M & L

M & L
#Byanca di penjara


__ADS_3

Orang dengan kekuasaan yang tinggi tidak bisa di lawan. Apalagi kekuasaan itu bergabung menjadi satu dengan kekayaan dan keberanian.


Laura berani menarik pelatuk untuk orang yang menganggu hidupnya. Laura punya kekuasaan karena kerabat dari De Willson dan Laura punya kekayaan yang membuatnya bisa melakukan apapun yang dia inginkan.


"Kau harus bekerja keras untuk membuatmu di segani orang-orang, sekalipun harus dengan cara yang kotor ..." seru Laura kepada Lalita. Pagi ini mereka tengah mengobrol di balkon mansion Magma.


"Aku tidak butuh di segani," sahut Lalita. "Orang yang berharap di segani orang lain selalu mendapat masalah bukan? sepertimu ... Byanca hampir menjebakmu."


"Masalah itu warna dalam hidup," sahut Laura dengan entengnya kemudian ia menyeruput teh di tangan nya.


"Orang yang beriman seperti Winter saja di beri masalah. Apalagi orang sepertiku." Laura tersenyum kecut.


*


Jasmine menangis di samping ranjang adiknya yang masih belum sadarkan diri. Adiknya lumpuh, hal itu membuat Jasmine benar-benar terpuruk, jika nanti Justin bangun apa yang harus ia lakukan untuk menjelaskan semuanya.


Jasmine benar-benar tidak berniat untuk menganggu Laura, ia hanya ingin kerjasama antara perusahaan dan model seperti Laura. Jasmine pun tahu background Laura yang menjadi kerabat De Willson.


De Willson pun terkenal ramah jika masalah bisnis. Mereka memperlakukan rekan bisnisnya dengan sangat baik selama tidak ada yang berniat menyakiti keluarga dan kerabat De Willson.


Jasmine melaporkan Byanca dengan bantuan Laura. Terdengar sangat bodoh memang, Jasmine meminta bantuan kepada Laura yang menembak adiknya.


Tapi di sini, Jasmine menyalahkan Byanca karena mengajak adiknya bekerjasama untuk melecehkan Laura.


Segala bukti di putar balik mengarah kepada Byanca, pistol yang tiba-tiba ada sidik jari Byanca dan para karyawan yang menjadi saksi untuk mengatakan jika yang datang ke perusahaan itu Byanca bukan Laura. Semua cctv di hapus.


Seperti yang Laura katakan, butuh kerja keras untuk membuatmu di segani orang-orang. Sikap Jasmine salah satunya yang tidak bisa melaporkan Laura.


Byanca duduk memeluk lututnya sendiri di dalam jeruji besi, menangis tersedu-sedu dengan dada sesak. Ia berada di balik jeruji besi yang gelap, sendirian.


Kasihan memang, tapi itu salahnya karena menganggu kerabat De Willson.


Beberapa rangkaian kenangan bersama sang Ayah muncul di ingatan Byanca. Sebelum berada di jeruji besi ini, Byanca pernah merasakan bahagia. Hidupnya hanya party di klab menghabiskan uang Ayahnya, pulang ke rumah bertemu dengan sang Ayah dengan wajah ceria.


Awal kehancuran di mulai setelah dirinya tidur bersama Magma dan ingin memiliki Magma seutuhnya.


Lampu temaram di ruangan itu memperlihatkan bayangan perempuan berjalan mendekatinya.


Byanca sontak berdiri dan melebarkan matanya kala melihat Laura berdiri di luar jeruji besi dengan senyuman di wajahnya.


"Kau ---" Tangan Byanca mengepal marah.


Ia menghampiri Laura, menarik-narik jeruji besi itu berharap jeruji besi itu runtuh seketika agar ia bisa mencakar sekali saja wajah Laura.


Laura tertawa. "Itu memperlihatkan otakmu yang bodoh, Byanca! bagaimana bisa kau menghancurkan jeruji besi ini hm?"


"Kau sial*n!! kau menghancurkan hidupku!!" teriak Byanca.


"Kau yang dengan suka rela memberikan hidupmu untuk di hancurkan olehku, Byanca!"

__ADS_1


"KELUARKAN AKU DARI SINI!!"


"Aku hanya bisa mengurungmu di sini, tidak bisa mengeluarkanmu!!"


"LAURAAAA!!" Byanca berteriak frustasi sampai suaranya serak. Matanya berkaca-kaca, wajahnya basah karena tangisan.


"Sebelum aku pergi, aku ingin memberimu kejutan ..."


Laura tersenyum. Ia mengambil ponsel di dalam tasnya kemudian memperlihatkan sebuah video kepada Byanca.


Video dimana Jeni masuk ke ruangan Bram, Ayah Byanca. Kemudian menyuntikan sesuatu ke tangan Bram yang membuat Bram kejang-kejang sampai akhirnya meninggal.


Mata Byanca membulat sempurna. Setetes air mata jatuh dengan perasaan kaget luar biasa.


"Kau ..."


Laura tertawa.


"Kau membunuh Ayahku ..." seru Byanca dengan suara lemah.


"Aku tidak bisa bersikap lembut dengan orang yang menganggu hidupku!!"


"SIAL*N KAU LAURA!!!" teriak Byanca menarik-narik dan memukul jeruji besi tersebut.


"KAU MODEL JAHAT, ORANG-ORANG MENGANGGAPMU WANITA BAIK. TAPI NYATANYA KAU ---"


"Itu alasan kenapa kita tidak boleh merebut milik orang lain!" lanjut Laura.


Laura tersenyum miring kemudian berjalan pergi dari ruangan tersebut.


Dengan nafas menggebu-gebu, Byanca menangis sambil terus meneriaki kepergian Laura.


Kasihan memang, setelah kehilangan sang Ayah. Byanca harus mendekam di penjara tapi itu salahnya.


*


Kenzo berdiri di depan balkon apartemen nya. Ia bingung, kenapa pasport nya di persulit untuk pulang ke Indonesia, bahkan sekarang ia juga tidak bisa pergi ke Negara yang lain.


Seakan-akan Kenzo harus diam di Spanyol. Kerjasama Farel dan keluarga De Willson harus tertunda seketika karena ia tidak bisa pulang.


Pihak bandara mengatakan ada yang salah dengan pasport mereka. Tapi ketika mencoba di perbaiki tetap di persulit.


Lalita keluar dari kamarnya menuju balkon. Kebetulan balkon apartemen Lalita berada di samping Kenzo.


"Kau pemilik @Ikanku itu ya?"


Kenzo menoleh. Ia menaikan alisnya, kenapa Lalita ada di samping apartemen nya.


"Aku tinggal di sini," seru Lalita seakan tahu apa yang ada di pikiran Kenzo.

__ADS_1


"Oh ..." Kenzo mengangguk.


"Kau pemilik @Ikanku itu?" ulang Lalita.


Kenzo tersenyum tipis dengan menganggukan kepala.


"Ah kau tau, aku hampir mual karena makan ikan darimu. Kau selalu mengirim ikan ke mansion daddy ku."


"Mual, karena tidak enak?" tanya Kenzo.


Lalita berdecak. "Karena kekenyangan lah." seru Lalita membuat Kenzo tersenyum.


"Kau mengenali ku?" tanya Lalita.


"Ya, kau kembaran Laura."


"Aku pikir tidak tau. Aku juga tau kau dari dia, dia bercerita saat kecelakaan itu dia tinggal bersamamu. Katanya dia banyak merepotkanmu, dia menghabiskan uangmu ya?"


Kenzo menggeleng. "Tidak."


"Aku tau dia, dia suka sekali shopping."


"Dia di anggap meninggal oleh orang-orang karena ingin menjauh dari suaminya," seru Kenzo yang di jawab anggukan dari Lalita.


"Dia memang seperti itu, keras kepala dan terlalu berani. Sama seperti Mommy."


"Kau tinggal di sini?" tanya Kenzo.


"Aku di suruh ke sini untuk jadi asisten kedua Lala, aku yang mengatur fashion nya kalau ada pemotretan."


"Oh, kau desainer ya?" tanya Kenzo.


"Ya, aku lebih banyak membuat gaun pengantin."


Kenzo mengangguk-ngangguk kemudian mengalihkan pandangan nya menatap langit yang cerah siang ini.


Begitupun dengan Lalita, ia menatap langit dengan menghela nafas panjang. "Kau tau, setelah Lala menikah aku sedikit kesepian karena biasanya kita makan berempat, sekarang jadi bertiga. Lala yang paling berisik, sering debat sama Mommy di meja makan karena membahas hal yang tidak penting."


Aku lebih kesepian karena Laura menikah. (Kenzo membatin)


"Kau juga akan menikah," seru Kenzo kepada Lalita.


Lalita menoleh. "Aku membuat gaun pengantin khusus untukku sendiri. Tapi aku tidak tau kapan akan memakainya."


"Pasti gaun untukmu sendiri di buat lebih mewah."


"Tidak, aku suka yang simpel tapi terlihat elegan." Lalita tersenyum.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2