
Calista dan Danesh sudah duduk di sebuah kursi besi bercat putih yang terletak di pinggir taman. Keduanya nampak diam menatap lurus ke depan seolah saling menunggu siapa yang berbicara lebih dulu.
"Kenapa kau tidak menerima hadiah apartemen itu?" Tanya Calista membuka suara. Ia menoleh menatap wajah tampan Danesh. Memperhatikan wajah itu lekat. Tidak ada yang kurang dari wajah calon suaminya itu. Wajahnya yang putih, rambut lurus dan tebal, alis tebal, hidung mancung dan bibir bervolume membuatnya menjadi spek idaman para wanita tapi tidak dirinya.
"Karena aku tidak menginginkannya. Menerimanya sama saja membuatku belajar untuk malas-malasan." Jawabnya singkat.
Kening Calista mengekerut. Kurang paham dengan apa yang Danesh katakan. "Malas-malasan? Maksudnya seperti apa?"
Danesh yang sejak tadi tak memperhatikan lawan bicaranya akhirnya menoleh. Sial sekali. Baru menatap wajah Calista saja sudah membuat Danesh terpesona. Matanya yang indah dan bibirnya yang mungil membuat Danesh jadi gagal fokus.
"Kenapa diam?" Calista kembali bersuara. Tidak merasa gugup sama sekali walau Danesh memusatkan pandangan pada matanya.
"Jika aku menerimanya itu sama saja membuatku menjadi tidak berpikir mencari tempat tinggal. Bukan hanya itu saja, menerima hadiah itu juga bisa membuatku tidak berjuang sejak awal. Jika dari awal sudah menampung tangan lalu bagaimana untuk selanjutnya."
"Kau bilang tadi kau ingin membawaku tinggal di rumah kontrakan. Maaf, aku tidak bermaksud meremehkanmu. Tapi kau belum bekerja saat ini. Bagaimana bisa kau membayar kontrakan itu?"
Danesh menatap intens wajaha Calista. "Aku akan bekerja dan mengusahakan memberikan hidup yang layak untukmu."
"Tapi kau masih kuliah? Apa kau yakin akan bekerja sambil kuliah? Kuliahmu juga sudah mendekati semester akhir. Kau akan disibukkan membuat skripsi nantinya di semester tujuh."
__ADS_1
"Aku bisa melakukannya. Jika kau percaya padaku maka semua akan berjalan dengan mudah."
Calista tertegun mendengarnya. Jawaban Danesh benar-benar di luar ekspetasinya. Jawaban Danesh berhasil meruntuhkan pemikiran Calista jika calon suaminya itu adalah anak yang manja dan hanya bisa mengandalkan uang dari kedua orang tuanya saja.
"Aku juga bisa membantumu untuk menghidupi keluarga kita." Akhirnya perkataan itu keluar dari mulut Calista.
"Tidak. Selagi aku bisa jangan pernah membantuku. Simpan uang hasil kerja kerasmu untuk dirimu sendiri. Aku tahu keperluanmu cukup banyak."
Calista terdiam beberapa saat. Ia dapat melihat jika Danesh bersungguh-sungguh saat mengatakannya.
"Baiklah. Aku terima keputusanmu. Semoga saja semua berjalan dengan lancar."
Srek
Ada yang berbeda di dalam hati Calista setelah melihat senyuman itu. Namun Calista buru-buru menghilangkan rasa di hatinya dengan mengajak Danesh masuk ke dalam rumah.
Melihat Danesh dan Calista sudah kembali membuat percakapan di antara orang tua terhenti.
"Kenapa mereka diam? Apa mereka membicarakan kita?" Tanya Danesh pelan pada Calista.
__ADS_1
Calista hanya menatap wajah Danesh tanpa menjawabnya.
"Apa kalian sudah selesai berbicara?" Tanya Dad Raka setelah keduanya berada dekat dengan mereka.
"Sudah. Apa Daddy sudah mau pulang?" Danesh balik bertanya.
"Ya. Waktu sudah cukup malam dan sudah saatnya kita pulang."
"Baiklah." Jawab Danesh lalu berpamitan pada kedua orang tua Calista untuk pulang ke rumahnya.
"Calon istri. Aku pulang dulu." Pamit Danesh pada Calista.
"Kau..." Calista berucap lirih dengan mata membola.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Danesh dan Cal update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Ke 2, ya🖤
__ADS_1
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗