
Jeni sudah kembali ke Spanyol menyusul Laura. Tentu saja dia tidak mungkin jauh dari Laura karena dia sekretarisnya. Mereka bertemu di salah satu restaurant ketika Magma sudah pergi bekerja.
"La, jangan langsung di kasih hati. Permainkan dulu si tua bangka itu! enak aja cuman bilang menyesal dan maaf!" kata Jeni dengan raut wajah tidak suka.
Laura mendengus. "Astaga sudah, Jen. Kau dari tadi bicara itu terus! Aku kesini untuk membahas soal si Byanca!"
"Dia juga udah kembali ke sini. Tinggal dengan tante nya. Mungkin dia akan balas dendam nanti," sahut Jeni.
"Bisa apa dia!" hardik Laura lalu berdecih.
"La, Jeni pulang ke mansion lagi ya ..." Jeni merengek.
"Tidak!"
"Ih kok gitu sih." Jeni memanyunkan bibirnya.
"Cari apartemen saja dan datang ke mansion kalau aku membutuhkan mu!"
"Tapi kan Jeni mau jagain Lala ih. Gimana kalau Lala nanti di jadiin pembantu lagi sama si tua bangka itu!"
"Aku Laura bukan Lala. Tidak perlu khawatir!"
Melihat sikap Magma yang sudah berubah kepadanya Laura sedikit tidak nyaman dengan keberadaan Jeni di mansion. Apalagi Magma suka tiba-tiba menciumnya.
"Kesel deh, jauh dari bebeb Vincent dan Fello!"
"Pria mulu yang kau pikirkan. Kali-kali carilah perempuan!" seru Laura.
"Hilih, Jeni ini tidak lesbi ya Lala!"
"Kau homo!" Laura beranjak dari duduknya meninggalkan Jeni yang menggerutu kesal dengan ucapan Laura. Untung Laura itu bos nya.
*
"Aku di restaurant bersama Jeni. Ada apa?" tanya Laura kepada Magma yang menelpon nya. Perempuan itu berdiri di dekat mobilnya.
"Aku pulang sekarang. Kita ke mall."
"Aku bawa mobil," sahut Laura.
"Berikan kepada Jeni kuncinya. Aku menjemputmu sekarang." Panggilan telpon berakhir. Laura berdecak kemudian masuk kembali ke restaurant untuk memberikan kunci mobilnya kepada Jeni. Karena kebetulan Jeni datang ke restaurant itu naik taxi dari hotel, setibanya di bandara pria tulang lunak itu langsung mencari hotel karena tidak bisa pulang ke mansion Magma jika Laura tidak memerintah.
*
Beberapa menit menunggu akhirnya mobil Magma datang. Pria itu buru-buru keluar dari mobil hanya untuk membukakan pintu untuk istrinya.
"Silahkan ratu ..." katanya dengan tersenyum memegang pintu mobil.
Laura menggeleng beberapa kali lalu masuk ke dalam mobil. Magma menutup pintu, kembali mengitari mobil dan masuk ke balik kemudi. Keduanya memakai seatbealt.
"Tumben, pulang cepat." kata Laura.
__ADS_1
"Kita kan shopping hari ini," sahut Magma dengan tersenyum kemudian menyalakan mesin, mobil pun melaju menuju mall.
*
Setibanya di mall, Laura langsung masuk ke toko baju, Magma mengekor dengan setia dari belakang, mengikuti langkah istrinya yang bolak-balik mencari baju yang cocok.
"Pegang!" Laura memberikan satu baju yang di pilihnya kepada Magma kemudian ia kembali mencari yang lain.
"Pegang!"
"Ini juga!"
"Ini pegang juga!"
Tangan Magma sudah penuh dengan tumpukan baju baru Laura. Pria itu segera pergi ke kasir dan menyerahkan semua pilihan baju istrinya kepada kasir perempuan itu untuk di total.
Magma menghela nafas kasar, menggelengkan kepalanya kala melihat Laura tengah mencoba beberapa model heels terbaru.
Laura membawa dua heels yang ia pilih dan memberikannya ke kasir.
"Setelah ini kemana?" tanya Magma. "Kamar?" Magma menaik turunkan kedua alisnya sambil tersenyum.
"Ya, kamar ganti!" seru Laura, mengambil dress dan membawanya ke kamar ganti untuk di coba.
Magma menghembuskan nafas kasar. "Seandainya dia menjadi Lala. Aku yakin sehari lebih dari satu kali saja dia tidak akan protes!"
Magma duduk di kursi menunggu istrinya yang tengah mencoba baju. Ketika Magma keluar Laura langsung bergaya di depan Magma.
"Tidak, ganti!" seru Magma ketika melihat Laura keluar dengan dress ketat.
"Bayar saja. Yang ini langsung aku pakai!"
"Laura!" teriak Magma langsung berdiri dari duduknya kala Laura melengos dari toko pakaian dengan memakai dress baru.
Magma mendengus kasar, ia pergi ke kasir untuk menyelesaikan pembayaran dan mengambil semua baju Laura kemudian menyusul istrinya itu.
Laura hendak membeli heels tapi Magma langsung menarik tangan perempuan itu dan masuk ke toko pakaian dalam.
Laura menghempaskan tangan nya. "Aku tidak berniat membeli ini!"
"Aku mau," sahut Magma.
Magma langsung membawa beberapa lingerie dan beberapa bra pilihan nya.
"Ini bagus kan, ada renda-renda nya." Magma tersenyum menunjukan bra pilihan nya.
"Siapa yang mau pakai?"
"Kau lah, masa aku," sahut Magma.
"Ck, aku tidak mau!" Laura keluar dari toko itu.
__ADS_1
"Hei, kau. Kirim semua lingerie yang ada di toko ini aku ke mansionku!" kata Magma ke pelayan di kasir.
"Baik Tuan."
Ketika Laura keluar ia bertemu dengan Byanca. Byanca tersenyum menghampiri Laura yang mengentikan langkahnya.
"Aku pikir kau masih di New Zealand," seru Byanca.
"Aku pikir kau sudah tidak punya muka untuk kembali ke Negaramu," sahut Laura dengan tersenyum miring.
"Justru karena aku sudah tidak punya muka. Jadi aku kembali ke sini ... kau pikir hidupku akan hancur setelah karier ku kau hancurkan?" Ujar Byanca.
"Tidak, Laura. Kau salah. Aku tidak akan menangis karena karier ku, karena aku harus memberikan kejutan yang luar biasa untuk Laura Zahaira Bachtiar ini."
"Kau tau ..." Byanca mendekatkan wajahnya dengan tangan bersedekap dada. "Aku sudah tidur dengan Magma." Kemudian Byanca tersenyum seolah merasa menang kali ini.
Tapi tak di sangka, respon dari Laura malah tertawa. Perempuan itu tertawa keras membuat Byanca mengeryitkan dahinya.
"Apa yang lucu? aku tau kau jadikan pembantu oleh suamimu itu, kau bahkan tidak di tiduri sekalipun kau menggodanya!"
"Kau bertanya apa yang lucu? kau ingin tau?" sahut Laura dengan masih tertawa.
"Begini ..." Laura berhenti tertawa. "Para pelacur yang di tiduri Magma, itu hanya sekali pakai lalu di buang. Sementara kau ... kau pikir aku tidak tau? sebelum kau tidur dengan Magma kau sudah di tiduri oleh pria lain. Kau lebih rendah dari pada para pelacur Magma, Byanca!" Laura kembali tertawa.
Magma langsung menarik tangan Laura. "Untuk apa kau berbicara dengan istriku?" seru Magma dengan kesal.
"Sudahlah Byanca ... dari pada sekarang aku menganggu nyawamu! lebih baik kau pergi saja!!" seru Laura dengan kesal.
"Aku masih belum puas karena kau menghancurkan karier ku!" seru Byanca. Byanca masih belum tahu jika Ayahnya juga meninggal karena Laura.
Magma menarik tangan Laura untuk pergi, ia merasa buang-buang waktu berbicara dengan Byanca.
"LAURA!" kesal Byanca.
Mereka kembali masuk ke mobil. Laura langsung memasang wajah masam ketika Magma tengah mengenakan seatbeltnya.
"Kenapa?" tanya Magma.
Laura menoleh. "Kau tanya kenapa? aku sudah tau kau pernah tidur dengan Byanca tapi kau tidak jujur kepadaku!"
"Untuk apa? itu terjadi sebelum menikah!"
"Kau tidur setelah menanda tangani isi kontrak perjanjian bersamaku!!"
"Itu karena jebakan dan hari itu aku belum setuju dengan isi kontraknya. Sudahlah, kalau kau mau, aku akan menidurimu di sini asal kau berhenti membahas dia!"
"Itu mau mu!" sahut Laura memalingkan wajahnya.
Magma tersenyum mencubit pipi Laura. "Cantiknya ketika marah ..."
Bersambung
__ADS_1