Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Dua wanita rubah


__ADS_3

"Jika aku percaya aku tidak akan bertanya kepadamu. Aku pasti langsung menuduhmu yang bukan-bukan." Jawab Calista.


"Syukurlah kalau begitu. Aku tahu istriku ini adalah wanita yang bijak. Dia tidak akan terpengaruh dengan perkataan orang di luar sana sebelum memastikannya langsung." Puji Danesh.


Calista tak menyurutkan kedataran di wajahnya. Walau merasa lega mendengar jawaban Danesh, namun tetap saja di dalam hatinya ia merasa tidak suka ada wanita yang mengaku pacar dari suaminya.


"Masih datar saja. Jelek tahu wajahnya begitu." Tangan Danesh terulur mengusap rambut panjang Calista.


Calista sedikit memanyunkan bibir. Gemas sekali dengan sikap suaminya yang masih mencoba menggodanya di saat yang tidak tepat.


"Calista, aku tidak tahu kedepannya akan seberapa banyak kau mendengarkan rumor yang tidak baik tentangku. Tapi aku selalu berharap kau tidak langsung menyimpulkan apa yang orang lain katakan sebelum bertanya kepadaku." Pinta Danesh.


Calista dapat melihat ketulusan Danesh saat mengatakannya. Selama menikah dengannya tidak terlihat sikap aneh dari dalam diri suaminya. Danesh bersikap layaknya suami bertanggung jawab pada umumnya yang selalu memprioritaskan istrinya.


"Aku juga berharap yang demikian." Jawab Calista. Walau belum bisa memastikan apakah ia bisa mencintai Danesh atau tidak, namun Calista tetap ingin rumah tangganya dan Danesh baik-baik saja kedepannya.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih karena sudah menjadi istri yang baik untukku."


"Terima kasih juga karena kau juga demikian." Jawab Calista lalu keduanya saling tersenyum secara bersamaan.


*


Danesh menatap wanita yang berdiri di depannya saat ini dengan tatapan tak terbaca. Sudah sejak lima menit yang lalu wanita yang ada di depannya saat ini terus melontarkan pertanyaan dan kata-kata kepadanya namun Danesh tak kunjung menjawabnya.


"Ayo katakan Danesh. Ada hubungan apa kau dengan wanita yang bernama Inez itu. Kenapa dia datang mencari kekasihmu ke sini?" Desak wanita yang tak lain adalah Audrey.


"Tentu saja aku akan..." Audrey bingung harus menjawab apa. Setidaknya saat ini ia sadar jika Danesh sudah memutuskan hubungan mereka.


"Jangan pernah lagi mengganggu hidupku atau mengaku yang tidak-tidak pada siapapun itu." Tekan Danesh lalu berlalu begitu saja dari hadapan Audrey. Sudah cukup lima menit waktunya terbuang mendengarkan perkataan tidak penting dari mulut Audrey.


"Danesh... tunggu dulu aku belum selesai bicara!" Audrey berteriak memanggil nama Danesh namun Danesh memilih menulikan telinga dan terus berjalan menjauhi Audrey.

__ADS_1


"Wanita gila!" Umpat Danesh setelah masuk ke dalam mobilnya. Jika sudah begini rasanya Danesh menyesal telah memiliki banyak mantan yang pada akhirnya mengusik ketenangan hidupnya.


Baru saja Danesh dipusingkan dengan sikap Audrey, kini Danesh sudah kembali dipusingkan dengan sikap Inez. Tak berbeda dengan Audrey, Inez pun turut mempertanyakan hal yang sama pada Danesh.


"Jadi benar wanita bernama Audrey itu adalah kekasihmu?" Tanya Inez karena Danesh hanya diam saja.


"Apa untungnya jika aku menjawab pertanyaanmu?" Danesh balik bertanya.


"Aku..." geram sekali Inez rasanya karena terjebak dengan pertanyaan yang Danesh balikkan kepadanya.


"Aku rasa pertanyaanmu tidak penting karena tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku." Ucap Danesh lalu berlalu meninggalkan Inez begitu saja.


Inez yang tidak terima ditinggalkan dalam rasa penasaran segera mengejar langkah Danesh dan mencoba menghentikannya.


"Jangan menggangguku!" Tatapan tajam yang dihunuskan Danesh kepadanya berhasil membuat Inez terdiam ditempatnya.

__ADS_1


***


__ADS_2