
Untuk yang pertama kalinya Calista melihat langsung raut lelah di wajah Danesh setelah pulang bekerja sore itu. Wajah Danesh yang putih bersih kini nampak layu dan sedikit kusam. Entah pekerjaan seperti apa yang dikerjakan suaminya itu hari ini hingga membuat Danesh terlihat begitu lelah seperti itu.
"Makan dulu, yuk. Kebetulan aku sudah memasak untuk kita tadi sore." Ajak Calista setelah Danesh selesai membersihkan tubuhnya.
"Apa kau belum makan?" Tanya Danesh tanpa menjawab pertanyaan Calista.
Calista mengangguk. Menyematkan senyum di wajahnya yang terlihat semakin cantik di mata Danesh.
"Kenapa tidak makan dulu saja, hem?"
"Karena aku menunggumu pulang. Aku lebih senang makan bersama dari pada sendiri."
Danesh menghela nafas. Istrinya itu sangat persis seperti Mommynya yang tidak ingin makan jika Daddynya belum pulang.
"Kita makan sekarang, ya." Ajak Danesh tak ingin mengundur waktu lama.
__ADS_1
Calista mengangguk mengiyakannya lalu keduanya keluar dari dalam kamar menuju dapur.
Walau pernikahan mereka bisa dikatakan baru seumur jagung tapi keduanya tidak menujukkan kecanggungan satu sama lain. Danesh dan Calista sama-sama saling mencoba mendekatkan diri satu sama lain hingga mengikis jarak yang terbentang di antara mereka.
Dua minggu telah berlalu, hubungan di antara Danesh dan Calista nampak mengalami kemajuan. Calista yang awalnya canggung tidur berdua dengan Danesh di ranjang yang sama mulai menunjukkan rasa nyaman begitu pula sebaliknya. Walau pun begitu, sampai saat ini Danesh masih berupaya tidak menyentuh Calista sampai Calista siap untuk menyerahkan dirinya.
Hari itu adalah hari minggu. Danesh dan Calista yang tidak memiliki kegiatan apapun memilih bekerja sama membersihkan rumah dan mencabut rumput halaman rumah mereka yang sudah mulai tumbuh dan tinggi.
Kini keduanya sedang duduk di depan kipas setelah selesai membersihkan rumah dan halaman. Senyuman manis nampak terkembang di wajah masing-masing karena mengingat apa yang baru saja mereka kerjakan.
"Apa sebelumnya kau pernah mencabut rumput di rumahmu?" Tanya Danesh. Walau sudah mengetahui jawabannya tapi Danesh ingin mendengar langsung jawaban dari istrinya itu.
Danesh meraih tangan Calista dan mengusapnya. "Lebih bagus dipotong saja semua kukunya kalau begini."
Calista terdiam. Perlakuan Danesh saat ini berhasil membuatnya menjadi tegang. Menyadari perubahan ekspresi Calista membuat Danesh segera melepaskan tangannya dari tangan Calista.
__ADS_1
"Oh ya, maukah kau berbagi sedikit cerita denganku?" Danesh mengalihkan pembicaraan ke arah lain untuk menghilangkan rasa tegang.
"Cerita apa itu?" Tanya Calista tidak paham.
"Cerita tentang hidupmu sebelum menikah denganku. Aku lihat selama kau mengajar di kampus kau tidak pernah dekat dengan pria mana pun atau pergi dengan pria mana pun. Maaf, apa kau tidak memiliki kekasih sebelumnya?
Calista terdiam. Pandangannya menerawang jauh mengingat masa lalunya bersama Dio.
"Jika kau tidak ingin bercerita maka aku tidak akan memaksa." Ucap Danesh.
"Aku akan menceritakannya." Jawab Calista cepat tak ingin Danesh jadi salah paham melihat perubahan ekspresi wajahnya.
Danesh memilih diam menunggu Calista yang ingin bercerita.
"Sebelumnya aku memiliki seorang kekasih. Tapi hubungan kami tidak bertahan semakin lama karena kami tidak berjodoh." Ucap Calista tanpa memperlihatkan ekspresi sedih.
__ADS_1
"Kenapa bisa tidak berjodoh?" Tanya Danesh merasa penasaran
***