M & L

M & L
#Mencari Laura


__ADS_3

Byanca masih tersenyum senang sambil duduk di kursi kantor Magma. Ketika Magma pergi menyusul Laura, ia hanya merayakan keberhasilan nya sendirian. Ponselnya di nonaktifkan setelah ia mengirim pesan kepada Laura soal Magma.


Ia tidak mau siapapun menganggu kebahagiannya kini, Byanca yakin Laura sedang tersiksa dan menangis sekarang.


"Tuan ... eh, Nona Byanca." Lail terkejut ketika membuka pintu ruangan dan malah mendapati Byanca bukan Magma.


"Ya, Lail. Ada apa?" Dengan tersenyum Byanca menaikan alisnya.


"Dimana Tuan Magma?" tanya Lail.


"Ah, Tuanmu ... dia sedang mengejar istrinya yang sedang patah hati."


Lail menghela nafas, ia tidak mau banyak bertanya kepada Byanca. Ia hanya mengangguk kemudian kembali keluar dari ruangan membiarkan Byanca seorang diri.


Ponsel kedua di tas Byanca berdering, itu ponsel khusus menghubungi keluarganya. Byanca mengambilnya dan terlihat nama Gama, sepupunya.


"Iya, Gam."


"Kak, Om Bram masuk Rumah Sakit."


"Apa?! Ke-kenapa?"


"Tertabrak," sahut Gama di telpon dengan suara yang gemetar panik.


"Kirim alamat Rumah Sakitnya aku kesitu sekarang!"


Byanca langsung beranjak dari duduknya kemudian dengan langkah cepat ia keluar dari ruangan itu.


*


"Tuan, ada kecelakaan di jurang dekat jalan Janiar," seru Vincent kepada Magma yang kini berdiri di balkon.

__ADS_1


Magma berbalik menatap Vincent. "Lalu, apa hubungannya denganku?"


Vincent mendongak ragu. "I-itu ... itu mobil yang di pakai Nyonya Laura, Tuan."


Seketika Magma terbelalak melebarkan kedua matanya. "Apa ..."


"Jangan bercanda Vincent!" Dengan geram Magma menarik kerah baju Vincent.


Vincent menghalangi wajahnya untuk menghindari pukulan. "Benar Tuan ... Tuan bisa lihat sendiri, mobilnya hangus terbakar, Tuan."


Magma mendorong tubuh Vincent kemudian ia berlari keluar dari mansion dan segera masuk ke mobilnya untuk pergi ke jalan Janiar.


Magma menunggu kabar dari para anak buahnya yang mencari Laura, ia hanya diam di balkon karena berpikir tidak akan sulit mencari istrinya itu, Laura tidak punya kenalan siapapun di Spanyol.


Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimum, raut wajahnya terlihat tidak tenang, jantungnya berdetak tak karuan. Jika Laura meninggal, maka seumur hidupnya ia akan merasa bersalah.


Dengan kesal Magma memukul klakson mobilnya kala beberapa mobil menyalipnya begitu saja. Rahangnya mengeras, matanya berkaca-kaca, beberapa kali ia harus menghela nafas kala hati nya merasa tidak tenang dan sangat panik.


Di sepanjang jalan Magma melihat banyak sekali orang yang berlarian menuju jurang di jalan Janiar. Mereka juga penasaran dengan kecelakaan itu.


"Minggir sial*n!!" teriak Magma ketika ada pria paruh baya menyebrang tiba-tiba.


Mobil berhenti di dekat pohon besar, Magma keluar dari mobilnya kemudian berlari ke arah jurang tersebut.


Pria itu menarik beberapa orang yang menghalangi jalan nya. Mereka yang tahu dengan kedatangan Magma langsung memberi jalan untuk pria itu.


Magma melihat ke bawah dan benar ada mobil yang terbakar habis, dia ingat platnomor di mobil itu. Itu miliknya, tidak salah lagi.


"Laura ..." lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


"Tuan, kami sudah memanggil tim sar dan beberapa helikopter akan segera datang," seru salah satu anak buah Magma yang juga ada di tempat kejadian.

__ADS_1


Tak lama setelah itu terdengar suara dari mobil polisi, mobil ambulance, pemadam kebakaran dan juga tiga helikopter yang membumbung di udara. Semua masyarakat yang melihat langsung mengalihkan pandangan mereka kala helicopter memutar-mutar di atas kepala mereka.


Salah satu helicopter berada di atas kepala Magma. Ia menurunkan tangga gantung nya.


"Naik, Tuan." seru anak buah Magma.


Magma segera menaiki tangga gantung tersebut. Pandangan nya kosong menatap ke bawah sana, rasa sesak memenuhi dada nya, ia mengepalkan tangan nya dengan kuat, berharap Laura selamat.


Perlahan tiga helikopter turun ke bawah mendekati mobil yang masih terbakar. Magma dan beberapa pemadam kebakaran yang berada di dalam helikopter langsung turun menggunakan tangga gantung.


Ada sebuah danau tak jauh dari sana, beberapa pemadam kebakaran itu mengambil air dari danau tersebut dan menyemprot mobil yang terbakar dengan menggunakan selang.


Pemadam kebakaran yang lain juga ikut membantu dari atas, mereka bekerjasama karena api sudah merembet ke beberapa pohon.


"LAURA!" Teriak Magma yang hendak berlari ke mobil itu tapi langsung di tahan oleh dua orang sebagai petugas damkar.


"Tuan, api nya masih menyala. Jangan mendekat."


"Minggir sial*n!! istriku ada di sana!!" Magma dengan geram mendorong petugas tersebut.


"Ya, saya tau Tuan. Tapi, kondisi mobil masih terbakar. Bersabarlah, setelah api nya padam kita bisa mengeluarkan jenazah dari dalam sana."


"Katakan sekali lagi!" Magma menarik kerah baju pria itu dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Kau bilang jenazah? kau pikir istriku sudah mati sial*n!!"


BUGH


Magma memukul salah satu petugas damkar. Ia menunjuk dengan geram petugas yang kini memekik kesakitan, sementara petugas yang lain masih berusaha memadamkan api.


"Dengar! istriku masih hidup, dia tidak mungkin ada di mobil itu!!" teriak Magma.

__ADS_1


"Tuan, apa ini milik istrimu ..." petugas damkar yang lain menunjukan gelang dari tali dengan gantungan huruf L. Gelang itu, gelang yang di pakai Laura dari fans nya. Magma ingat itu.


#Bersambung


__ADS_2