Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
BC - Kapan Giliranmu?


__ADS_3

Bayi berjenis kelamin laki-laki yang diberi nama Daffa kini menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya setelah bayi itu dipindahkan ke ruangan perawatan bersama ibunya.


Danesh dan Calista hanya bisa tersenyum melihat kedua ibu mereka saling berebutan untuk menggendong si kecil Daffa.


"Meisya, kini giliranku. Kemarikan Daffa." Mom Diora mengulurkan kedua tangannya pada Mom Meisya yang sedang menggendong Baby Daffa.


"Sabarlah Diora. Aku belum sampai lima belas menit menggendongnya." Protes Mom Meisya.


"Lama sekali. Kapan aku bisa menggendongnya kalau begini." Mom Diora jadi sebal. Padahal tangannya kini sudah gatal ingin menggendong cucunya.


Pada akhirnya Mom Meisya menyerahkan si kecil Daffa pada Mom Diora. Senyuman manis terkembang di wajah Mom Diora saat si kecil Daffa sudah berpindah posisi ke tangannya. "Cucu Oma." Ucapnya seraya menahan haru. Diperhatikannya pahatan di wajah Daffa yang terbilang sangat mirip dengan Danesh. Bahkan di bagian wajah Daffa tak memperlihatkan sama sekali kemiripan dengan Calista.


"Lihatlah, Cal. Daffa sangat mirip dengan Danesh." Mom Diora sampai mendekat pada Calistq untuk memperlihatkan wajah si kecil Daffa.


Calista jadi tersenyum menyadari perkataan Mommynya adalah benar. "Tidak adil sekali ya Mom, Cal yang mengandung, Danesh yang dapat nama." Kelakarnya.


Mom Diora jadi tertawa mendengarnya. "Seperti dirimu dulu. Saat lahir kau sangat mirip dengan Daddymu."

__ADS_1


Calista dan Danesh saling tersenyum.


"Aku harap kebaikan dan ketulusan hatimu akan turun kepada anak kita Daffa." Ucap Danesh seraya mengusap lengan istrinya.


"Kau ini bisa saja. Aku tidak sebaik itu." Sangkal Calista.


Mom Meisya yang sejak tadi menjadi pendengar pun mendekat pada mereka. "Tapi apa yang Danesh katakan itu benar, Cal. Kau sangat baik dan tulus."


"Mommy bisa saja." jawabnya tersenyum.


*


Kali ini David menurut menerima ajakan Dad Raka. Di balik wajahnya yang dingin ternyata di dalam hatinya David juga merasa sangat penasaran melihat wajah keponakannya secara langsung.


Beberapa waktu telah berlalu. Akhirnya Dad Raka, Dad Berto dan David pun telah sampai di negara A. Setibanya di negara A, ketiganya langsung memilih berangkat ke rumah sakit tanpa berniat mengistirahatkan tubuh lebih dulu.


"Cucu Opa." Dad Raka dan Dad Berto segera mendekat pada Daffa yang kini sedang berada di gendongan Danesh.

__ADS_1


David memilih berdiam diri di tempatnya berdiri. Ia memilih menatap wajah keponakannya dari jauh lebih dulu.


"David, akhirnya kau datang juga, Nak." Mom Meisya memeluk putra sulungnya.


David pun membalas pelukan Mom Meisya barang sejenak.


"Mom pikir kau tidak akan datang ke sini. Ternyata kau datang juga." Mom Meisya nampak senang sekali.


David hanya menarik tipis kedua sudut bibirnya mendengar perkataan Mom Meisya.


"David, apa kau tidak ingin melihat wajah keponakanmu. Wajahnya sangat mirip denganmu dan Danesh." Ucap Dad Raka sambil menatap David.


David tak menjawab. Ia lebih memilih melangkah mendekati Dad Raka dan Dad Berto.


"David, lihatlah keponakanmu sangat lucu sekali." Ucap Dad Raka.


David hanya berdehem membenarkan perkataan Daddynya.

__ADS_1


"Danesh sudah memberikan cucu kepada kami. Jadi kapan giliranmu yang memberikan cucu pada Mom dan Daddy?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Dad Raka membuat David merasa jengah untuk menjawabnya.


***


__ADS_2