
Setelah pembicaraan mereka malam itu, akhirnya Danesh memutuskan untuk menerima beasiwa yang ditawarkan kepada. Keputusan Danesh bukan hanya didukung oleh Calista tapi juga mertua dan kedua orang tuanya.
Daddy Berto yang tidak ingin Danesh terlalu mengkhawatirkan Calista pun menjanjikan akan menjaga Calista dengan sebaik mungkin. Pun dengan Dad Raka yang ikut menjanjikan akan menjaga menantu mereka dengan baik.
Perasaan Danesh setidaknya sedikit lega mendengar kedua orang tuanya dan mertuanya bersepakat menjaga Calista dengan baik. Setidaknya selama ia berada di negeri orang istrinya berada di tangan yang tepat.
Satu bulan setelah mengambil keputusan menerima beasiswa akhirnya Danesh pun diwisuda. Betapa bangganya hati Calista dan kedua orang tua mereka mendengar Danesh menjadi pemuncak di acara sarjana hari itu.
"Selamat atas keberhasilanmu, Sayang. Aku bangga kepadamu." Ucap Calista saat Danesh sudah keluar dari dalam ruangan wisuda.
"Terima kasih, Sayang. Semua juga berkat doa darimu." Jawab Danesh.
Kedua orang tua mereka pun memberikan selamat pada Danesh termasuk David yang ikut hadir saat itu. Harry dan Mike yang ikut diwisuda hari itu pun ikut memberikan selamat pada Danesh atas penghargaan yang ia dapatkan.
Setelah selesai dengan urusan di tempat wisuda, Danesh dan Calista pun membawa keluarga mereka untuk melakukan sesi foto bersama di studio yang sudah Danesh sewa.
Kebahagiaan dan kesedihan bersatu di hari yang sama. Setelah bahagia dengan acara wisuda Danesh, mereka akhirnya merasa bersedih karena esok hari adalah waktu ke berangkatan Danesh ke luar negeri.
__ADS_1
Calista yang paling merasa sedih karena akan ditinggalkan oleh suaminya sebisa mungkin menyembunyikan rasa sedihnya. Ia terus memasang wajah tersenyum saat Danesh menatapnya dengan sendu.
"Besok aku akan pergi. Rasanya berat sekali harus meninggalkanmu." Danesh memeluk erat tubuh Calista. Bulir air mata terasa jatuh membasahi pipi putihnya.
Calista sekuat mungkin menahan diri agar tidak menangis. "Jangan khawatirakan aku yang berada di sini. Berjuanglah suamiku. Kau pasti berhasil di sana." Ucap Calista dengan helaan nafas yang terasa berat.
"Cal..." pelukan Danesh di tubuh Calista terasa semakin erat.
Pertahan Calista pun akhirnya runtuh saat menyadari suaminya tengah menangis. "Jangan seperti ini. Kau tidak boleh menangis." Ucap Calista tersendat-sendat.
Danesh tak menghiraukan perkataan Calista. Ia masih saja menangis memeluk erat tubuh istrinya.
"Tak apa. Aku tahu kau memiliki kewajiban di sini." Jawab Danesh.
"Jangan bersedih lagi. Sekarang ayo kita tidur. Kau harus berangkat pagi esok hari." Ajak Calista.
Danesh mengiyakannya.
__ADS_1
Malam itu Danesh dan Calista tidur saling berpelukan. Menyalurkan rasa cinta yang sangat besar dari hati masing-masing lewat pelukan yang mereka berikan.
Tanpa terasa hari telah berganti dan pagi itu Danesh, Calista besarta keluarga mereka sudah berada di bandara mengantarkan kepergiaan Danesh.
"Jaga dirimu baik-baik. Berjanjilah untuk tetap bahagia walau aku berada jauh darimu." Ucap Danesh sebelum pergi meninggalkan Calista.
Calista mengangguk lalu memeluk erat tubuh Danesh. "Aku sangat mencintaimu."
"Begitu pula denganku." Jawab Danesh lalu memberikan ciuman di pucuk kepala Calista.
Danesh pun akhirnya melangkahkan kaki dengan berat hati meninggalkan istrinya yang akhirnya menangis menatap kepergiaannya.
Bruk
Tubuh Calista tiba-tiba ambruk begitu saja setelah sosok Danesh sudah tak terlihat lagi oleh matanya.
"Calista!"
__ADS_1
***