Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Bantu aku, Cal!


__ADS_3

Jalanan yang cukup padat malam itu tidak bisa membuat Mike melakukan tugasnya dengan baik melajukan mobil dengan kecepatan cepat. Entah sudah berapa kali Danesh mengumpati Mike karena membawa mobil layaknya seekor siput yang sedang berjalan.


"Aku belum ingin mati, Danesh!" Pekik Mike saat suara keras Danesh kembali terdengar.


"Sial!" Danesh kembali mengumpat. Ia sudah kepalang tanggung namun situasi dan kondisi tidak memungkinkannya untuk cepat sampai.


Akhirnya setelah dua puluh menit berlalu mobil milik Mike pun sampai di depan kontrakan Danesh. Mike mengatur nafasnya yang naik turun setelah melakukan atraksi balap liar yang diperintahkan oleh Danesh.


Sedangkan Danesh langsung keluar dari dalam mobilnya karena hawa panas di dalam tubuhnya semakin menggila.


Harry yang sudah keluar dari dalam mobil Danesh segera membantu Danesh berjalan ke arah pintu rumah.


"Bu Calista, Bu Calista!" Harry berteriak memanggil nama Calista.


Tak berselang lama pintu rumah terbuka dan memperlihatkan wajah cemas Calista di sana. "Ada apa ini?" Tanyanya sambil menatap wajah Danesh yang nampak memerah.


Danesh tak menjawab justru mengalihkan pandangan pada kedua sahabatnya. "Sekarang pergilah. Aku sudah tidak membutuhkan kalian!" Usirnya.

__ADS_1


Harry dan Mike mengumpat dalam hati. Bukannya berterima kasih, Danesh justru meminta mereka untuk pergi.


"Danesh, ada apa ini?" Tanya Calista. Wajahnya nampak semakin cemas melihat kondisi suaminya saat ini.


"Calista, ayo masuk ke dalam." Lirih Danesh dengan mata yang ikut memerah.


Calista mengiyakannya lalu membantu Danesh masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.


"Danesh, sebenarnya ada apa ini. Apa yang terjadi kepadamu?" Tanya Calista lagi.


"Seseorang menjebakku di acara ulang tahun perusahaan tadi." Masih berucap dengan lirih menahan hawa panas di dalam tubuhnya.


"Aku akan menjelaskannya nanti. Tapi bisakah sekarang kau menolongku? Aku bisa mati jika tidak ditolong olehmu." Pinta Danesh.


Kedua kelopak mata Calista terbuka lebar. Mendengar perkataan Danesh membuat Calista langsung mengerti apa yang terjadi pada suaminya saat ini.


Danesh segera meraih tubuh Calista dan memeluknya cukup erat. Kedua kelopak matanya tertutup rapat saat hawa panas itu kembali menguasai dirinya.

__ADS_1


Calista yang tidak ingin Danesh bersikap gegabah segera meminta Danesh untuk masuk ke dalam kamar mereka.


Baru saja masuk ke dalam kamar, Calista sudah dibuat terkejut mendapatkan ciuman secara tiba-tiba dari Danesh. Calista yang tidak siap hampir saja terhuyung ke belakang jika Danesh tidak segera menahan tubuhnya.


Calista dapat merasakan jika tubuh Danesh membutuhkan pelampiasan saat ini dari cara pria itu menciumnya.


Danesh yang sudah tidak kuat menahan hawa panas dalam tubuhnya segera menuntun Calista ke atas ranjang dan menggerayangi tubuh Calista dengan bibirnya.


Calista seakan pasrah menerima perlakuan dari suaminya sambil menahan geli di dalam tubuhnya.


"Maafkan aku jika menyakitimu." Lirih Danesh dengan nafas yang naik turun.


Calista hendak menjawab. Namun ciuman Danesh yang semakin turun ke bawah tubuhnya membuatnya mende-sah tak karuan.


Dan entah kapan itu, kini pakaian yang melekat di tubuh Calista sudah tenggorok mengenaskan di atas lantai. Melihat betapa indahnya tubuh istrinya membuat Danesh tak tahan mencumbunya kembali hingga meninggalkan beberapa bekas merah di tubuh Calista.


"Da-danesh..." mendengar suara tak tertahankan Calista membuat Danesh semakin tidak tahan dan segera melepaskan baju dan celana yang menghalangi pergerakannya untuk memerdekakan kadal di balik celananya.

__ADS_1


***


__ADS_2