
Maaf baru up, nenek saya sakit beberapa hari dan baru meninggal kemarin. Mohon doanya semoga husnul khotimah🙏
*
"Sayang, aku berencana memberikan adik untuk mereka," seru Magma memeluk Laura dari belakang. Perempuan itu tengah mematut dirinya di depan cermin sambil menyisir rambut.
Laura menghela nafas kasar. "Mereka saja belum ada enam bulan di perutku. Kau sudah memikirkan adiknya!"
"Sayang, si tukang masak itu tidak boleh punya anak lebih banyak dari kita!"
"Paling banyak tiga, itu yang dulu Lalita katakan kepadaku."
"Kalau lebih dari tiga bagaimana?"
Laura berdecak kemudian berbalik menatap suaminya. "Kau mau anak banyak karena takut kalah saing saja?"
"Aku ingin selalu lebih unggul dari pria itu sayang. Lagi pula anak banyak tidak masalah, masa depan nya sudah terjamin."
"Padahal kau bilang mau satu dulu ..." gerutu Laura lalu keluar dari kamarnya.
"Sayang ..." Magma menyusul istrinya.
Ketika keluar dari kamar pria itu sontak terbelalak dengan mengangkat kedua tangan nya kala Laura menodongkan pistol ke arahnya.
"Sayang ..." Magma menelan saliva nya susah payah.
"Taruh apel di atas kepalamu," seru Laura.
Magma menggeleng. "Jangan lagi, jangan lagi sayang. Satpam akan kembali datang dan menuduh kita melakukan pembunuhan. Ini bukan wilayahku, aku tidak terlalu berkuasa di sini!"
"Tenanglah ... Kerabatku yang berkuasa. Simpan saja apelnya, aku suka sekali mendengar suara tembakan."
Terdengar aneh, tapi entah kenapa Laura sangat suka mendengar suara tembakan. Ia spontan tersenyum jika suara tembakan itu menusuk telinganya. Seperti alunan lagu yang terdengar merdu di telinga.
"Sayang jangan mengidam yang aneh-aneh." Magma berkata dengan raut wajah memohon, kedua tangan nya masih belum di turunkan.
"Turuti saja!" hardik Laura.
"Tapi ---"
"Ambil apelnya atau kepalamu yang aku tembak!"
Magma menghela nafas panjang, mengambil apelnya di meja kemudian menaruhnya di atas kepala. Pria itu berdiri tegak dengan wajah datar, walau sebenarnya jantungnya berpacu dengan cepat antara hidup atau mati.
Laura tersenyum miring kemudian membidikkan pistol itu ke apel di atas kepala suaminya. Perempuan itu terlihat mencoba fokus, gagal sedikit saja kepala Magma yang jadi taruhan.
"Siap ya ..." Laura mulai menarik pelatuk dengan menajamkan penglihatannya.
DOR
Magma sontak memejamkan matanya ketika peluru itu menembak apel di atas kepalanya. Kalau istrinya bukan Laura, tidak akan pernah Magma membiarkan istrinya menembak.
__ADS_1
*
Magma tertidur di sofa sementara Laura baru keluar dari kamar mandi. Ia terdiam sejenak kala melihat suaminya tertidur.
Perlahan perempuan itu mendekati suaminya lalu duduk di samping Magma. Laura menyunggingkan senyumnya kemudian kembali beranjak untuk mengambil selimut tapi kemudian tangan Magma menahan tangan nya.
"Naik," pinta Magma dengan mata perlahan terbuka.
"Apa?"
"Mau mengambil selimutkan?" Laura mengangguk.
"Aku tidak butuh, jadilah selimut untukku. Naik." pria itu menepuk-nepuk dada bidangnya.
Laura melepas sandal yang di kenakan kemudian naik ke atas tubuh suaminya.
Magma tersenyum, memeluk erat istrinya.
"Aku sudah menyiapkan nama untuk mereka. Tripel M. Bagaimana sayang?"
Laura mengangkat kepalanya mendongak menatap Magma. "Tripel M?" perempuan itu mengernyit.
"Ya, perempuan atau laki-laki. Dari huruf M, bagaimana sayang?"
"Terserah kau saja." Laura kembali tertidur di dada Magma.
Magma tersenyum senang, mencium puncak kepala istrinya.
Ponselnya di atas meja bergetar panjang tanda panggilan masuk dari seseorang. Magma mengulurkan tangannya mencoba meraih ponsel tersebut dengan Laura yang kini sudah memejamkan mata.
"Hallo, mertua."
Arsen berdecak. "Dimana Laura?"
"Ini di atasku."
"A-atas?" pikiran Arsen melayang ke hal-hal negatif.
"Ada apa Ayah mertua? Jangan berpikir hal yang kotor, putrimu hanya tidur di atas tubuhku."
"Apa kau ini, siapa yang memikirkan hal kotor!"
Magma terkekeh geli. "Aku tau isi pikiranmu!"
"Lupakan! Nanti malam ada makan malam di sini karena Lalita akan pergi dan tinggal di rumah Kenzo. Kalian datanglah untuk makan malam bersama."
"Aku tidak mau ayah mertua," sahut Magma sambil memainkan rambut mertua.
"Aku tidak perduli hubunganmu dengan Kenzo seperti apa. Tapi jangan menjauhkan putriku dari keluarganya. Sekarang kita semua keluarga, tidak boleh ada yang bermusuhan!"
Magma menghela nafas panjang, bertemu dengan Kenzo. Malas sekali.
__ADS_1
"Bilang kalau kita akan datang," seru Laura dengan mata yang masih terpejam.
"Kita akan datang." Magma berkata pelan kepada Arsen.
"Bagus. Jangan telat!"
Panggilan berakhir, pria itu kembali menyimpan ponselnya di meja.
Laura membuka mata dan mengangkat kepalanya mendongak menatap Magma. "Daddy ku benar, kita keluarga sekarang."
"Iya iya sayang, dari pada kau marah aku menurut saja."
Cup.
Pria itu mengecup bibir istrinya.
"Sudah lama ya sayang ---"
"Jangan macam-macam, aku sedang hamil!"
Magma mendengus. "Aku ingin kandunganmu sembilan bulan secepatnya agar aku bisa sering-sering mengunjungi mereka." Magma tersenyum menggoda.
"Apa maksudmu?"
"Kau lupa hm? Dokter bilang harus sering-sering di kunjungi nanti agar cepat keluar!"
"Alasan saja!" pekik Laura membuat Magma terkekeh.
*
Makan malam itu di adakan di mansion Arsen. Makan malam untuk melepas Lalita pergi bersama suaminya, dulu setelah Laura menikah tidak ada makan malam khusus seperti ini sebab Magma yang saat itu menolak dan ingin cepat-cepat pergi ke Spanyol.
Ketika Magma dan Laura masuk, matanya langsung tertuju kepada Kenzo yang duduk di meja makan bersama yang lain.
Laura menarik lengan suaminya ketika tersadar Magma melayangkan tatapan permusuhan kepada Kenzo.
"Hai, Dad Mom ..."
"Hai sayang." Miwa berdiri menyambut putrinya, memeluk Laura. Begitupula dengan Arsen, sementara Magma sudah duduk di kursi yang berada di depan Kenzo.
Tatapan mata pria itu tidak pernah lunak menatap pria di depannya. Sorot mata yang di penuhi kebencian sebab pria di depannya ini pernah menyukai istrinya.
"Seperti kucing dan anjing saja," gumam Lalita sambil menggelengkan kepala beberapa kali melihat tatapan dua pria tersebut.
"Oke, semuanya sudah datang. Kita makan sekarang," seru Arsen.
Arsen dan Miwa membuka piring di depannya sementara Laura menyikut Magma seraya berbisik. "Jangan cari masalah. Makanlah!"
Lalita juga berbisik kepada Kenzo. "Tidak perlu di lihat, anggap saja pria di depanmu itu hantu."
Sontak Magma dan Kenzo kompak menganggukan kepala bersamaan mendengar bisikan istri mereka.
__ADS_1
Ketika tersadar mereka menganggukan kepala bersamaan spontan Magma dan Kenzo saling melotot. Laura dan Lalita mendengus kasar dan menepuk jidatnya melihat suami mereka itu.
Bersambung