M & L

M & L
#Hendak melecehkan Laura


__ADS_3

Jeni memang enggan membiarkan Laura pergi menemui Justin seorang diri apalagi saat itu ia berkomunikasi dengan Jasmine bukan Justin. Jeni saja tidak tahu Justin siapa.


Tapi Laura keukeuh ingin pergi untuk membuat kontrak kerjasama dan langsung pemotretan malam ini. Dia merasa bisa melakukannya sendirian.


Jeni dengan gelisah menunggu di lobby bersama Lalita.


"Jeni tidak enak hati Lala pergi sendirian."


"Kenapa? dia sudah besar," sahut Lalita dengan entengnya.


"Ih, Lita tidak tau sih. Dulu aja hampir ada yang mau melecehkan Lala. Perempuan kaya Lala pria mana yang tidak mau coba ..."


Kecuali si tua bangka itu!


"Yasudah, kau susul saja Lala. Aku menunggu di sini, panggil aku kalau pemotretan sudah siap."


"Kan tadi Jeni mau nyusul ih tapi gaboleh sama Lala dan pria itu!" Jeni menunjuk dua pria dengan dagu nya. Dua pria yang berdiri di depan lift.


*


Tak lama Laura mengetuk pintu, Justin langsung membuka pintu nya. Ia mengembangkan senyumnya. "Silahkan masuk Nona ..." serunya dengan ramah dan tersenyum.


Laura pun masuk ke ruangan. Justin menutup pintu dan diam-diam mengunci pintunya kemudian menghampiri Laura di sofa.


"Kau bukan pemilik perusahaan ini kan?" tanya Laura.


"Bukan, ini semua milik kakak ku, Jasmine. Aku hanya membantu di sini."


"Seharusnya aku membuat kontrak kerja sama langsung dengan dia. Kalau pun kau Sekretarisnya Kakakmu juga harus ada di sini!"


"Ah maafkan kakak ku nona ... dia ada acara mendadak. Tapi Kakak ku sudah menyerahkan semuanya kepadaku. Termasuk kontrak kerjasama denganmu."


Justin menyimpan map hijau di meja dan menyodorkannya kepada Laura. Usia Justin berbeda satu tahun dengan Laura, pria lajang yang bekerja membantu kakak nya. Justin memiliki kulit putih dan wajah bule tanpa brewok. Matanya hijau dan wajahnya terlihat sangat ramah.


Laura membaca kontrak kerjasama tersebut. Kebanyakan Jasmine group meminta iklan kepada Laura bukan hanya foto saja.


Ponsel Laura berdering di dalam tas nya. Ia menutup map dan merogoh ponselnya. Telpon dari nomor yang tidak di kenal, Laura mengangkatnya sementara Justin beranjak dari duduknya untuk mengambil minum.


"Hallo, siapa ini ..."


"Hallo Nona Laura. Saya Jasmine, anda sudah di kantor saya?"


"Ya, hanya ada adikmu di sini."


"Ah maafkan saya Nona. Saya ada urusan mendadak, kontrak kerjasamanya ada di adik saya. Anda boleh membacanya dan jika sudah setuju tolong tanda tangani itu lalu lakukan pemotretan malam ini, semua persiapan pemotretan sudah di siapkan oleh Justin."


"Baik kalau begitu."


Panggilan telpon berakhir. Laura menyimpan kembali ponselnya dan Justin datang membawa segelas air lalu menyimpannya di meja.


"Minum dulu ..." serunya dengan tersenyum.


Laura hanya menatap sekilas, mengangguk dan kembali membaca isi perjanjian itu.


"Mungkin kau haus."


"Tidak!" sahut Laura.

__ADS_1


"Sedikit saja Nona. Itu cara tamu menghargai pemilik rumah, bukan?" Justin tersenyum.


Laura sontak menatap Justin. Menutup map kembali dan mengambil gelas tersebut. Ia meminumnya sedikit lalu kembali menyimpan nya di meja.


"Aku setuju dengan isi kontrak kerjasama ini. Mana pulpennya?" pinta Laura.


Justin mengambil pulpen di balik saku jas nya dan memberikannya kepada Laura. Saat Laura menandatangani, pria itu menatap lekat wajah Laura kemudian menarik ujung bibirnya tersenyum kala melihat Laura menguap.


"Sudah Nona?"


"Ah iya sudah." Laura menyimpan kembali map itu di meja.


"Dimana pemotretan nya?" tanya Laura dengan wajah mengantuk. Sesekali ia mengerjapkan matanya.


"Di lantai empat. Kita kesana sekarang?" tanya Justin.


Laura mengangguk samar, ia perlahan berdiri dari duduknya tapi tiba-tiba kepalanya terasa pusing membuat perempuan itu hampir terjatuh kalau saja Justin tidak buru-buru menangkapnya.


"Nona kau baik-baik saja? duduklah dulu ..." Justin membantu Laura untuk duduk kembali.


"Aku ngantuk sekali," seru Laura kemudian menguap.


"Mau tidur dulu Nona?"


Laura tidak menjawab, perempuan itu sudah terlelap membuat Justin menyunggingkan senyumnya.


*


"Kau ..."


Jeni menoleh.


"Di lantai lima, dia sedang mengatur kerjasama," sahut Lalita.


"Kau kenapa tidak ikut?" tanya Magma kepada Jeni.


"Cuman Lala yang boleh naik ke lantai lima sendirian. Jeni tidak boleh."


"Apa?" Magma mengernyit. "Kenapa kau membiarkan dia sendirian!"


"Lala ---" Jeni tidak melanjutkan kalimatnya karena Magma sudah lebih dulu lari.


"Maaf Tuan anda tidak bisa!"


DUG


Magma menendang perut salah satu pria yang menjaga di depan lift. Satunya lagi dia pukul wajahnya ketika hendak menyerang Magma.


"Minggir sial*n!" geram Magma kemudian menekan tombol lift dan pintu lift pun terbuka.


Lalita, Jeni dan beberapa karyawan yang melihat terlihat terkejut.


Magma masuk ke dalam lift dan menekan angka lima, pintu lift pun tertutup. Dia pria itu menyusul masuk ke lift yang lain.


Pintu lift terbuka di lantai lima, Magma keluar dan tak lama kemudian dua pria itu ikut keluar dari lift.


"Hei, aku sudah bilang ---"

__ADS_1


DOR


Salah satu dari dua pria itu tertembak.


"Mau ikut campur?" tanya Magma menodongkan pistol ke arah pria yang tersisa.


Sontak pria tersebut mengangkat kedua tangan nya. Magma pun kembali berjalan untuk menemui istrinya.


*


Justin memeluk perempuan itu dan membuka resleting dress di punggung Laura.


Laura menarik ujung bibirnya tersenyum dengan mata terpejam. "Kau sudah merasa hebat?"


Justin kaget, dia mendorong tubuh Laura karena ternyata perempuan itu tidak tidur.


Laura tertawa. "Tidak semudah itu menjebakku?" ia tersenyum miring.


"K-kau ..."


"Apa?" Alis Laura terangkat naik. "Siapa orang di belakangmu? Byanca?" tebak Laura.


Justin menggeleng dengan pandangan ngeri.


BRAKH


Pintu di dobrak. Keduanya menoleh ke arah Magma yang masuk dengan nafas menggebu-gebu.


Melihat resleting punggung istrinya terbuka, Magma langsung menodongkan pistolnya ke arah Justin. Justin sontak mengangkat kedua tangan nya.


"Berani sekali kau menganggu istriku!" geram Magma.


"A-aku tidak melakukan apapun," sahut Justin.


"Bicara yang jujur!" Laura ikut menodongkan pistol yang dia ambil dari dalam tas nya.


"Kau membuka resleting dress ku tadi!" seru Laura dengan kesal.


Saat di suruh minum, Laura hanya menempelkan bibirnya di gelas, tidak meminum minuman tersebut. Dia tahu Justin menaruh sesuatu di gelas itu karena saat berbicara dengan Jasmine, Laura melihatnya.


"Jawab jujur apa yang akan kau lakukan kepada istriku!" teriak Magma keras.


"A-aku, aku hanya di suruh oleh Byanca."


Magma melebarkan matanya sementara Laura tersenyum miring. "Aku sudah tau, pasti dia!"


"Dimana perempuan itu sekarang!" seru Magma.


Justin menggeleng.


"Masih saja bisa menggelengkan kepala!" kesal Laura kemudian menembak kaki Justin membuat pria itu berteriak kesakitan.


Laura mengangkat tangan nya ketika melihat suaminya menarik pelatuk untuk menembak kepala Justin.


Perempuan itu berdiri dari duduknya berjalan melewati Magma sambil berkata. "Peluru itu sudah melumpuhkan kakinya, biarkan saja!"


"Aku ingin dia mati!" seru Magma membuat langkah Laura terhenti seketika. Ia berbalik.

__ADS_1


"Aku ingin dia tetap hidup tapi menderita!"


Bersambung


__ADS_2