
"Magma mau kemana?" Dengan langkah cepat menuruni anak tangga Laura menghampiri Magma yang hendak pergi keluar padahal sekarang sudah pukul delapan malam.
Magma berbalik. "Berhenti!"
"Mau kemana?" ulang Laura yang kini berhenti tepat di depan Magma. Sangat dekat sampai ujung sepatu yang di kenakan Magma menempel dengan ujung sendal Laura.
Padahal tadi Magma sudah menyuruh perempuan itu berhenti agar tidak terlalu dekat dengan nya.
Magma menghela nafas kasar lalu mendorong wajah Laura dengan telapak tangan nya yang besar membuat Laura mundur beberapa langkah.
"Jaga jarak!"
"Eh aku tidak punya penyakit menular ya. Kenapa harus jaga jarak segala!" Laura menekuk wajahnya.
"Laura ..."
"Hm?" sahut Laura yang senang namanya di panggil.
"Ini Spanyol. Lebih baik kau pergi dari mansion ku, cari suasana baru, tinggal di hotel dan pergi jalan-jalan. Bukan diam di mansion ku seperti ini padahal aku sudah memecatmu! kenapa kau masih belum mengerti juga!"
"Kontrak kerjaku lima tahun." Laura tersenyum miring dengan mengangkat telapak tangan nya. "Kau tidak bisa memutuskan kesepakatan bekerja kita sepihak seperti itu, Magma!"
"Kalau kau tau, kau bekerja denganku! tidak perlu ikut campur urusanku, mengikutiku kemanapun aku pergi dan bertanya aku kemana!!"
"Yasudah ..." Laura menghembuskan nafas. "Kalau tidak mau mengatakannya kepadaku, izin dulu dong dengan Mommy Bayuni atau Daddy Benjamin. Bilang kau mau kemana, kau tidak takut mereka khawatir?" Itu hanya alasan Laura agar Magma mau jujur kemana pria itu akan pergi.
Dengan geram Magma menunjuk dirinya sendiri. "Eh, aku ini bukan anak kecil umur lima tahun ya!"
"Ya memang. Tapi kan--"
"Jangan mengikutiku!" potong Magma berbalik meninggalkan Laura. Laura mengejar langkah kaki Magma tapi si*lnya Magma lebih dulu masuk ke mobil dan melajukan mobilnya keluar dari kawasan mansion.
"MAGMAAAAA ..." teriak Laura.
Deru mobil Lamborghini berwarna hitam itu perlahan menjauh dan menghilang membuat Laura menghela nafas kasar.
"Aku takut dia main wanita lagi," gumam Laura menatap jalanan dengan tatapan kecewa karena tidak bisa mencegah Magma.
*
__ADS_1
Magma menyuruh Laura untuk jalan-jalan tapi perempuan itu kini sedang menggerutu kesal karena ternyata dirinya tidak bisa keluar dari mansion. Para penjaga menghalau nya, Laura yakin Magma pergi ke klab untuk bermain wanita lagi dan mengurung Laura agar tidak menganggu.
"Laura ..." Benjamin menuruni anak tangga menghampiri Laura yang tengah gelisah duduk di sofa sendirian.
Laura menoleh. "Daddy ..."
"Kenapa? baik-baik saja kan?" tanya nya setelah duduk di samping Laura.
Laura mengangguk samar membuat Benjamin tak yakin kalau Laura baik-baik saja.
"Khawatir dengan Magma?" tanya Benjamin.
"Hah?" Alis Laura terangkat naik. "Hehe ... tidak Daddy." Laura tersenyum samar.
"Jujurlah ... Daddy sudah tau dari Bayuni."
Laura menunduk merem*s ujung baju yang di kenakan nya karena merasa malu.
Benjamin terkekeh. "Daddy melihatmu di tv sangat percaya diri Laura ... di sini kok malu-malu."
"Ah masa sih, Dad. Perasaan sama saja." Laura tersenyum canggung sambil mengusap tengkuk lehernya.
"Iya sih Dad tapi--"
"Dad tidak bermaksud untuk tidak mendukungmu dengan Magma. Tapi Dad khawatir ada pertengkaran antara keluarga Dad dan keluarga De Willson, Ibumu kan adiknya Tuan Maxime ..."
Berbeda dengan Bayuni, ucapan Benjamin sedikit menyakiti hati Laura. Laura merasa Benjamin benar-benar tidak mendukung hubungannya dengan Magma. Padahal ucapan Bayuni sebelumnya seolah-olah menunjukan kalau Benjamin juga mendukung.
"Tapi Dad--"
"Kau wanita karir yang sukses, punya jutaan fans. Carilah pria yang lebih baik untukmu Laura ..."
Laura menggeleng pelan, dari ucapan Bayuni tadi ia pikir Benjamin juga akan mendukungnya tapi ternyata ia salah.
"Kau dan Magma seperti. Kau putih dan Magma hitam ... Kau bersih dan Magma ---"
"Kochor!" potong Jeni yang tiba-tiba duduk di depan mereka dengan tangan bersedekap dada dan duduk dengan menumpangkan satu kakinya di kaki yang lain.
"Kau siapa?" tanya Benjamin. Benjamin tidak tahu Jeni karena dari awal masuk ke mansion Magma, Jeni lebih banyak diam di luar menggoda para anak buah Magma.
__ADS_1
Laura berdehem lalu memperkenalkan Jeni. "Dad, dia Jeni. Asistenku ..."
"Loh, kok baru lihat. Tidur dimana semalam? tadi pagi sarapan dimana?"
"Semalam akoh bergadang Tuan ..." Jeni pun melanjutkan nya dengan bernyanyi. "Bergadang jangan bergadang ... kalau tiada artinya ... bergadang boleh saja .. oooo."
BUGH
"Auuwwww ... kena lagih ... kena lagih ... sakit ih!" keluh Jeni.
Bibir Jeni yang tengah monyong karena bernyanyi di timpuk sepatu oleh Magma yang baru masuk mansion.
"Magma." Laura berdiri, begitu lupa dengan Benjamin.
"Jangan bernyanyi di mansionku!" sentak Magma kepada Jeni.
"Ih, Jeni jawab pertanyaan Tuan Benjamin tau, bukan nyanyi," sahut Jeni dengan menekuk wajahnya sambil menggosok bibirnya pelan yang terasa ngilu.
"Magma kau darimana?" tanya Benjamin.
"Dari luar," sahut Magma sambil melengos meninggalkan mereka berjalan menaiki anak tangga dengan memakai satu sepatu saja.
"Iyalah, semua orang juga tau dia dari luar, makannya masuk ke dalam," gerutu Jeni dengan kesal.
Benjamin berdecak sambil menggelengkan kepala melihat punggung Magma yang menuju kamarnya.
"Dad, aku menyusul Magma dulu."
"E-eh tapi ..." Belum selesai Benjamin bicara Laura sudah berlari ke atas. Padahal Benjamin hendak melarang Laura untuk mengikuti Magma ke kamarnya.
Jeni pun berdiri dari duduknya dengan kesal membuat Benjamin mengernyit. Kemudian Jeni menghentak-hentakan kakinya kesal sambil memanyunkan bibirnya cemberut membuat Benjamin mengerutkan dahinya bingung.
"Kau laki atau ..." Benjamin menggantung kalimatnya menunggu jawaban Jeni.
"Banci ih, masa ga keliatan," sahut Jeni lalu berjalan keluar dari mansion.
Benjamin menatap kepergian Jeni dengan ternganga. Kenapa ada lelaki seperti Jeni.
"Jujur sekali dia ..." Benjamin menggelengkan kepalanya beberapa kali.
__ADS_1
Bersambung