
"Magma ..." seru Byanca dengan tersenyum menatap Magma yang tengah menuruni anak tangga.
Laura pun berbalik menatap suaminya kemudian Byanca berjalan menuju meja makan dan duduk di tempat biasa Laura duduk.
"Bahkan tidak ada yang menyuruhmu untuk duduk!" pekik Laura.
"Lalu apa aku harus terus berdiri hm?" sahut Byanca menatap Laura.
"Itu kur ---"
"Duduk di kursi yang lain saja," hardik Magma kemudian duduk di kursi nya.
Laura berdecak dan akhirnya mengitari meja lalu duduk di samping kiri Magma.
"Wuahh ... siapa yang masak nih." Byanca mengedarkan pandangan nya melihat beberapa hidangan di meja makan sementara Laura sudah sibuk melayani suaminya sambil menggerutu kepada Byanca.
"Istri nya sendiri lah siapa lagi!" sahut Laura dengan wajah masam.
"Oh kau yang masak," seru Byanca dengan sinis.
"Ya, aku. Jadi perempuan harus pintar masak bukan hanya pintar bergaya di depan camera saja! aku bisa keduanya!!" Laura tersenyum miring.
"Sayangnya, sekarang kau sudah tidak bisa bergaya di depan camera lagi, cih!" hardik Byanca membuat Laura yang hendak mengambil sandwich terhenti seketika.
Darimana dia tahu aku sudah tidak jadi model. Apa Magma memberitahunya. Sedekat apa mereka ...
"Aku ---"
"Diam!" potong Magma ketika Laura hendak berbicara, ia menatap bergantian Laura dan Byanca.
"Tidak bisakah kalian makan saja tanpa harus berbicara lagi?!"
Laura menghembuskan nafas. "Aku tidak mau masakanku di makan olehnya!"
"Ini hanya makanan, Lala. Apa aku perlu membayarnya kepadamu?" seru Magma membuat Byanca tersenyum penuh kemenangan karena merasa Magma membela dirinya sementara Laura berdecak sebal.
Akhirnya mereka bertiga makan bersama dengan Byanca yang sesekali menatap sambil tersenyum ke arah Magma membuat Laura geram sendiri.
Akhirnya Laura mencoba mengalihkan tatapan Byanca dengan membahas profesi nya sebagai seorang model.
__ADS_1
"Oh iya, saat catwalk di Indonesia kau tidak hadir. Kenapa?" tanya Laura mendongak menatap Byanca kemudian kembali memotong steak di piring nya.
"Terlalu jauh, malas berada di dalam pesawat terlalu lama," sahur Byanca.
Laura tersenyum sinis. "Begitu kah sikap Model yang katanya model Internasional?" Pekik Laura yang pernah membaca artikel dengan judul Byanca seorang model Internasional dari Spanyol.
"Setauku, bersikap profesional itu penting dalam bekerja. Tidak perduli dekat atau jauh mereka harus tetap pro-fe-sional!" seru Laura dengan menekan kata terakhir di ucapan nya.
Magma, sambil makan ekor matanya menatap Byanca seketika seolah ia setuju dengan ucapan Laura.
Byanca berdehem sejenak. "Lagi pula hari itu aku juga sedang sakit," sahutnya berbohong.
Laura tertawa seakan tau dengan kebohongan Byanca. "Sakit ya?" seru nya dengan satu alis terangkat naik dan senyuman sinisnya.
"Aku pikir hari itu kau pergi ke klab dengan seorang pria."
"Jangan asal bicara!" hardik Byanca dengan jengkel.
Laura meneguk segelas air putih di dekatnya kemudian kembali berbicara setelah kembali menyimpan gelasnya di meja.
"Kenapa? takut ya? seorang model harus menjaga sikap di depan dan juga belakang camera. Atau ... karier nya hancur seketika!"
"Kau membahas karier hancur di saat karier mu sendiri sudah hancur, Laura haha."
"Maaf, kita tidak sejalan lagi, kau bukan saingan ku lagi Nona Laura karena kau hanya seorang Ibu Rumah Tangga sekarang!" lanjut Byanca.
Laura menggertakan giginya kesal dengan mengenggam erat pisau di tangan nya. Magma hanya menggelengkan kepala melihat pertengkaran mereka, ia memilih makan saja dari pada mendengarkan ocehan dua model itu.
Kini Laura menatap Magma dengan kesal.
Apa Magma menceritakan semua nya kepada Byanca. Kenapa dia membahas masalah Rumah Tangga kepada orang lain!
Jeni saja saat menolak beberapa perusahaan tidak mengatakan kepada mereka kalau Laura berhenti jadi model. Tapi Jeni mengatakan Laura masih libur karena baru menikah.
*
"Aku tidak mengizinkanmu satu mobil dengan suamiku!" pekik Laura kepada Byanca. Mereka semua sudah selesai sarapan.
"Aku ada pemotretan hari ini, tidak boleh terlambat. Iya kan Magma?" Byanca menoleh kepada Magma.
__ADS_1
"Kalau sudah tau ada pemotretan kenapa datang ke sini, pergilah langsung ke perusahaan!" seru Laura dengan jengkel.
"Aku harus bertemu bos ku dulu!!"
"Kau bisa --"
"Diamlah!!" Potong Magma. Laura mendelik kesal kepada Magma, kenapa pria itu selalu memotong pembicaraannya. Tapi ketika Byanca berbicara tidak di potong sama sekali.
"Kau ..." Magma menatap Byanca. "Seharusnya tidak datang ke mansionku seperti ini! aku tidak suka orang asing masuk ke mansionku sembarangan!! kecuali jika aku sendiri yang mengundang!!"
"Dan kau ..." Magma menatap Laura.
"La-la," koreksi Laura yang tidak suka Magma menyebut 'kau'
Magma menghela nafas. "Lala ... Lala berhenti berbicara ketika makan!" seru Magma yang merasa pertengkaran antara keduanya terjadi karena Laura yang mulai membahas soal karier di meja makan.
Magma hendak beranjak dari duduknya tapi Laura berseru.
"Magma ... kau lupa untuk menciumku dulu."
Byanca menaikkan alisnya menatap mereka berdua bergantian kemudian ia melebarkan matanya ketika Magma mengecup pipi kanan Laura lalu pergi dari meja makan.
"Kenapa? iri ya ..." Laura tersenyum sinis.
"Apa? menjijikan!" Byanca memilih menyusul Magma karena takut di tinggalkan oleh pria itu.
Laura menggeram kesal kemudian ikut menyusul mereka berdua.
"Aku tidak mengizinkanmu untuk pergi ---"
"Sudahlah, Lala! aku dan Byanca harus secepatnya membereskan iklan hari ini!" seru Magma berbalik menatap Lala yang menghentikan langkahnya di belakang. Byanca tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi ..."
Ucapan Laura terhenti karena Magma dan Byanca sudah lebih dulu masuk mobil membuat perempuan itu mengepalkan tangan nya geram.
Ketika mobil keluar dari mansion, Jeni yang berada di pos satpam mendesis kesal karena tahu di dalam mobil itu ada Byanca.
Bersambung
__ADS_1