M & L

M & L
#Kembali ke Spanyol


__ADS_3

Setelah selesai acara, mereka semua berkumpul di kediaman Arsen, dengan Maxime sebagai penengah antara Laura dan kedua orang tuanya yang terlihat masih marah dan kecewa.


Bahkan Arsen enggan menatap wajah Magma. Benjamin dan Bayuni merasa malu dengan sikap Magma yang malah asik merokok di saat keluarga Arsen berkumpul.


"Magma," panggil Benjamin setengah berbisik membuat yang lain ikut menatap ke arah Magma.


Melihat sang Ayah melotot ke arahnya Magma langsung mematikan rokoknya di asbak.


"Mau sampai kapan saling diam seperti ini?" seru Maxime menatap Magma dan Arsen bergantian. Miwa mendengus kasar, tidak tahu mau berkata apa, baru kali ini ia merasa kesal jika melihat wajah putrinya yang ia sayang.


"Magma, dimana kau akan tinggal?" tanya Maxime.


"Spanyol."


"Tidak!" sergah Arsen. "Aku tidak akan mengizinkanmu membawa lari putriku. Tinggal lah di sini!"


"Membawa lari putrimu?" satu alis Magma terangkat naik dengan senyuman miring di wajahnya.


"Kau yakin dengan ucapanmu itu, Ar? padahal aku yang di jebak di sini oleh putrimu sendiri!"


"Magma!" tegur Benjamin karena Magma bukannya memanggil Arsen dengan Panggilan Daddy malah memanggil Ar.


Magma berdecak karena teguran Benjamin kemudian ia menghela nafas sambil memalingkan wajahnya.


"Aku mau ikut dengan Magma saja, Dad." kata Laura.


"Keras kepala sekali!" gerutu Miwa kepada putrinya sendiri.

__ADS_1


Maxime menatap bergantian mereka yang terlihat saling bermusuhan. Bayuni hanya diam membisu dengan harapan sedikit demi sedikit Magma bisa menerima Laura.


"Kau harus berjanji untuk tidak menyakiti Laura, Magma." kata Maxime dengan sorot mata penuh intimidasi kepada Magma.


"Aku yang di jebak, aku pula yang harus banyak janji," cicit Magma.


"Aku tidak akan ikut campur dengan pernikahan kalian tapi kalau sampai ada luka di tubuh putriku kau berhadapan denganku!" hardik Arsen dengan serius.


"Kalau tidak akan ikut campur kenapa menyuruhku tinggal di sini!" gerutu Magma dengan masih memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Satu hal lagi, bawa Jeni ke Spanyol," sambung Miwa.


"Aku tidak setuju!" ucap Magma.


"Bawa Jeni atau kalian tinggal di sini!" hardik Arsen. Ia tidak mau Laura sendirian di mansion Magma. Harus ada seseorang yang bisa memantau keseharian mereka.


"Sudahlah ... Jeni tidak akan menganggu." bisik Laura kepada Magma.


*


Malam harinya setelah makan malam yang penuh keheningan, akhirnya Magma dan Laura hendak pergi ke Spanyol. Mereka semua mengantar Magma dan Laura sampai teras depan.


Laura memeluk bergantian kedua orang tuanya sebelum pergi, cukup berat hati Arsen melepas putrinya pergi dengan pria yang tidak mencintainya. Tapi apa daya, ini pilihan Laura. Terakhir Laura memeluk Lalita setelah memeluk Maxime.


"Hati-hati."


"Iya, Dad." Laura tersenyum kemudian masuk ke mobilnya.

__ADS_1


Setelah mobil melaju pergi, Benjamin dan Bayuni pun berpamitan dengan Arsen dan Miwa. Benjamin terlihat begitu canggung ketika bersalaman dengan Arsen karena sikap Magma yang sedari tadi kurang sopan kepada Arsen. Magma terus memanggil Arsen dengan sebutan 'Ar'.


Miwa hanya tersenyum tipis ketika Bayuni memeluknya. Kalau bukan karena sang Kakak, Maxime. Miwa juga sudah membenci Benjamin dan Bayuni, tapi Maxime selalu mengatakan jika Magma tidak di didik dari kecil oleh Benjamin tapi di didik oleh Aberto yang membuat pria itu tumbuh menjadi seorang mafia yang di benci Miwa.


*


"Kita jemput Jeni dulu ya," ucap Laura.


"Suruh dia berangkat sendiri saja!" sahut Magma.


"Apartemen nya searah ke bandara, jadi sekalian lewat saja," seru Laura. "Lala telpon Jeni dulu, biar dia tunggu di luar apartemen."


Jeni sudah rempong sendiri dengan tiga koper yang ia bawa. Sesekali ia menoleh ke bangunan apartemen di belakangnya dengan memasang wajah sedih.


"Bye apart kesayangan Jeni ... banyak sekali kenangan Jeni dan Lala di apartemen ini ih, kenapa sih Lala harus menikah dengan orang luar, begini kan jadinya ... Jeni harus ikut pindah."


Tin


Tin


Mobil Magma berhenti di depan Jeni, Magma menurunkan jendela mobilnya lalu berdecak ketika melihat tiga koper yang Jeni bawa.


"Masuk Jen!" teriak Laura dari dalam mobil.


"Bentar Jeni masukin kopernya dulu." Jeni menyeret satu persatu kopernya dan memasukan nya ke bagasi mobil.


Magma hanya menghela nafas kasar dengan menatap jam di pergelangan tangan nya.

__ADS_1


Setelah itu Jeni masuk dan duduk di kursi belakang. "Yuk, capcus!"


Bersambung


__ADS_2