M & L

M & L
#First kiss Lalita & Kenzo


__ADS_3

Kenzo memegang belanjaan Lalita sementara perempuan itu tegah berjalan sambil meminum minuman kaleng. Mereka berada di sebuah mall setelah membeli beberapa kain.


Melihat Kenzo sedikit kesusahan, Lalita mengulurkan tangan nya. "Sini biar aku saja."


"Tidak perlu," sahut Kenzo dengan tersenyum. Ia tidak mau Lalita memegang belanjaan yang berat.


Dari tadi Lalita ingin membantu Kenzo tapi Kenzo selalu menolak dan malah membawa semua kain-kain yang Lalita itu beli.


"Magma dan Lala menyebalkan, apa-apa harus di lakukan sendiri, kita di sini tidak di beri asisten sama sekali!"


Lalita sudah mencoba menghubungi Magma dan Laura untuk meminta salah satu anak buah Magma yang terus mengikuti dirinya dan Kenzo tapi tidak di ijinkan sama sekali.


"Biarlah, biar lebih mandiri juga. Aku jadi ingat dulu saat merintis usaha makanan. Aku membeli semua bahan-bahan makanan sendirian, Farel saat itu masih sekolah dan aku belum bertemu dengan Aris. Semuanya memang di mulai dari bawah kan, Lalita?"


Lalita hanya berjalan dengan menatap kagum Kenzo yang berjalan di sampingnya.


Sederhana sekali pria ini.


"Lalita ..." panggil Kenzo yang melihat Lalita melamun ke arahnya sambil tersenyum.


"Lali ---"


Dug


"Akkhh!"


Lalita menabrak tembok karena matanya terlalu fokus kepada Kenzo.


"Lalita kau baik-baik saja?" tanya Kenzo khawatir setelah menyimpan semua barangnya di lantai.


"Aduh ..." Lalita menggosok keningnya sendiri. Kenzo mencoba memeriksa.


"Tidak ada luka sama sekali."


Lukanya memang tidak ada. Tapi malunya yang ada, menyebalkan sekali kenapa aku malah melamun tadi.


"Eum, sudah aku baik-baik saja. Kita pulang, ayo ..." Lalita mengambil dua kantung belajaannya lalu bergegas pergi meninggalkan Kenzo karena ia seakan tidak punya muka.


Kenzo mengambil sisa belanjaannya kemudian menyusul Lalita.


Mereka masuk ke mobil setelah menyimpan semua belanjaan di bagasi. Kenzo memakai seatbealt, ketika ia hendak menghidupkan mesin mobil, ia menoleh ke samping dan mendekati Lalita.


"Kau mau apa?" tanya Lalita dan mata membulat sempurna.


Kenzo tidak menjawab, ia menarik seatbealt Lalita lalu kembali ke tempat duduknya. Lalita menghela nafas, ternyata hanya memasang seatbealt bukan melakukan sesuatu yang ada di otak Lalita.


Hening beberapa menit selama di perjalanan, Lalita akhirnya mencairkan suasana.


"Farel, bagaimana kabarnya?" tanya Lalita.


"Dia baik, sudah bekerja di Restaurant De Willson," sahut Kenzo dengan ramah dan tersenyum.


"Ah baguslah ..." Lalita mengangguk.

__ADS_1


"Aris?" tanya Lalita.


"Aris?" Kenzo menoleh dengan menaikan alisnya, untuk apa Lalita bertanya soal Aris. Lalita sendiri hanya ingin basa-basi saja.


"A-Aris baik. Dia tinggal di rumahku dan menghandel orang-orang yang bekerja di restauranku."


"Ah baguslah ..." Lalita mengangguk.


Suasana kembali hening. Kenzo tidak menanyakan sesuatu kepada Lalita, sesekali Lalita menoleh dengan ujung matanya. Pria itu fokus dengan jalanan.


Mereka sampai di kantor mahavir group, keduanya langsung naik ke ruangan Magma. Lalita langsung membuka makanan yang mereka beli di mall tadi.


"Makan dulu ..." seru Lalita.


Kenzo mengangguk dan duduk di seberang Lalita. Ia membuka pasta sedangkan Lalita makan ayam bumbu korea.


"Kau bisa masak?" tanya Kenzo kemudian yang membuat Lalita mendongak.


"Masak?"


Kenzo mengangguk.


"Bisa sih, tapi dikit," sahut Lalita sedikit malu.


"Tidak apa-apa. Sekarang orang tidak mau ambil pusing kan, tidak bisa masak tinggal beli."


"Eum, kalau ... kalau kau punya istri yang tidak pandai memasak bagaimana? kan kau sendiri lebih jago."


*


Mereka kerja lembur, lebih tepatnya Lalita. Kenzo hanya bantu-bantu saja karena ia sendiri tidak mengerti soal gaun pengantin.


Mereka berada di kantor sampai malam, bahkan Lalita sudah tertidur di sofa. Kenzo membereskan beberapa kain kecil di lantai lalu menghampiri Lalita.


"Dia lelap sekali ..." Pria itu berjalan menuju sebuah pintu lalu membukanya. Ada sebuah kamar di sana yang di terangi oleh lampu kecil membuat ruangan tersebut temaram.


Kemudian Kenzo menatap Lalita. Ia memutuskan untuk menggendong tubuh Lalita dan membawanya ke kamar tersebut.


Lalita terlihat sangat nyenyak ketika di angkat, tapi ketika di tidurkan di ranjang mata perempuan itu terbuka.


Ia melihat mata Kenzo yang sangat dekat dengan dirinya.


Tatapan mereka saling terkunci satu sama lain dengan wajah yang hampir tak berjarak. Perlahan mata Lalita turun ke hidung dan bibir Kenzo.


Dalam keadaan setengah sadar Lalita mengangkat kepalanya perlahan-lahan sampai bibirnya menyentuh bibir Kenzo.


*


"Aaaaaaa Lita apa yang kau lakukan!" teriaknya uring-uringan sendiri di kamar ketika di pagi hari.


Lalita mengingat jelas bagaimana dirinya semalam begitu lancang menc*um Kenzo. Setelah itu ia tidak ingat apa-apa karena mungkin semalam ia kembali tidur.


Lalita sedang memikirkan bagaimana reaksi Kenzo, bagaimana dirinya menghadapi Kenzo setelah ini.

__ADS_1


"Dimana dia sekarang ya, masih di sini atau sudah pulang ke apartemennya."


"Sepertinya dia tidak menginap di sini."


"Ya, tidak mungkin dia di sini kan. Pasti sudah pulang ..."


Lalita menyibakan selimutnya dan perlahan turun dari ranjang. Dengan ragu-ragu ia memutar knop pintu berharap tidak ada Kenzo di ruangan kerja Magma.


Setelah ini mungkin Lalita akan menjauh dari Kenzo sesaat, sampai ia sudah punya muka kembali untuk bertemu Kenzo.


"Kenzo ..." Mata Lalita melebar sempurna ketika membuka pintu dan melihat Kenzo berdiri di depan pintu dengan memegang semangkuk sup jagung.


Kenzo menaikan alisnya. "Kenapa terkejut?"


"T-tidak ..." Lalita menggeleng. "Kau, kau tidak pulang?" tanya Lalita kemudian.


"Aku tidur di sofa semalam, tidak tega membangunkanmu. Kau sepertinya sangat kelelahan."


"Hehe iya sih, aku terlalu kelelahan semalam." Lalita menggaruk tengkuk lehernya canggung.


Kenzo mengangguk. "Sarapan dulu ..." Kenzo menyodorkan sup jagung yang ia masak.


"Masak dimana?" tanya Lalita.


"Di kantin bawah, sekalian untuk karyawan yang lain," sahut Kenzo.


"Oh ..."


Lalita duduk di sofa dan memakan sup buatan Kenzo. Ia hanya menunduk memakan sup jagung tersebut karena tidak berani mendongak menatap Kenzo yang sekarang sedang main hp.


"Enak?" tanya Kenzo.


"Hah?" Lalita mendongak kemudian menganggukan kepalanya cepat.


Kenzo hanya tersenyum, mengangguk dan kembali sibuk dengan ponselnya.


Aneh, kok dia seperti tidak ingat dengan kejadian semalam ya. Apa semalam itu sebenarnya cuma mimpi. Tapi aku yakin itu nyata, aku benar-benar menci*um dia. Apa aku tanyakan saja ya ...


Dengan ragu-ragu Lalita mendongak menatap Kenzo.


"Eumm, Ken ..."


"Ya?" tanya Kenzo.


"S-semalam ..."


"Ah tidak apa-apa Lalita."


"Hah?" Lalita mengerutkan dahinya.


"Semalam kau setengah sadar. Aku tau. Tenang saja, aku tidak marah." Kenzo tersenyum. Sementara Lalita hanya bengong, ternyata Kenzo ingat dan itu nyata bukan mimpi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2