
Danesh sungguh merasa tidak nyaman dengan keberadaan anak dari bosnya itu di setiap saat ia sedang bekerja. Wanita itu terus saja mencari perhatiannya walau ia selalu mengacuhkannya. Sebenarnya Danesh sudah merasa sangat jengah tapi sebisa mungkin Danesh menahan dirinya agar tidak melakukan aksi protes pada atasannya karena ia masih memerlukan pekerjaannya saat ini.
Dapat Danesh bayangkan apa yang akan terjadi nanti jika ia protes dengan keberadaan wanita itu di setiap pemotretannya. Pastilah pekerjaannya yang akan terkena imbasnya.
Wanita yang bernama Inez itu sebenarnya cukup cantik. Dengan tubuh tinggi seksi dan kulitnya yang putih menambah kecantikan yang ada di dalam dirinya. Walau pun begitu tak membuat Danesh tertarik kepadanya. Semenjak menikah dengan Calista, Danesh tak lagi tertarik dengan wanita mana pun selain istrinya. Memiliki Calista yang sudah termasuk kategori sempurna di hidupnya sudah membuat Danesh merasa bersyukur memilikinya.
Danesh yang sudah selesai melakukan pemotretan sore itu nampak bersiap-siap untuk pulang. Ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas ransel miliknya lalu menyandangnya. Melihat Danesh sudah bersiap pergi dari dalam ruangan kerjanya membuat Inez dengan cepat menghampiri Danesh.
"Kau sudah mau pulang?" Tanya Inez. Memperlihat senyuman manis di wajaynya namun tak membuat Danesh terpesona melihatnya.
"Hm."
__ADS_1
"Apa aku boleh menebeng pulang denganmu? Kebetulan aku juga sudah mau pulang dan tadi tidak membawa mobil."
Danesh menatap datar wanita itu. Banyak sekali alasannya untuk bisa dekat denyannya. "Maaf, aku tidak bisa. Setelah ini aku ada janji dengan kekasihku." Jawab Danesh.
"Kekasih?" Kedua kelopak mata Inez terbuka semakin lebar. Ia cukup terkejut mendengar Danesh ternyata sudah memiliki seorang kekasih. Inez pun merutuki dirinya sendiri yang tidak memperkirakan hal itu. Wajar saja bukan jika pria spek sempurna seperti Danesh memiliki kekasih. Lagi pula wanita mana yang tidak tertarik dengan Danesh?
"Ya, kekasih. Aku tidak mungkin menumpangimu sebelum pergi menjemput kekasihku. Kekasihku akan marah dan cemburu jika kursi yang biasanya ia tempati ditempati oleh wanita lain."
"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi aku pulang dulu. Jika kau ingin menebeng kau bisa menumpang pada Cinta." Saran Danesh lalu melangkah keluar dari dalam ruangan meninggalkan Inez begitu saja.
Inez yang merasa tidak terima ditinggal begitu saja segera menyusul langkah Danesh. Setibanya di parkiran Inez dibuat terkejut tak percaya melihat mobil yang dimasuki oleh Danesh. Mobil sport bewarna merah keluaran terbaru yang sudah dapat Inez perkirakan berapa harganya digunakan oleh Danesh.
__ADS_1
"Bagaimana bisa dia memiliki mobil mewah itu? Bukannya dia berasal dari kalangan sederhana? Lalu kenapa dia bisa memiliki mobil berharga miliaran?" Tanya Inez dengan mata membola sempurna.
Inez terus memperhatikan mobil milik Danesh melaju hingga keluar dari pagar perusahaan. Baru kemarin ia melihat mobil yang digunakan Danesh bukanlah mobil yang terbilang murah kini Danesh sudah kembali datang membawa mobil sport terbarunya.
"Sebenarnya siapa dia? Kenapa aku merasa dia bukan berasal dari keluarga sederhana?" Gumam Inez.
Sementara Danesh yang tidak perduli jika Inez menatap kepergiannya sejak tadi memilih menghubungi Calista memberitahu jika ia akan menjemput Calista sebentar lagi.
"Tidak perlu dandan yang cantik. Kau sudah nampak sempurna di mataku istriku." Goda Danesh setelah Calista mengatakan kegiatannya saat ini.
***
__ADS_1