
Kini Calista dan Danesh sudah duduk di atas sofa yang berada di dalam kamar. Calista memilih duduk sambil memeluk lengan Danesh dan sesekali mengusap wajahnya ke lengan suaminya tersebut.
"Kenapa kau jadi semakin manja begini setelah hamil?" Danesh mengusap kepala istrinya dengan sayang. Rasa sayangnya yang lebih besar dari pada rasa kecewanya membuat Danesh tak kuasa ingin marah pada istrinya itu.
"Entahlah. Aku ingin tetap seperti ini." Calista kini menyandarkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Jika kau tetap ingin seperti ini, lantas kenapa kau menutupi kehamilanmu dariku? Kau tahu bukan jika kau terus menutupinya maka kau tidak bisa bermanja-manja seperti ini kepadaku?" Tekan Danesh.
Calista memejamkan kedua kelopak matanya. Merasa bersalah kepada suaminya itu.
Tangan Danesh terulur mengusap kepala istrinya dengan sayang. "Aku mohon jangan lagi bersikap bodoh seperti ini. Bukankah aku sudah bilang apa pun yang terjadi kepadamu tolong beri tahu aku. Jika begini sama saja kau sudah melanggar janji kepadaku sebelum aku pergi."
"Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin membuat konsentrasimu terpecah belah."
Danesh menghela napas dalam-dalam. "Seandainya saja kau mengatakan hal ini sejak awal, aku pasti akan memilih tetap berada di sini dan menjagamu setiap hari."
__ADS_1
Calista mendongak menatap wajah tampan suaminya. "Hal itu lah yang aku takutkan. Aku tidak ingin kau membatalkan niatmu melanjutkan pendidikan di sana hanya karena aku."
"Tapi sepertinya sekarang aku akan membatalkannya. Aku memilih untuk tetap berada di sini. Menjagamu dan anak kita."
Calista merubah posisi dari bersadar di dada bidang Danesh menjadi duduk tegak. "Ku mohon jangan. Aku tahu kau sangat ingin meraih gelar master di sana. Aku tetap ingin kau melanjutkan pendidikanmu."
Danesh menghembuskan napas kasar. "Kenapa kau selalu saja memikirkan aku sedangkan kau tidak memikirkan dirimu sendiri yang sedang hamil saat ini. Aku tidak akan sanggup membiarkanmu jauh dariku dalam keadaan hamil seperti ini. Aku tidak akan bisa tenang, Cal."
"Kita masih bisa mencari cara lain agar tetap bisa bersama namun tidak mengorbankan pendidikanmu saat ini."
"Kita bicarakan hal ini nanti malam. Sekarang lebih baik kau istirahat dulu. Kau pasti lelah setelah berjam-jam melakukan perjalanan ke sini."
Danesh memilih menurut. Saat ini tubuhnya memang sudah lelah dan membutuhkan waktu untuk istirahat.
*
__ADS_1
"Jadi apa keputusanmu, Cal? Apa kau akan membiarkan Danesh berhenti melanjutkan pendidikannya?" Tanya Mom Diora pada Calista yang saat ini sedang duduk di ruang tengah bersamanya.
"Tidak, Mom. Cal ingin Danesh tetap melanjutkan pendidikannya di sana."
"Jangan bercanda, Cal. Danesh pasti tidak akan mau jauh darimu di saat kau sedang hamil seperti saat ini."
"Kami tidak akan jauh, Mom. Cal memutuskan untuk ikut dengan Danesh ke sana."
"Apa?" Mom Diora terkejut mendengarnya. "Jadi kau ingin memutus hubungan kerja dengan yayasan kita, Nak?" Tanya Mom Diora.
Calista mengangguk. Sebelum turun ke lantai bawah ia sempat memikirkan keputusan apa yang akan ia ambil untuk permasalahan mereka saat ini.
Wajah Mommy Diora seketika murung. Setelah beberapa tahun lamanya ia berjauhan dari putrinya, kini ia harus merasakan hal yang sama karena Calista memutuskan untuk ikut bersama suaminya ke luar negeri.
***
__ADS_1