dan dia juga bosmu!"


Aris berdecak. "Ya, tapi di bandingkan keluarga Tuan Arsen dan suami Laura, dia sangat jauh."


Farel menghela nafas. "Sekarang bagaimana? aku tidak mau punya kakak gila!"


"Biarkan saja dulu!" Aris meninggalkan Farel, Farel menatap bergantian kakaknya dan Aris. Alhasil lelaki dua puluh dua tahun itu memilih menyusul Aris dan meninggalkan Kenzo sendirian di balkon.


*


Malam harinya, seperti biasa Kenzo makan malam bersama Farel dan Aris. Mereka selalu makan bertiga karena Kenzo dan Farel tidak mempunyai orang tua sementara Aris memang bekerja dengan Kenzo.

__ADS_1


Farel dan Aris sesekali menatap Kenzo yang makan sedikit demi sedikit seperti makanan tersebut tidak mengunggah selera.


"Tidak enak kak?" tanya Farel karena dirinya yang memasak.


Kenzo mengangguk. "Enak," sahutnya pelan.


"Bos, resep baru dari mendiang Ibumu itu kapan masuk ke restaurant?" tanya Aris berusaha mengalihkan pikiran Kenzo.


"Tanya Farel."


"Hah?" Farel yang tengah asik makan mendongak dengan nasi penuh di mulutnya. "Kenapa aku? biasanya Kakak yang memutuskan. Aku hanya masak saja."


"Kau belajarlah memutuskan sesuatu. Hanya memutuskan kapan makanan masuk restaurant saja," sahut Kenzo.


"Yasudahlah, besok resep Ibu masuk saja ke restaurant. Besok kan hari libur, pasti banyak pelanggan, sekalian buat promosi." Seru Farel.


Karena rumahnya tidak seperti mansion kaya raya, tidak ada pelayan atau membantu. Mereka bertiga mengerjakan semuanya bergantian, Kenzo juga tidak mau menambah pelayan karena ia juga harus menggaji pelayan di restaurant miliknya.


"Kau mau ikut tidak?" tanya Kenzo tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan nya dari tv.


"Kemana kak?"


"Spanyol," sahut Kenzo membuat Farel membulatkan mata dan Aris yang tengah mencuci piring pun terdiam sejenak.


"Apa-apaan ke Spanyol. Dia mau menyusul Laura," gerutu Aris lalu menggelengkan kepalanya dan kembali mencuci piring saja.


"Mau apa ke Spanyol Kak?" tanya Farel.


"Jalan-jalan, kau tidak bosan."

__ADS_1


"Jalan-jalan atau berharap bertemu Kak Laura di sana," gumam Farel pelan yang masih bisa di dengar oleh Kenzo.


Kenzo menatap Farel dengan berdecak membuat lelaki itu hanya bisa cengengesan karena kakaknya mendengar ucapan nya tadi.


*


Malam tadi Kenzo langsung memesan tiga tiket pesawat dan pagi ini mereka akan segera berangkat ke Spanyol.


Mereka bertiga sibuk memasukan baju-bajunya ke koper besar. Kenzo sudah mewanti-wanti kepada Farel agar tidak banyak belanja di Spanyol, itu sebabnya Farel membawa banyak baju.


Mungkin untuk orang lain mempunyai satu restaurant yang lumayan besar sudah terbilang kaya. Tapi untuk Kenzo itu tidak berarti apa-apa jika di bandingkan dengan keluarga De Willson dan para kerabatnya.


"Berapa hari kita di sana?" tanya Aris masuk ke kamar Kenzo.


"Aku tidak tau."


"Jangan sampai kita miskin di sana ya!" Aris memperingati.


"Kau berkata seperti itu seperti merendahkan ku saja!" kesal Kenzo.


"Aku hanya mengingatkan bos hehe ..."


Mereka bertiga langsung pergi menuju bandara. Di dalam pesawat Kenzo hanya diam sambil memalingkan wajah nya ke luar jendela. Farel yang duduk di tengah menyikut Aris di sampingnya.


"Biarkan saja ..." bisik Aris.


Resep mendiang Ibu mereka gagal masuk ke restaurant karena mereka pergi ke Spanyol tapi restaurant Kenzo tetap buka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2