Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Ternyata dia


__ADS_3

"Tidak ada. Aku hanya merasa tidak asing dengan plat mobilnya. Tunggu dulu, kau bilang apa tadi? Dosen baru? Apa maksudmu mobil ini milik dosen baru di fakultas kita?" Tanya Calista.


Rose menganggukkan kepalanya. "Dari yang aku lihat tadi sih begitu. Tapi untuk memastikannya kita bisa melihatnya nanti di kantor."


Calista mengangguk saja mendengarkan perkataan Rose. Keduanya pun akhirnya berjalan ke arah ruangan dosen berada sambil bercerita.


"Bagaiman hubunganmu dan Danesh, apa sudah banyak kemajuan?" Tanya Rose.


"Lumayan. Sekarang hubungan kami terasa lebih dekat."


"Syukurlah kalau begitu. Aku ikut senang dengan kemajuan hubungan kalian."


Calista tersenyum saja sambil terus melangkah bersama dengan Rose. Di tengah jalan mereka tiba-tiba menghentikan jalan saat mendengar suara Audrey yang sedang menceritakan Danesh.


"Aku sudah mencoba berbagai cara untuk menarik perhatian Danesh tapi dia tetap mengabaikan ku!" Gerutu Audrey pada teman wanitanya.


Calista dan Rose saling pandanga. Keduanya pun tersenyum bersamaan lalu melanjutkan langkah.

__ADS_1


"Dia terlalu terobsesi memiliki suamimu. Tidak tahu diri sekali. Sudah ditolak mentah-mentah oleh Danesh masih saja berniat mengejarnya." Rose menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


"Bukan hanya dia saja. Anak dari pemilik perusahaan tempat Danesh bekerja juga begitu." Sahut Calista.


Rose tertawa mendengarnya. "Itulah resiko memiliki suami tampan dan rupawan. Banyak wanita yang mendambakannya."


"Ya, ya. Itulah resikonya. Sama seperti Dio dulu. Tapi bedanya Dio yang suka tebar pesona pada banyak wanita." Sahut Calista.


Tawa Rose pecah mendengar perkataan Calista. Rose ingat jelas bagaimana sikap Dio saat menjalin kasih dengan Calista. Pria itu acap kali tebar pesona namun tetap memegang teguh pendirian jika ia tidak akan bermain api di belakang Calista.


"Sebentar lagi kita akan melakukan perkenalan dosen baru di fakultas ini. Saya harap kalian tunggu sebentar di sini sebelum masuk ke dalam kelas.


Rose dan Calista mengangguk mengiyakannya. Keduanya pun semakin penasaran seperti apa sosok dosen baru yang dimaksud kepala jurusan.


Beberapa saat kemudian, Calista dan Rose kini sudah duduk di kursi yang ada di dalam ruangan jurusan menunggu dosen baru masuk ke dalam ruangan bersama ketua jurusan.


Baru saja pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan bentuk dosen baru tersebut, Calista sudah dibuat terkejut melihat sosok yang sudah sejak lama tidak pernah dijumpainya lagi.

__ADS_1


"Reza..." lirih Calista dengan kedua kelopak mata terbuka lebar.


Pria yang disebutkan namanya tersenyum pada Calista seolah tidak terkejut melihat keberadaan Calista di sana.


"Kau mengenalnya, Cal?" Bisik Rose pada Calista.


Calista hanya diam saja karena kini pemikirannya mulai menebak-nebak untuk apa Reza menjadi dosen baru di kampus milik keluarganya sedangkan dirinya sudah sukses menjadi pemimpin di perusahaan milik kelurganya yang berada di Surabaya.


Perkenalan dosen baru pun dimulai. Reza memperkenalkan dirinya pada seluruh dosen yang ada di dalam ruangan. Selama perkenalan berlangsung Calista mencoba bersikap biasa saja menatap pada Reza yang dulunya pernah menjadi masa lalunya saat masih sekolah.


Sedangkan Reza, pria itu sesekali menatap Calista dengan senyuman yang tidak dapat Calista artikan apa maksudnya.


"Senang karena kita bisa bertemu lagi setelah lebih sepuluh tahun berpisah." Ucap Reza pelan saat menyalami Calista.


***


Vote dan gift dulu yuk sebelum lanjutšŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2