M & L

M & L
#Merawatnya


__ADS_3

"Dia hanya kelelahan dan dia juga dehidrasi," ucap seorang Dokter yang baru saja keluar dari ruangan memeriksa keadaan Laura.


"Apa dia harus di rawat?" tanya Magma.


"Tentu saja, selama beberapa hari biarkan dia di sini."


Magma tak bertanya lagi, ia menganggukan kepala kemudian Dokter itu pun pamit untuk kembali memeriksa pasien yang lain. Pria itu pun masuk ke ruangan istrinya.


Laura tengah menatap ponsel di tangan nya, Byanca mengirim foto dimana perempuan itu tengah shopping bersama Magma. Laura yakin, itu foto tadi siang.


"Kenapa kau bisa dehidrasi?" tanya Magma membuat Laura terlonjak kaget lalu memasukan ponselnya ke dalam selimut. Ia tidak sadar kapan Magma masuk.


"Aku bertanya Lala!"


"Aku bangun jam tiga pagi, bersih-bersih, menyiapkan makan sampai kelelahan dan sudah kelelahan kadang aku tidur, tidak banyak minum air seperti dulu. Malamnya kau terus meminta di pijat."


Magma menghela nafas. "Istirahatlah." pria itu berjalan duduk ke sofa dengan pandangan menatap istrinya yang duduk di ranjang sambil meluruskan kakinya.


Laura hanya diam, pikiran nya penuh dengan pertanyaan apa yang di lakukan Magma dengan Byanca saat di mall. Pasti bukan hanya shopping saja, tapi makan bersama sambil bercanda.


"Istirahat!" titah Magma.


Laura mendelik. "Hmm!" seru nya lalu merebahkan dirinya di ranjang, tidur dengan membelakangi Magma.


Satu jam berlalu, beberapa kali Laura ganti posisi. Dari tidur menyamping menjadi terlentang kemudian kembali menyamping lagi lalu duduk sambil menghela nafas kasar.


Magma yang melihat itu menjadi kesal karena Laura bukannya tidur tapi bergerak tidak jelas dari tadi. Alhasil pria itu menghampiri istri nya yang tengah duduk sambil memandang ke luar jendela menatap lorong ruangan yang kosong.


"Geser!" pinta Magma.


Laura menoleh. "Hah?" alisnya terangkat naik tidak mengerti.


"Aku bilang geser," ulang Magma.


Laura menggeser ke samping lalu Magma pun naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya di samping Laura. Laura menatap Magma dengan alis yang terangkat naik, ia heran kenapa Magma malah tidur di ranjangnya.


"Apa sofa nya kurang luas?" tanya Laura.


Magma tidak menjawab, ia malah menarik ke belakang pundak Laura membuat perempuan itu terbaring di lengan Magma.

__ADS_1


Laura yang kaget melebarkan matanya. Magma sontak langsung menutup mata Laura dengan tangan nya yang melingkar di leher perempuan itu. Sementara tangan yang lain menarik selimut, menyelimuti mereka berdua.


"Aku akan mencekikmu kalau kau tidak tidur!" ancam Magma.


"Kenapa menutup mataku?"


"Aku akan melepasnya kalau kau sudah tidur," sahut Magma.


Akhirnya mereka tidur bersama di ranjang, biasanya saat di kamar Magma, pria itu tidur telungkup atau tidur membelakangi Laura. Tapi kini, Laura tidur di lengan Magma.


Dua puluh menit kemudian Magma mencoba mengintip dengan menjauhkan tangan nya yang menutupi mata Laura.


Ia menghela nafas ketika sudah memastikan Laura tidur. Kemudian tangan Magma masuk ke dalam selimut ketika merasa ada sesuatu di bawah tubuhnya.


Dan ternyata itu ponsel Laura, ketika Magma mengambilnya ponselnya tidak sengaja menyala dan Magma melihat Byanca mengirim foto dirinya saat tadi siang mengantar perempuan itu shopping untuk keperluan pemotretan.


Magma menoleh ke samping, sekarang ia mengerti, mungkin Laura tadi grasak-grusuk tidak jelas karena melihat foto yang di kirimkan Byanca.


Pria itu menyimpan ponselnya di meja kemudian ikut tidur bersama Laura.


*


"Permisi Tuan ..." seorang perawat masuk ke ruangan.


Magma mendongak.


"Apa Nona Laura mau di bersihkan tubuhnya?" tanya Perawat perempuan tersebut.


Magma menoleh ke ranjang, Laura masih saja tidur. "Coba kau bangunkan dia," titah Magma.


Perawat itu mengangguk kemudian berjalan mendekati Laura.


"Nona ..." perawat itu dengan ramah menepuk-nepuk pelan pundak Laura.


"Nona ..."


"Hmmm ..." sahut Laura menjawab dengan suara seraknya.


"Nona, tubuhmu mau di bersihkan?"

__ADS_1


"Suamiku saja yang membersihkan," sahut Laura dengan setengah sadar, matanya pun masih tertutup.


Perawat itu sontak menoleh perlahan ke belakang, ke arah Magma. Magma sontak mendongak menatap Laura di ranjang.


"Sudah ada perawat perempuan, kenapa aku?" ujar Magma.


Perawat perempuan itu menahan senyuman nya. "Tidak apa, Tuan. Tuan kan suaminya ..."


"Kalau aku yang membersihkan kerjamu apa?" seru Magma kepada perawat tersebut.


"Huuuaaaa ..." Laura duduk perlahan sambil menguap. Kemudian ia menoleh kepada Magma.


"Bersihkan tubuhku," pinta Laura.


"Tapi ---"


"Saya permisi Tuan." Perawat perempuan itu pergi dari ruangan setelah meninggalkan troli berisi peralatan mandi.


Laura tersenyum. "Ayo cepat!"


Magma berdecak, mendengus kasar, menyimpan laptopnya di meja lalu mengambil wadah berisi air hangat dan handuk kecil di atas troli itu.


Pria itu duduk di samping Laura. "Buka bajumu," titahnya.


"Tanganku di infus, sulit membuka baju," sahut Laura mengangkat tangan kanan nya yang di infus. Magma tahu, itu hanya akal-akalan Laura saja.


Alhasil Magma lah yang membuka kancing perempuan itu satu persatu. Tapi kemudian Magma langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dengan memejamkan mata ketika melihat gunung kembar istrinya.


"Aku tidak mungkin membersihkan itu mu."


"Itu ku apa?" tanya Laura.


"Itu." Magma menunjuk gunung kembar Laura dengan masih memalingkan wajahnya.


"Kau ini aneh, masa yang bukan istrimu bisa di telanjangi sampai ---"


"Diam Laura!" Magma langsung membekap mulut istrinya. "Aku sudah tidak seperti itu lagi!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2