
Pagi harinya, Laura enggan makan bersama dengan Magma. Perempuan itu mengambil makanan di meja lalu kembali masuk ke kamarnya.
Hal itu membuat Magma lesu seketika, dia sudah lelah memasak dari pagi tapi Laura masih ketus kepadanya. Di ajak berbicara masih tidak mau, bahkan Magma hanya diam menatap makanannya yang perlahan mungkin akan dingin.
Ia beralih menatap pintu kamar istrinya yang tertutup. Kemudian mengambil ponselnya di atas meja dan mengirim pesan kepada Laura.
"Apa makanannya cukup sayang? mau tambah lagi?biar aku antar ke kamarmu."
Tak lama kemudian Laura membalas.
"Cukup!"
Magma mendengus kasar, menyimpan ponselnya kembali dengan kesal. Padahal niatnya ingin menemui Laura tapi istrinya malah mengatakan makanannya cukup.
Satu jam berlalu, Laura tidak keluar dari kamar. Magma mengetuk pintu kamar beralasan ingin mengambil piring kotor.
Tok tok tok
"Sayang, piring kotornya mana? aku mau cuci piring." teriak Magma.
Terdengar suara membuka kunci, Laura membuka pintu kamarnya dan langsung menyodorkan piring kotor untuk Magma. Ketika hendak menutup pintu kembali, Magma menahannya dengan kakinya.
"Pergilah, katanya mau cuci piring!"
"Aku mau bicara denganmu," sahut Magma. "Sebentar saja ..."
"Bicara apa lagi sih?"
"Apa lagi? kita saja belum bicara sayang."
Magma mendorong pintu dengan sedikit keras lalu menyimpan piring kotor di meja dan duduk di sofa. Laura mendengus kasar dan akhirnya duduk di depan Magma.
"Duduk di sampingku saja tidak mau, kau kenapa?" tanya Magma.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin duduk di sini!" sahut Laura memalingkan wajahnya dengan tangan bersedekap dada.
Magma menghela nafas panjang lalu mengelurkannya perlahan. "Begini, kalau kau marah denganku karena aku melarangmu memakai pakaian s*xy saat pemotretan aku minta maaf. Sekarang kau boleh memakai pakaian apapun yang kau inginkan."
Magma merasa, yang terpenting saat pemotretan harus ada dirinya menemani Laura agar istrinya itu aman.
Laura tidak menjawab, perempuan itu masih diam dengan wajah kesalnya.
"Bagaimana?" tanya Magma kemudian.
"Keluarlah, aku tidak ingin melihatmu!"
Jawaban Laura membuat Magma mengernyit dan terkejut. Tidak ingin melihat dirinya, marah Laura sudah berlebihan.
"Laura apa maksudmu? aku suamimu!"
"Ya, aku tau!"
"Lalu kenapa kau tidak mau melihatku?"
"Aku tidak punya alasan untuk itu. Intinya aku tidak mau melihatmu!"
"La ---"
Ucapan Magma terpotong dengan suara ponsel Laura. Laura beranjak dari duduknya, berjalan mengambil ponsel di meja samping ranjang.
"Siapa?" tanya Magma.
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa," sahut Laura lalu menyimpan ponselnya kembali membuat kecurigaan tumbuh dalam diri Magma.
Laura kembali duduk di sofa. "Apa ada hal lain yang perlu di bicarakan?"
Magma tertawa ketus. "Bicaramu seperti dengan orang asing saja!"
"Kalau tidak ada keluarlah, aku ingin istirahat."
"Ini masih pagi dan kau baru selesai makan, mau tidur lagi?"
"Aku ngantuk, memangnya tidak boleh?"
"Jangan bertingkah seperti itu, kau membuatku curiga!"
Laura mendengus kasar. "Curiga kenapa?"
"Siapa yang menelponmu tadi? kenapa kau tidak mengangkatnya?"
"Itu tidak penting! Hanya fans ku."
"Fans?" Magma menaikan alisnya. "Bukankah kau berinteraksi dengan baik dengan Fans mu?"
"Aku sedang malas berbicara dengan pria."
"Apa?!" Magma setengah terkejut. "Pria?apa yang menelponmu tadi pria?"
Laura mengangguk membuat Magma menghela nafas kasar. "Siapa yang mengizinkanmu berbicara dengan pria tanpa urusana pekerjaan, Laura?"
"Kenapa kau mengaturku?"
"Aku suamimu!!"
"Ya, aku tau. Tapi --"
"Kau membentakku?"
Magma beranjak dari duduknya lalu pindah ke samping istrinya, nyali Laura sempat menciut sampai ia sedikit menjauh kala suaminya berada di sampingnya.
"Jangan membuat apa yang aku takutkan terjadi Laura!!"
"Apa yang kau takutkan?"
"Perselingkuhan! Jangan sampai kau sama seperti Ibuku!! Dari awal aku tidak mau menikah karena aku berpikir semua perempuan hanya ingin main-main saja!! Melihatmu berani berinteraksi dengan pria lain tanpa sepengetahuanku ---"
"Itu hanya fansku!!" potong Laura.
"Ibuku berselingkuh dengan teman nya, asisten nya!! siapapun itu jika seorang pria punya kesempatan Laura!!"
"Kau berlebihan Magma!!"
"Kau yang berlebihan!! kenapa jadi seperti ini? kenapa hah? bukankah kau yang mengejarku dari awal, bukankah kau yang ingin menikah denganku sampai menjebakku. Kenapa sekarang seperti ini setelah aku sudah mencintaimu Laura ... Kenapa?"
Laura melihat mata Magma berkaca-kaca. Pria itu menatapnya dengan tatapan sendu setelah tadi berteriak kepada dirinya.
"Aku hanya ingin kau menjelaskan apa salahku atau apa yang kau rasakan terhadapku sekarang Laura ..." lirih Magma.
"Jangan terus mendiamkanku seperti ini. Aku tidak pintar menebak perasaan wanita. Kau marah kepadaku, beritahu aku apa alasannya!"
"Kau mau tau apa alasannya?" seru Laura. "Aku mual melihat wajahmu."
Magma mengernyit seketika. "Apa?"
__ADS_1
"Bisakah kau ganti saja penampilanmu ini?" Bola mata Laura menatap Magma dari atas sampai bawah.
"Mungkin penampilanmu yang membuatku mual. Atau gaya rambutmu atau bentuk tubuhmu. Apa saja, gantilah kalau bisa." Laura memalingkan wajahnya seakan matanya tidak mau melihat wajah Magma lama-lama.
"Salah tubuhku apa Laura dan bagaimana cara merubah bentuk tubuh?" Magma tiba-tiba mencoba mencerna ucapan istrinya itu.
"Aku tidak tau, aku hanya minta kau mengubah penampilanmu saja!" Laura beranjak dari duduknya pergi ke kamar mandi membuat Magma lagi-lagi hanya bisa menghela nafas.
*
Sore harinya Magma kembali ke apartemen setelah mencukur rambutnya. Kini rambutnya tidak gondrong lagi, brewoknya juga ikut di cukur.
Laura yang tengah membaca majalah di sofa mendongak lalu mengernyit ketika melihat pria yang terlihat muda tersenyum ke arahnya.
"Kau siapa?" tanya nya sambil menutup majalah di tangan nya.
Senyum di wajah Magma memudar seketika. "Sayang ini aku."
"Magma?"
Magma mengangguk.
Laura yang tak percaya menatap dari atas sampai bawah penampilan baru suaminya. Kemudian ia menggelengkan kepala beberapa kali.
"Kenapa kau jadi seperti ini ..."
Magma mendengus. "Bukankah kau ingin penampilanku berubah sayang?"
"Ya, tapi aku tetap mual."
Laura tiba-tiba berlari ke kamar dengan menutup mulutnya.
"Sayang kau kenapa?"
BRAKH
Ketika hendak masuk, Laura langsung menutup pintu kamarnya dengan keras membuat Magma terhenyak kaget.
Magma tidak berhenti untuk mencari tahu kenapa istrinya tiba-tiba tidak mau dekat dengannya. Tanpa kehabisan akal, ketika malam hari Magma masuk ke kolong kasur Laura ketika perempuan itu tengah berada di kamar mandi.
Pengap, itu yang pria itu rasakan. Badannya yang besar di paksa masuk ke kolong kasur yang sempit yang membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.
Magma menoleh kala melihat kaki Laura berjalan menuju ranjang. Ia tersenyum.
Demi dirimu, kolong kasur ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kemarahanmu kepadaku sayang.
Laura menguap dengan menutup mulutnya menggunakan punggung tangan.
"Rasanya nyaman sekali tidur sendirian," gumam Laura yang di dengar oleh Magma.
"Kenapa aku jadi suka tidur tanpa Magma ya. Kalau setiap hari seperti ini, lama-lama aku minta cerai kepada dia."
Magma langsung melebarkan matanya mendengar gumaman istrinya.
"Tapi soal artikel itu ..."
Artikel apa sayang, kau membaca artikel apa. Cepat katakan aku sudah ingin keluar dari sini!
"Masa aku hamil."
"Hamil," gumam Magma pelan dengan mata membulat sempurna.
__ADS_1
Bersambung