
Jeni sudah berjanji untuk tidak ikut campur masalah Laura dan Magma. Tapi ia benar-benar tidak terima melihat Laura di perlakukan seperti babu oleh suaminya sendiri yang dimana sebelumnya kehidupan Laura seperti seorang princess, di sayang dan di manjakan oleh Arsen dan Miwa.
"Seharusnya Lala itu menjadi ratu di mansion ini, ini kok malah jadi babu," gerutu Jeni dengan kesal sambil mencari-cari nomor Arsen di ponselnya.
"Nah, ini nomornya."
Jeni celengak-celinguk sebelum menelpon Arsen, memastikan tidak ada orang di dapur selain dirinya sendiri.
"Aman," seru Jeni lalu menelpon Arsen.
"Hallo."
"Tuan Arsen ---"
"Hai Daddy ..."
Jeni tercengang ketika Laura tiba-tiba mengambil telpon miliknya.
"Daddy apa kabar?" tanya Laura.
"Baik, Lala sendiri bagaimana?" Arsen balik bertanya.
"Baik juga Dad."
"Kenapa menelpon Daddy lewat hp Jeni?Lala baik-baik saja kan?"
"Hp ku mati Dad. Jadi aku pinjam hp Jeni, Lala sudah bilang Lala baik-baik saja, Dad."
Mendengar itu Jeni memutar bola matanya jengah. Baik-baik saja darimana, sudah jelas-jelas Jeni melihat Laura di jadikan babu.
"Dimana Magma?" tanya Arsen kemudian.
"Magma sedang mandi mau berangkat ke kantor."
"Dad mau bicara dengan Magma."
"Iya Dad."
Sebelum pergi dari dapur, Laura menatap penuh intimidasi kepada Jeni karena hendak mengadu kepada Arsen. Jeni hanya mendengus kasar, padahal niatnya baik.
Ketika masuk kamar, Magma baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit bagian bawah tubuhnya.
"Daddy ku mau bicara." Laura menyodorkan ponselnya.
__ADS_1
Magma mengambilnya lalu berjalan ke sofa sementara Laura kembali ke bawah karena harus menyiapkan sarapan.
"Iya, Ar?"
"Kau tidak menyiksa putriku kan, Magma?!"
"Cih, apa kau tidak dengar dia tadi berbicara denganmu? apa terdengar seperti dia sedang kesakitan?" Magma balik bertanya.
"Aku tidak bertanya soal fisiknya saja, aku juga bertanya soal batin putriku!"
"Seharusnya kau sudah lihat isi perjanjian yang di buat putrimu itu, Ar. Isinya sangat memberatkan ku, dia melarangku bermain wanita di klab, jadi bagian mana aku menyiksa batin putrimu?"
Terdengar helaan nafas dari Arsen. Walaupun sudah berjanji untuk tidak ikut campur pernikahan Laura dan Magma, terkadang Arsen merasa gelisah jika memikirkan nasib putrinya yang menikah dengan pria yang tidak mencintainya.
Arsen sering menelpon Laura hanya untuk mendengar suara putrinya apa terdengar baik-baik saja atau tidak. Dan Laura selalu mengatakan dia baik-baik saja.
"Aku masih tidak percaya denganmu. Tapi kalau sampai putriku kenapa-kenapa, kau berhadapan denganku, Magma!"
"Aku sangat bersedia jika itu terjadi ..." Kemudian Magma mematikan telpon nya sepihak membuat Arsen geram.
Lima menit kemudian Laura kembali masuk ke kamarnya. "Sarapan sudah siap," katanya sambil berdiri di dekat pintu.
Magma menoleh. "Kau tidak mengatakan apapun kepada Ayahmu, kan?"
"Bagus," sahut Magma kembali memalingkan wajahnya.
"Tidak mau sarapan sekarang?"
"Nanti saja."
Laura menutup pintu kamar lalu berjalan mendekati suaminya karena merasa kelelahan Laura tiduran di paha Magma yang hanya di tutupi handuk putih.
Magma sontak mendorong kepala Laura sambil beranjak dari sofa. "Kau ini apa-apaan!"
Laura mendengus dan beranjak duduk. "Aku hanya mau tiduran di paha suamiku, apa salahnya?"
"Jangan bersikap semaumu Lala! aku tidak suka!"
Pria itu pun pergi mengambil bajunya di lemari dan memakainya di kamar mandi saja.
Laura menatap pintu kamar mandi yang tertutup dengan raut wajah sedih.
*
__ADS_1
Selesai sarapan Magma mengecup pipi kanan Laura lalu beranjak dari meja makan.
"Ingat nanti kita dinner!" teriak Laura yang tidak di jawab apapun oleh Magma.
"Magma sangat baik dengan Yura, Yura ngidam saja dia turutin, tapi kenapa kepadaku berbeda sekali ..." Laura bergumam sendirian.
"Itu karena Yura adiknya, masih punya hubungan darah. Lala kan beda lagi, perempuan yang hampir merebut perusahaan miliknya, ya pasti lah dia benci Lala." Jeni tiba-tiba berbicara sambil mendekati meja makan, menarik kursi dan duduk di samping Laura.
Laura berdecak. "Kau bukan nya mendukungku!"
Jeni mengambil segelas susu. "Maaf, dari awal Jeni memang tidak setuju." Pria tulang lunak itu pun meminum susunya.
"Ini hanya masalah waktu saja, Jen. Lala yakin nanti Magma pasti mencintai Lala ..."
"Terlalu berharap itu menyakitkan say!" sindir Jeni.
*
Magma membawa mobilnya sendiri menuju perusahaan. Saat di perjalanan tiba-tiba mobilnya mogok, pria itu berdecak kesal mencoba menghidupkan kembali mesin. Tapi tetap saja mobilnya tidak mau menyala.
Akhirnya ia keluar dari mobil dan mencoba memeriksa apa yang salah dengan mobilnya itu.
"Om!" teriak anak kecil laki-laki di belakang.
Magma yang tengah memeriksa mobilnya pun berbalik dan.
"SERANGGG!"
Empat orang anak kecil itu melempari Magma dengan tanah basah sambil tertawa bahagia.
"HEI KAU-!!"
Magma menghalangi wajahnya tapi si*l nya kemeja putihnya habis sudah berlumuran tanah.
"Huahahaha."
"Kaboorrrr!"
Empat anak kecil itu sontak lari berpencar ketika tanah di tangan nya sudah habis.
"BERHENTI KAU SIAL*N!!" Teriak Magma dengan geram.
Kalau bukan anak kecil sudah ia todongkan pistol di saku celana.
__ADS_1
Bersambung