M & L

M & L
#Merestui


__ADS_3

Setelah mengobrol cukup panjang dengan Kenzo membahas karir mereka masing-masing dengan Laura yang menjadi seorang model dan Kenzo yang menjadi pembisnis kini obrolan mereka terhenti ketika Jeni datang ke restaurant.


"Lala yuhuuuu ..." teriaknya dengan suara khas banci nya. Ia mengedarkan pandangan nya mencari sosok Laura tapi yang Jeni dapatkan justru malah tatapan julid para pengunjung cafe yang lain.


Sebab Jeni memakai hotpants dan baju putih model sabrina, rambutnya memakai Wig hitam pendek, lipstik merah membuat bibirnya semakin cetar dan tak lupa make up yang terlihat seperti mirip ondel-ondel di pikiran para pengunjung.


Laura dan Kenzo menoleh ke arah suara. Laura menggelengkan kepalanya, lagi-lagi ada buah d*da palsu yang menghiasi tubuh kurus Jeni.


"I-itu siapa?" tanya Kenzo yang mendengar Jeni memanggil nama Laura.


"Kau tidak tau? dia kan cukup terkenal juga sama sepertiku," sahut Laura.


"Jeni?" satu alis Kenzo terangkat naik. Laura mengangguk dengan terkekeh karena tahu Kenzo pasti kaget melihat penampilan Jeni sekarang. Jeni sendiri memang terkenal di kalangan fans Laura.


"Dulu dia tidak terlalu parah. Sekarang penampilan nya lebih mirip perempuan."


"Kau saja yang jarang memperhatikan dia. Dia dari dulu memang seperti itu," sahut Laura.


"Nah itu dia," seru Jeni ketika matanya berhasil mendapati tempat duduk Laura. Dia berjalan menghampiri Laura dengan menghiraukan mata-mata pengunjung yang julid terhadapnya.


Jeni menarik kursi dan duduk bergabung bersama Laura dan Kenzo. Dengan tangan bersedekap dada ia menatap Kenzo dari atas sampai bawah dengan tatapan mengintimidasi.


"Pengganti Magma, La?" celetuk Jeni kepada Laura.


"Ish, bukan lah," sahut Laura membuat dahi Kenzo mengernyit. Siapa Magma.


"Ken, aku pulang duluan ya."


"Iya Laura, hati-hati."


Laura mengangguk kemudian berdiri dari duduknya. "Ayo Jen."


Sebelum pergi menyusul Laura, Jeni mencolek dagu Kenzo membuat pria itu terhentak kaget seketika.


"Bye, ganteng ..." Jeni tersenyum lalu menyusul Laura yang sudah berjalan lebih dulu.

__ADS_1


Kenzo langsung mengusap-ngusap dagu nya sendiri sambil berdecak menatap kepergian Jeni yang berjalan dengan pinggang melenggak-lenggok.


"Magma, siapa Magma ..." gumam Kenzo.


*


"Aku tetap tidak akan memberi restu untuk Laura, Kak." Miwa berbicara dengan kesal kepada Maxime yang kini berada di kediaman nya. Laura duduk di samping Maxime, sementara Arsen duduk di samping Miwa dengan tangan bersedekap dada dan menatap tajam putrinya karena berani meminta bantuan kepada Maxime.


"Aku mengerti, tapi putrimu ini sama sepertimu Miwa. Kau dulu juga mengejar-ngejar Arsen, tidak mau pria lain selain dia kan." Ekor mata Maxime kini menatap Arsen.


Arsen hanya bisa menghela nafas.


"Arsen dan Magma berbeda. Aku tidak yakin Magma bisa mencintai Laura. Sekarang saja yang tergila-gila Laura bukan dia! Bagaimana kalau Laura sampai di sakiti kalau terus menganggu Magma!"


"Dia tidak akan melakukan itu, menyakiti fisiknya tidak mungkin karena Magma tidak akan berani melakukan nya. Ada Yura yang masuk ke keluarga De Willson, setidaknya hal itu membuat Magma tidak berani menyakiti keluarga De Willson dan kerabatnya."


"Tapi soal hati ..." Maxime menoleh ke arah Laura di sampingnya. "Kalau Magma tidak bisa menjaga hati Laura, itu urusan putrimu karena ini pilihan nya. Dia sudah dewasa ..."


Laura menatap Maxime kemudian beralih menatap Miwa lalu menganggukan kepala. "Iya Mom, aku akan mengurus pernikahan ku sendiri nanti. Dan aku akan membuat Magma mencintaiku."


"Mom saja bisa menaklukan Dad, masa aku tidak. Aku kan keturunan Mom ..." Laura tersenyum dan terus berusaha membujuk kedua orang tuanya.


Hening beberapa detik. Maxime dan Laura menunggu jawaban dari Miwa dan Arsen yang kini tengah berpikir.


"Bagaimana?" tanya Maxime.


"Aku merestui," seru Arsen membuat mata Laura sontak berbinar senang.


"Sayang!" bentak Miwa.


"Maxime benar, dia sudah dewasa. Dia bisa menentukan pilihannya sendiri, asalkan ..." sorot mata Arsen kini menatao Laura.


"Jika pernikahan nya tidak baik-baik saja. Aku sebagai Ayah tidak akan mau membantunya karena walaupun merestui pernikahannya dengan Magma, aku masih belum ikhlas!"


"Kau dengarkan ucapan Ayahmu," bisik Maxime kepada Laura.

__ADS_1


"Dad tenang saja, aku bisa mengatasi pernikahanku sendiri, aku yakin Magma akan mencintaiku ..."


Miwa menghela nafas panjang dan mengeluarkan nya perlahan untuk menetralisir amarahnya. Ia bahkan membuang muka dari wajah putrinya sendiri.


Lalita diam-diam mengintip di balik dinding, ia menggelengkan kepala dengan sikap Laura yang keras kepala.


"Sekarang, bagaimana caramu bisa menikah dengan Magma?" tanya Maxime.


"Aku ada ide ..."


Laura pun membahas ide nya tersebut dengan Arsen, Miwa dan Maxime membuat mereka bertiga cukup terkejut dengan ide Laura.


*


Pagi harinya Lail mengetuk pintu kamar Magma yang masih berada di Spanyol. Lail menghela nafas panjang menatap kertas putih di tangan nya, wajahnya terlihat gelisah dan tidak tenang.


Magma membuka pintu dengan wajah baru bangun tidur. Dia seperti biasa, tidak memakai baju ketika tidur dan hanya memakai celana pendek saja.


"Ada apa?" tanya Magma dengan suara serak khas baru bangun tidur.


"A-ada yang perlu anda tanda tangani Tuan. Ini soal hubungan kerja antara anda dan Tuan Charlotte."


"Bukankah sudah di tanda tangan," sahut Magma.


"Maaf Tuan, ini salah saya ... kertas perjanjian itu robek karena tidak sengaja ketumpahan air. Jadi saya membuat yang baru, isinya sama ..."


"Mana ..." pinta Magma. Lail pun memberikan kertas dan pulpen kepada Magma.


Magma menanda tangani kertas tersebut dengan menempelkan kertas itu di dinding lalu memberikan nya kepada Lail dan setelah selesai ia kembali menutup pintu kamar untuk melanjutkan tidurnya.


Lail menghela nafas lega, akhirnya Magma tidak curiga.


"Maaf kan aku Tuan ..." lirih Lail lalu pergi dari kamar Magma.


Bersambung

__ADS_1


,


__ADS_2