
Untuk yang kedua kalinya akhirnya Calista harus berlapang dada melepaskan suaminya berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan di sana. Calista mencoba tetap tersenyum pada Danesh yang nampak berat meninggalkannya dalam keadaan hamil.
"Jangan sedih begitu. Aku kan akan menyusulmu satu bulan lagi." Calista mengusap lengan suaminya dengan sayang. "Aku berjanji akan mengabari keadaanku di setiap waktu kepadamu. Aku tidak akan lagi menyembunyikan apa pun darimu."
Danesh menghembuskan napas kasar di udara. Bagaimana pun Calista mencoba menenangkannya namun tetap saja ia tidak akan bisa tenang meninggalkan istrinya itu.
"Berjanjilah jika kau akan menepati janjimu dengan baik. Aku tidak ingin lagi kau menyimpan sebuah rahasia kepadaku."
Calista menganggukkan kepalanya. "Suamiku tenang sana. Istriku berjanji tidak akan nakal lagi." Kelakar Calista.
Danesh berhasil tertawa mendengarnya. Pandai sekali istrinya bercanda di saat suasana sedang serius seperti saat ini.
"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik di sini."
Calista menyamarkan rasa sedihnya dengan mencoba tersenyum. Ia memeluk tubuh Danesh erat sebelum Danesh pergi meninggalkannya. Danesh pun memberikan ciuman di kening Calista sebelum akhirnya pergi meninggalkan Calista.
__ADS_1
"Calista..." Mommy Dioa mengusap lembut rambut putrinya yang sedang menatap nanar kepergian suaminya.
Calista mencoba masih tetap tersenyum namun sialnya air matanya luruh begitu saja. "Cal baik-baik saja, Mom." Ucap Calista saat Mom Diora ingin bersuara.
"Kau tidak baik-baik saja, Nak. Sini peluk Mommy." Mom Diora merentangkan kedua tangannya.
Calista segera masuk ke dalam pelukan mommynya dan menangis tersedu-sedu di dalam pelukan mommynya. Tangisan yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah ruah juga.
Tak ingin putrinya menjadi pusat perhatian orang-orang karena menangis di tengah bandara, Dad Berto pun membawa Calista dan Mom Diora pergi meninggalkan bandara.
*
Seorang wanita yang sejak awal menaruh ketertarikan pada Danesh terus mencoba mendekati Danesh walau pria itu selalu menunjukkan wajah penolakan kepadanya.
"Hai, Danesh. Akhirnya kau kembali setelah satu minggu ini menghilang."
__ADS_1
Danesh hanya diam sambil terus berjalan ke arah ruangan kelasnya berada tanpa memperdulikan suara wanita yang sedang berjalan di sebelahnya.
Wanita bernama Carol itu tanpa rasa malu terus saja mengikuti Danesh walau Danesh tak menghiraukan keberadaannya.
"Oh ya, Danesh. Satu minggu menghilang kau pergi kemana?" Carol kembali bertanya saat mereka sudah masuk ke dalam kelas.
"Kemana pun aku pergi itu bukan urusanmu." Jawab Danesh dengan tatapan setajam silet. Sebal sekali dirinya terus dibondong pertanyaan oleh Carol.
Bukannya sakit hati mendengarkan jawaban Danesh, Carol justru tersenyum. Hatinya merasa senang karena Danesh akhirnya bersuara. "Iya sih bukan urusanku. Tapi kan aku tidak salah jika bertanya." Jawab Carol.
Danesh mendengus. Tidak tahu diri sekali wanita bernama Carol ini. Sudah jelas ia menunjukkan rasa tidak suka namun Carol tak peka juga.
Dari pada meladeni Carol, Danesh lebih memilih menghidupkan musik di ponselnya sambil menunggu dosen yang akan mengajar mereka tiba.
Carol yang menyadari Danesh tak bisa diajak bicara lagi pun memilih pergi ke kursi teman wanitanya berada.
__ADS_1
***