M & L

M & L
#Memperhatikan istrinya shopping


__ADS_3

"Lala ..."


Miwa mengetuk pintu kamar anaknya. Satu kali, dua kali, tidak ada jawaban sampai Miwa mencoba kembali mengetuk pintu akhirnya Laura keluar dari kamar.


"Mom ..."


"La, Lala baik-baik saja?" tanya Miwa tersirat nada khawatir dalam ucapannya.


Laura mengangguk kecil.


"Jangan bohong, Mommy tau Lala lagi kesal. Kesal dengan siapa? Magma kan?"


"Kok Mommy tau sih?" Laura balik bertanya membuat Miwa berdecak.


"Ya siapa lagi kalau bukan dia yang bisa bikin Lala kesal. Dia saja bisa bikin putri Mommy ini jadi babu!"


Laura berdecak mendengarnya lalu kembali masuk ke kamar. Mendengar kata 'babu' membuat Laura semakin kesal karena otaknya langsung memutar hari dimana dirinya jadi babu di mansion Magma.


Miwa ikut masuk ke kamar Laura dan duduk di samping putrinya yang kini tengah membaca majalah untuk mengalihkan pikirannya.


"Cerita dong sama Mommy. Lala ini kenapa? ada masalah apa? Lala tidak boleh stress loh, bahaya untuk Ibu hamil."


Mendengar ucapan itu, Laura menghela nafas kasar. Ingin sekali ia berteriak kepada Ibunya kalau dirinya belum hamil.


"La ---"


"Mom ..." Laura menoleh setelah menutup majalahnya. "Pertengkaran kecil, tidak perlu dibahas. Lala kesini untuk menenangkan diri, jadi Mommy tidak perlu banyak bertanya, oke?"


"Tapi Mommy khawatir dengan ---"

__ADS_1


"Mom cukup!" potong Laura. "Aku baik-baik saja dan kandunganku baik-baik saja, jangan berpikir negatif lah Mom!"


Dengan kesal Laura kembali membuka majalahnya sambil menggerutu dalam hati.


Mau sampai kapan aku berakting menjadi Ibu hamil di depan Mommy dan Daddy. Ini semua gara-gara Magma, ish pria itu menyebalkan.


Miwa menghembuskan nafas melihat putrinya sibuk melihat pakaian dan beberapa tas di majalah. Miwa tahu cara membuang kekesalan dalam diri Laura. Yaitu, mengajaknya shopping.


"Eh, La. Tas yang itu ada di mall hari ini." Miwa menunjuk salah satu tas di majalah tersebut.


"Beneran Mom? loh, dari kapan? kok Lala engga tau?"


Perempuan di keluarga Bachtiar semuanya penyuka fashion dan barang-barang mahal. Hal itu terkadang membuat Arsen mengeluh ketika Miwa, Laura dan Lalita berbelanja di mall. Seakan tiga perempuan itu langsung menguras habis uang di rekeningnya.


"Udah seminggu yang lalu tau. Kemarin terakhir Mom ke mall, tas yang putih ini belum terjual satupun. Katanya terlalu mahal. Beli yuk?"


Laura langsung mengangguk dengan semangat. "Ayo Mom."


"Magma sebenarnya bisnis apa sih sampai menahan Lita di Spanyol, La?" tanya Miwa dengan pandangan fokus ke jalanan.


"Gaun pengantin."


"Hah?" Miwa menoleh sejenak ke samping lalu kembali fokus ke jalanan. "Beneran, La? Kenapa tertarik bisnis gaun pengantin?"


"Ya ..." Hening sejenak, Laura sedang mencari alasan. "Lala juga tidak tau, Mom. Mungkin hanya coba-coba saja siapa tau sukses dengan bisnis gaun pengantin. Iya kan?"


"Terus kenapa harus Lita?"


"Lita kan hebat di bidang itu, Mom. Apa salahnya membantu, toh juga di bayar."

__ADS_1


Miwa mendengus dengan menggelengkan kepala beberapa kali. Padahal dulu Lalita lebih suka diam di butik dari pada bekerja dengan orang lain. Mungkin karena ini suami kembarannya yang menyuruh jadi Lalita mau. Itu yang di pikiran Miwa.


Aku tidak mungkin bilang kalau aku dan Magma menjodohkan Lita dan Kenzo. Lagi pula hubungan mereka lama sekali berkembangnya, masa sampai detik ini belum pacaran juga.


*


Sesampainya di mall mereka langsung memilah-milah tas yang mereka inginkan. Awalnya tas putih yang ada di majalah tapi mereka juga tertarik dengan tas yang lain membuat Ibu dan anak itu berencana membeli tas lebih dari satu.


Seorang pria berdiri dari kejauhan memperhatikan dua perempuan yang tengah asik berbelanja tas. Pria itu tersenyum tipis, ketika melihat salah satu pelayan wanita keluar dari toko tas tersebut. Ia menghampiri wanita itu.


"Hei kau."


Wanita tersebut terhenti dan membalik. Ia menaikan alisnya. "Saya Tuan?"


Pria tersebut mengangguk. Wanita itu berjalan lebih dekat.


"Kau lihat dua perempuan itu?" keduanya mengalihkan pandangannya ke toko.


"Dia istri dan mertuaku. Berikan tas apapun yang mereka inginkan dan bilang saja semuanya gratis!"


Mata wanita itu membulat. "B-beneran Tuan?"


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika semua barang di toko nya terjual habis. Bos nya pasti akan bangga dan memberikan bonus besar.


Magma mengangguk samar membuat wanita itu tersenyum kemudian segera masuk kembali ke toko. Padahal wanita itu hendak pergi ke kamar mandi tadi.


Marah kepada istrinya begitupun Laura yang marah kepada Magma. Membuat pria itu tidak mau menghampiri Laura apalagi ada Miwa sang mertua.


Magma takut Laura marah di depan Miwa, jadi lebih baik memperhatikan istrinya itu dari kejuhan. Pria itu mengulas senyum di wajahnya ketika melihat Laura dan Miwa terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


"Aku pikir kau tidak suka yang gratisan," gumam Magma seraya terkekeh pelan menatap istrinya.


Bersambung


__ADS_2