
Laura menekuk wajahnya, menatap rumah, sawah dan jalanan dari atas helicopter. Ia memang ingin camping tapi ingin pergi dengan mendaki gunung bukan naik helicopter seperti ini.
"Sayang, sebentar lagi sampai," seru Magma.
"Kau bilang aku tidak boleh naik pesawat!" sahut Laura dengan kesal.
"Ini helicopter sayang."
"Sama saja!" kesal Laura.
"Di bandingkan dengan mendaki, naik helicopter lebih baik. Kandunganmu masih muda, bagaimana mungkin aku mengizinkanmu mendaki. Sampai usia kandunganmu sembilan bulan, itu tidak akan pernah terjadi."
"Tapi ---"
"Setidaknya malam ini kita camping sayang," potong Magma membuat Laura mendengus kasar dan kembali memalingkan wajahnya tidak mau melihat Magma.
Helicopter mengapung di udara, Magma dan Laura turun menggunakan tangga gantung karena akses untuk mendaratkan helicopter tidak terlalu bagus.
Ketika kakinya menginjak tanah, Laura di buat terbelalak, ada beberapa anak buah Magma di sana, tenda besar dan banyak makanan yang tersusun rapih di dalam koper.
"Apa isinya itu?" Laura menunjuk kulkas kecil yang di bawa salah satu anak buah Magma.
Kulkas yang tidak perlu memakai listrik, sudah ada baterai yang menggantikannya. Kulkas itu juga produk yang di keluarkan mahavir group.
"Ada beberapa seafood Nyonya."
"Seafood?" Laura mengerutkan dahinya.
"Kita nanti malam bakar-bakar kan sayang," sahut Magma.
"Lalu yang kau pegang apa?" Laura beralih menatap salah satu anak buah Magma yang lain.
"Ini kursi lipat Nyonya, untuk bersantai." Pria itu membuka kursi lipatnya untuk menunjukan kepada Laura.
"Itu juga produk Mahavir group sayang," seru Magma dengan bangga.
Laura menggelengkan kepala beberapa kali.
"Kotak itu apa?" Laura menunjuk kotak coklat.
__ADS_1
"Isinya hanya kayu Nyonya."
"Nanti malam kita membuat api unggun kan sayang," sahut Magma dengan tersenyum.
"Jangan bilang ada kasur di tenda itu." seru Laura kepada Magma.
"Tentu saja ada sayang. Bagaimana mungkin aku membiarkan Ibu dari anak-anakku tidur tanpa alas, apalagi di hutan seperti ini. Tenang saja, bantal, selimut tebal sudah ada di dalam. Kau tidak akan kedinginan nanti."
"Ini tidak seperti camping!"
"Ini camping modern sayang. Kita tidak perlu makan seadanya, kita tidak akan kedinginan. Dan itu ..." Magma menunjuk pria lain yang berdiri di hadapan mereka.
"Dia bukan anak buahku, dia Dokter. Dia sudah membawa banyak obat ke sini."
Dokter pria itu tersenyum sambil menganggukan kepala kepada Laura.
"Apa ada kejutan yang lain hm? mungkin kau memberiku kejutan dengan membangun hotel di hutan ini!" ucap Laura menahan kekesalannya.
"Kalau kau mau, aku akan membuatnya sayang. Tapi mungkin tidak di dataran tinggi seperti ini."
Laura mendengus kasar, menggaruk kepalanya frustasi. Bukan camping yang seperti ini yang ia inginkan.
"Mereka nanti malam membuat tenda juga setelah kita tidur sayang. Karena mereka harus membantuku menjagamu ..."
"Siapa yang akan mengangguku di hutan ini sih?"
"Babi hutan, ular, kelabang, masih banyak lagi yang perlu di jaga agar tidak melukaimu."
Laura berdecak, dia lelah mendengar ucapan Magma. Alhasil perempuan itu memilih masuk ke tenda saja.
*
Malam hari Laura bangun, karena tadi sore tidak sadar ia ketiduran, perempuan itu terbangun ketika melihat cahaya yang begitu terang dari dalam tenda. Perlahan ia bangun, menatap sekitar tenda.
"Cahaya dari mana ini," gumam nya.
Ketika ia membuka tenda, Laura terkejut melihat banyak tihang lampu mengelilingi tenda nya.
"Hai sayang, sudah bangun." Magma berjalan menghampiri istrinya dengan segelas susu Ibu hamil di tangan nya. "Ini minum dulu."
__ADS_1
"Kau menggelar acara apa di hutan ini hah? dan bagaimana bisa semua lampu itu menyala?"
Magma duduk di samping Laura.
"Jangan memikirkan itu sayang. Aku punya banyak ide untuk mengatur semuanya. Lebih baik kau minum saja dulu susu ini." Magma menyodorkan kembali gelas di tangan nya.
"Matikan semua lampu itu atau aku akan marah kepadamu!"
"Sayang, ini semua agar aman. Binatang buas tidak akan mau mendekati kita."
"Kau satu-satunya binatang buas di hutan ini!" sahut Laura dengan kesal. "Kalau ada lampu, kita tidak akan membuat api unggun!"
"Api unggun itu untuk membakar seafood nanti," sahut Magma.
"Magma kau --- aaargghh! untung saja aku punya suami satu. Kalau dua sudah mati aku di buat pusing setiap hari!" Laura kembali merebahkan dirinya di kasur.
"Memang siapa yang akan mengizinkanmu punya suami dua?" seru Magma.
*
"Senyumlah ... jangan cemberut seperti itu."
Mereka berdua duduk di atas kursi lipat sambil membakar seafood dengan Laura yang terus menekuk wajahnya.
Mereka di kelilingi anak buah Magma yang memastikan Laura aman. Mereka berjaga-jaga siapa tahu tiba-tiba ada binatang buas, mereka akan cepat menembaknya.
Dan Laura bagaimana tidak kesal, bayangan camping di benak Laura sangat jauh berbeda dengan kenyataannya sekarang.
Magma berdecak kala istrinya masih diam. "Aku melakukan ini karena kau sedang hamil. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa dengan makan seadanya di hutan, kedinginan dan tubuhmu harus menahan sakit karena tidur tanpa alas yang empuk. Mengertilah sedikit Laura ... jangan terus marah kepadaku."
Laura menoleh menatap suaminya dengan tatapan teduh. Benar, ia merasa beberapa hari ini terus marah kepada Magma.
Magma menyimpan sate seafood di tangan nya kemudian beralih mengelus wajah istrinya. "Kau dan janin-janin yang ada di perutmu. Sangat penting untukku sekarang, Laura ..."
Laura mengenggam tangan Magma di wajahnya, perlahan ia tersenyum dan menganggukan kepala membuat senyuman di wajah Magma terlukis seketika.
Kemudian wajah mereka semakin dekat perlahan-lahan, Magma memiringkan kepalanya lalu menc*um istrinya dan membuat semua anak buahnya kompak membalikan badan agar tidak melihat adegan Tuan dan Nyonya nya itu.
Bersambung
__ADS_1