
Magma memaksa Laura keluar dari kamarnya dan menyuruhnya masuk ke kamar yang lain khusus kamar tamu. Mumpung masih pagi, Benjamin dan Bayuni pun belum keluar dari kamarnya.
Laura merebahkan kembali dirinya di atas ranjang yang berbeda. Tidak ada Magma di kamar ini membuat Laura sedikit kesepian. Entahlah, melihat Magma marah saja dia sudah bahagia.
"Aku harus merobohkan dua benteng sekaligus. Yang paling utama merobohkan hati keras Magma agar mau menerima ku ... lalu aku dan Magma harus merobohkan hati Daddy dan Mommy. Astaga ... tugasku sulit sekali! Arrrggg!!" Laura berguling-guling frustasi di ranjangnya.
Sementara itu Jeni berada di pos satpam dengan dua anak buah Magma yang semalam. Dia sudah di beri satu kamar oleh pelayan untuk tidur, tapi Jeni malah menyimpan koper dan main kartu bersama dua anak buah Magma tersebut dari malam sampai pagi.
Dua anak buah Magma itu bertugas bergantian. Sekitar jam delapan akan ada dua pria lain yang menggantikan mereka.
Jeni duduk di kursi dengan menyilangkan kakinya membuat paha mulusnya terpampang nyata di depan dua anak buah Magma. Satu tangan memegang rokok sementara tangan yang lain memegang beberapa kartu.
Dari semalam, Jeni main kartu dengan sesekali menatap dua anak buah Magma yang berotot itu.
"Aku menang!" Jeni menyimpan kartu terakhirnya dengan tersenyum miring.
Dua anak buah itu saling menoleh. Pasalnya mereka membuat perjanjian semalam, jika Jeni menang berturut-turut selama sepuluh kali maka mereka harus menuruti perintah Jeni. Pun sebaliknya.
"Kau mau apa?" tanya salah satu anak buah Magma, sebut saja namanya Fello dan yang satu bernama Vincent.
"Eum ..." Jeni sedang berpikir dengan menyilangkan kedua tangan nya di dada. Ia menatap lekat dua pria berotot di depan nya.
Kalau aku minta c*um. Hancur sudah muka cantik ku ini ... ah Jeni tau.
Jeni berdehem sesaat. "Jeni mau mendandani kalian berdua. Bagaimana?" tawar nya dengan bola mata menatap bergantian wajah Fello dan Vincent yang terkejut dengan permintaan.
"Mau yaaaa ..." pinta Jeni dengan gemulai manja.
"Eh pria tulang lunak---"
"Sstttt ..." potong Jeni dengan mengangkat jari telunjuknya membuat Vincent yang semula geram sampai berdiri dari duduknya akhirnya diam.
"Pria sejati tidak ingkar janji, oke!" ucap Jeni dengan lembut. "Kalau kalian ingkar janji, untuk apa otot-otot di tubuh kalian itu. Lebih baik jadi pria kaya Jeni dong hmmm ..."
Fello mengusap wajahnya kasar, dia benar-benar tidak habis pikir kalah main kartu dengan pria tulang lunak di depan nya ini. Menyesal Fello tidak mengajak Jeni tinju saja dari pada main kartu.
Jeni tersenyum penuh kemenangan melihat Vincent kembali duduk dengan menghembuskan nafas. Terlihat Vincent dan Fello akhirnya pasrah.
*
"Ayo kita mulai ya say!" Jeni mengeluarkan beberapa alat make up yang ia bawa dari kamarnya.
"Kalau kita bunuh juga tidak akan dosa. Pria sejenis ini memang haram ada di dunia," bisik Fello kepada Vincent.
"Pria yang pernah membunuh orang tidak pantas berbicara haram dan dosa say," sindir Jeni yang masih bisa mendengar bisikan Fello barusan.
__ADS_1
"Dah ah, sini pake bando dulu."
Jeni memakaikan bando warna pink terlebih dahulu agar rambut Fello tidak menghalangi wajahnya yang mau di make up.
Vincent tertawa terang-terangan ketika melihat Fello memakai bando warna pink berbentuk telinga kelinci.
"Astaga Fel, mukamu hahaha."
Fello berdecak kesal dengan tangan bersedekap dada.
"Kamu juga dong sayang." Jeni memakaikan bando berbentuk unicorn berwarna ungu kepada Vincent membuat Fello tidak bisa menahan tawa nya.
"Ungu hahaha." Tunjuk Fello.
"Hahaha pink." Vincent yang tak mau kalah pun menunjuk wajah Fello sambil tertawa.
*
Pukul tujuh pagi sarapan sudah siap di meja. Para pelayan perempuan sudah bolak-balik membawa hidangan dari dapur ke meja makan.
Benjamin dan Bayuni sudah duduk di meja makan. Mereka masih belum tahu keberadaan Laura dan Jeni karena Laura masih di dalam kamar dan Jeni sibuk menjadi MUA untuk Fello dan Vincent di post satpam. Para pelayan yang lain tidak ada yang berani membahas soal Laura maupun Jeni karena merasa itu bukan urusan mereka.
Magma menuruni anak tangga, ia mengedarkan pandangan nya melihat Laura tidak ada di meja makan. Kemudian ia menghela nafas, semoga saja Laura tidak mau keluar kamar. Itu harapan Magma.
Tapi ternyata tepat ketika Magma duduk di kursi, Laura berjalan menuruni anak tangga.
"Loh, itu bukannya Laura. Putrinya Tuan Arsen?" tanya Bayuni.
"Iya, dia Laura ..." sambung Benjamin.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya ..." Laura tersenyum sambil menarik kursi di samping Magma lalu duduk.
"Laura ... kenapa ada di sini?" tanya Bayuni kemudian. Mata Bayuni sempat melirik ke arah Magma yang diam dan sibuk dengan coffe nya.
"Aku semalam bertamu ke sini Nyonya, tapi Nyonya dan Tuan sudah tidur ... aku sedang liburan dan tidak ada tempat tinggal, jadi aku ikut menginap di sini hehe."
"Oh begitu ..." Bayuni tersenyum.
"Padahal bisa cari hotel!" gerutu Magma lalu menyeruput coffe nya.
"Hotel mahal. Walaupun kaya, irit sedikit tidak apa-apa. Iya kan Laura?" Benjamin tertawa membuat Laura juga ikut tertawa dengan sopan sambil menganggukan kepala.
"Yasudah makan-makan ..."
Sendok dan garpuh mulai saling berdenting. Laura mengambil sarapan, pun Bayuni dan Benjamin.
__ADS_1
Benjamin dan Bayuni saling memberi kode dengan tatapan mata mereka, sesekali Bayuni tersenyum geli ketika tidak bisa menahan kedutan di bibirnya. Dia senang ada Laura di meja makan dan duduk di samping Magma. Mungkin ini kali pertama mereka melihat ada perempuan duduk di samping Magma.
Laura berdecak melihat Magma yang sedari tadi menyeruput coffe tak henti-henti.
Dia mengambil coffe di depan Magma secara paksa sampai sedikit tumpah.
"Hei kau!" Magma menoleh dengan kesal.
"Tidak baik coffe terus!" Laura menyimpan piring berisi sarapan pagi ini di depan Magma.
Bayuni kembali tersenyum, dia menendang kaki Benjamin di bawah meja. Benjamin pun ikut tersenyum sambil pura-pura tidak melihat Magma dan Laura.
"Jangan berani mengaturku ya Laura!" kesal Magma, mengambil coffe nya dan membawanya keluar. Ia mengacuhkan teriakan Laura.
Benjamin dan Bayuni memudarkan senyumannya melihat kepergian Magma. Kini mereka memasang wajah datar sambil menggelengkan kepala beberapa kali menatap kepergian putranya yang keras kepala itu.
Magma berjalan menuju post satpam dengan coffe di tangan kirinya. Niatnya untuk memarahi Fello dan Vincent karena berani membukakan gerbang untuk Laura. Tapi yang terjadi malah.
PRANG.
Gelas berisi coffe itu jatuh karena Magma yang terbelalak kaget melihat penampilan Fello dan Vincent di post satpam.
"Tuan ..." Fello dan Vincent sontak berdiri dengan sigap ketika melihat Tuan nya datang.
Fello memakai Wig berwarna kuning, Vincent memakai Wig berwarna hijau. Bulu mata nya berubah jadi lentik. Eyeshadow, maskara, blush on, liptint, segala hal tektek bengek soal make up kini menempel di wajah Fello dan Vincent.
Wajah mereka yang awalnya sangar berubah menjadi cute.
"K-kalian ..." Magma terbata-bata.
Fello dan Vincent sontak menunduk dan saling menyikut satu sama lain karena mereka sadar Tuan nya pasti terkejut dengan penampilan nya. Beruntung mereka tidak di suruh memakai gaun, mereka tetap memakai pakaian serba hitam yang menunjukan otot-otot di tubuh mereka.
"Duh ada member baru yang mau gabung nic!"
Magma berbalik dan sontak Jeni pun terkejut sampai menutup mulutnya. "Astaga Tuan Magma!"
"KAU!!" tangan Magma mengepal geram menatap Jeni. Sekarang dia mengerti siapa yang mengubah penampilan dua anak buahnya ini.
"Aaaaaa ..." Jeni menjerit dengan suara melengkingnya.
"Jeni takut. Kabur ah ...." Jeni berlari terbirit-birit menjauhi Magma.
BUGH
Magma berhasil menimpuk kepala Jeni dengan sepatu nya. Jeni pun terjatuh memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Auwww!"
Bersambung