M & L

M & L
#Garis dua


__ADS_3

"Pagi sayang ..." sapa Magma dengan lembut sambil menghidangkan masakannya di meja makan kala melihat istrinya baru saja keluar dari kamar.


Laura tidak menanggapi, membalas senyuman suaminya saja tidak membuat Magma menghela nafas. Sabar, ya Magma harus sabar apalagi semalam mendengar Laura bergumam soal kehamilan.


Perempuan itu menarik kursi dan duduk, mengedarkan pandangan nya menatap hidangan di atas meja satu persatu.


"Banyak sekali yang kau masak."


"Pagi ini aku sedang bersemangat memasak sayang," sahut Magma duduk di depan Laura.


Pria itu dengan penuh perhatian menyendok nasi untuk istrinya dan mengambil beberapa lauk ke piring Laura lalu menyimpannya di depan perempuan itu.


"Makan yang banyak ..."


Laura langsung mengambil sendok dan garpuh. Ia makan dengan santai sementara suaminya hanya diam memperhatikan Laura.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku sedang makan!" seru Laura tanpa melirik ke arah Magma.


Magma menarik ujung bibirnya tersenyum. "Cantik sekali kalau sedang jutek," gumamnya.


Sebelum mendengar ucapan Laura tentang kehamilan, melihat istrinya jutek bukan memuji cantik tapi pria itu uring-uringan tidak jelas. Sekarang, rasa kesalnya sedikit terobati. Siapa tahu Laura benar-benar hamil.


"Sayang apa kau baik-baik saja? apa ... apa kau tidak berpikir untuk pergi ke Dokter?"


"Dokter apa? aku tidak sakit," sahut Laura sambil terus mengunyah sarapan nya.


"Eum ... begini." Magma mulai berbicara serius. "Kita kan sudah menikah lumayan lama. Apa tidak seharusnya kau mencoba pergi ke Dokter kandungan sayang? ya, siapa tau sudah masuk."


"Apanya yang sudah masuk?"


"Anak kita sayang."


Laura mendengus kasar. "Aku tidak mau, aku takut kalau hasilnya aku tidak hamil. Bagaimana cara aku menjelaskan kepada Mommy dan Daddy, mereka sudah berpikir aku hamil."


"Kita kembali ke Spanyol kalau kau belum hamil. Kita berusaha lebih keras lagi setiap malam bagaimana?" Magma tersenyum sambil menaik turunkan alisnya menggoda Laura.


"Wajahmu membuatku mual." Laura buru-buru pergi dari meja makan sambil menutup mulutnya. Ia benar-benar ingin muntah sekarang.


Magma mengangguk-ngangguk melihat kepergian istrinya. "Hamil, aku yakin dia hamil."


*


Karena Laura tiba-tiba muntah, tubuhnya terasa lemas. Dia belum mau pergi ke Dokter karena takut hasilnya mengecewakan, Magma sendiri sangat penasaran. Alhasil pria itu membeli tespack untuk istrinya.

__ADS_1


"Sayang ... tespack nya aku simpan di sini." Magma menyimpan tespack itu di meja dekat pintu kamar Laura lalu pria itu masuk ke kamar yang lain.


Padahal Magma ingin melihat bagaimana istrinya menggunakan tespack. Tapi boro-boro bisa lihat, Magma saja harus menjauh karena Laura selalu tiba-tiba kesal ketika melihatnya.


Setengah jam berlalu Magma kembali mengetuk pintu kamar Laura.


"Sayang bagaimana?" teriaknya.


"Lihat saja sendiri, aku belum melihatnya!" sahut Laura dari dalam.


Magma pun membuka pintu dan matanya langsung mendapati tespack yang berada di atas meja. Ia beralih menatap istrinya sejenak, perempuan itu sedang meringkuk di atas ranjang tidur membelakangi Magma.


Magma mengambil tespack tersebut, ia mengenggamnya sejenak kemudian menghela nafas. Positif atau negatif, Magma berharap positif agar ia bisa selamat dari kemarahan mertuanya jika Arsen tahu dirinya berbohong soal kehamilan Laura.


Perlahan Magma membuka telapak tangan nya dengan jantung yang berdebar. Kemudian ia menghela nafas, karena tidak mengerti tanda yang ada di tespack itu. Magma pikir akan tertera kata 'positif' di tespack tersebut.


"Sayang, aku tidak tau ini artinya apa. Mana kotaknya tadi? mungkin ada penjelasannya di sana."


"Garis satu negatif, garis dua positif," sahut Laura tanpa menoleh ke arah Magma.


"Satu negatif, dua positif," gumam Magma kemudian kembali melihat tespack di tangan nya.


Seketika matanya membinar senang. "SAYANG. GARIS DUA!!" teriaknya.


Pria itu langsung menghampiri istrinya, memeluk Laura dan menghujani wajahnya dengan cium*n.


"Ah ... lepaskan!" kesal Laura berusaha menepis tangan Magma yang memegang kedua pipinya.


"Akhirnya aku selamat dari Ayahmu sayang!" Magma kembali memeluk erat istrinya dengan penuh semangat membuat Laura menepuk-nepuk pundak Magma karena kesulitan bernafas.


Ketika Magma melepaskan pelukannya, Laura langsung terbatuk sambil menepuk-nepuk dadanya.


"Sayang kau kenapa? kau baik-baik saja?" Tanya Magma cemas.


"Aku tidak bisa nafas tau," kesal Laura.


Magma terkekeh sambil mengelus puncak kepala istrinya. "Maaf sayang ..."


"Kapan kita ke Dokter? nanti malam atau besok?"


"Aku mual melihatmu!" seru Laura membuat wajah Magma berubah menjadi datar seketika.


"Sayang, kenapa bisa seperti itu?"

__ADS_1


Perempuan itu mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tau, yang jelas aku mual melihatmu. Keluar sekarang!"


"Sayang ---"


Hoeekk.


"Oke, oke aku keluar. Aku keluar ..." Magma segera keluar dari kamar ketika Laura terlihat ingin muntah.


Magma berjalan keluar dari kamar dengan wajah tidak rela. Ia merindukan istrinya, ingin memeluk Laura lebih lama ketika tahu istrinya tengah hamil.


Tapi Laura, perempuan itu malah menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


Magma hanya bisa berhubung dengan Laura di pesan singkat yang ia kirimkan. Bertanya kabar istrinya, apa dia masih mual atau tidak, menawari beberapa makanan.


Magma hanya duduk di depan kamar Laura dengan sesekali menoleh ke arah pintu. Laura masih belum mau keluar, di tawari makanan saja tidak mau.


"Bisa videocall sayang?"


Magma kembali mengirim pesan. Tapi kali ini Laura tidak membalas membuat Magma menghela nafas panjang.


"Dia sudah tidur," gumam Magma.


Magma beranjak dari duduknya. Ia mencoba mengintip dengan membuka pintu kamarnya sedikit, beruntung kali ini belum di kunci.


Magma melihat istrinya tengah tidur terlentang dengan selimut menutupinya sampai pinggang. Pria itu menggulum senyum di wajahnya, dengan menggendap-ngendap ia masuk ke kamarnya.


Ia menghampiri istrinya dengan hati-hati kemudian sedikit demi sedikit ia naik ke ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Laura.


Pria itu sangat merindukan tidur bersama istrinya. Magma pun menarik selimut menyelimuti tubuh mereka berdua, pria itu tidur menyamping memeluk istrinya, sesekali ia mengelus-ngelus lembut perut Laura.


"Jadi karena kau ya Ibumu sampai berpikir ingin bercerai denganku. Huh, baru jadi janin saja b*lagu kau itu. Kau tidak kembar kan? Jangan ya, satu saja dulu. Nanti kalau aku sudah bisa jadi Ayah yang baik, aku akan memberikanmu adik." gumam Magma sangat pelan.


Magma sedikit cemas dengan dirinya sendiri sebab ia tidak yakin bisa menjadi Ayah. Menyukai anak kecil saja tidak, tapi punya anak itu memang harus. Kalau tidak, Arsen pasti akan memisahkan dirinya dan Laura.


Coba-coba saja dulu, siapa tahu ketagihan punya anak.


Malam itu Magma berhasil tidur dengan istrinya, Laura tidur sangat nyenyak sampai tidak sadar jika Magma memeluknya semalaman. Ketika jam empat pagi, Magma buru-buru keluar dari kamar sebelum istrinya bangun dan marah.


Pria itu memilih memasak untuk sarapan pagi ini bersama Laura yang tengah mengandung. Magma bahkan harus mencari resep dulu di Internet, rekomendasi makanan untuk Ibu hamil.


Bersambung


Aku udah up Dosenku seorang mafia mampir ya hehe❤

__ADS_1


__ADS_2