
"Danesh, kau ini bicara apa? Kenapa merendah seperti itu? Semua orang punya proses dalam hidupnya. Dan aku menikmati proses yang sedang kita lewati saat ini. Lagi pula kau masih muda, kau bisa lebih sukses dari dia jika kau mau."
Danesh menipiskan bibir. Bagaimana pun perkataan Calista saat ini tetap saja membuatnya merasa rendah dari Dio yang bisa dikatakan adalah pria sempurna.
"Aku tidak ingin kau merendah seperti ini lagi. Aku akan menemani setiap proses yang sedang kau jalani. Aku percaya jika suatu saat nanti kau bisa lebih sukses dari dia."
Danesh tersenyum saja. Dibawanya tubuh Calista ke dalam pelukannya. Dihirupnya dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang terasa memabukkan untuknya.
Calista ikut tak bersuara. Ia hanya membalas pelukan Danesh dan membenamkan kepalanya ke dada bidang suaminya.
*
__ADS_1
Semenjak mengetahui siapa mantan kekasih Calista, Danesh tidak henti mencari tahu jejak karir Dio dari mulai kuliah sampai saat ini. Melihat perjuangan Dio yang terlalu besar untuk memajukan usahanya membuat Danesh sedikit minder saat menyadari dirinya tidak ada apa-apanya dari Dio.
Sejak kuliah Dio sudah merintis usahanya sendiri sedangkan dirinya, sejak awal kuliah hanya fokus dengan berganti-ganti wanita. Walau dulu Dio juga dijuluki playboy seperti dirinya namun tidak membuat Dio hanya fokus pada wanita saja.
"Danesh, kau sangat lemah!" Rutuk Danesh pada dirinya sendiri.
Sebuah pertanyaan besar pun muncul di kepala Danesh. Bagaimana bisa kedua orang tua Calista menaruh rasa percaya yang begitu besar kepada dirinya yang belum ada apa-apanya untuk menjadi suami dari Calista. Apa kedua orang tua Calista tidak takut jika nantinya putri mereka tidak bahagia bersama dirinya? Pertanyaan itu akhirnya mengusik pemikiran Danesh.
Danesh hanya diam dengan wajah datarnya. Di dalam kantin pagi itu hanya ada Danesh dan Harry hingga keduanya bisa berbicara dengan bebas tanpa takut ada yang mendengar termasuk para penjual di kantin.
"Apa menurutmu Calista bisa bahagia jika bersamaku?" Tanya Danesh.
__ADS_1
"Tentu saja. Kebahagiaan itu hadir bukan hanya karena harta saja. Kau bisa memberikan kebahagian lebih pada Bu Calista lewat perhatian dan kasih sayangmu. Dari yang aku lihat saat ini Bu Calista bahkan jauh lebih berisi dibandingkan sebelum menikah dulu."
Danesh menoleh menatap wajah Harry. "Benarkah begitu?" Tanyanya memastikan.
"Ya. Sampai saat ini aku tidak melihat jika Bu Calista hidup denganmu. Bu Calista terlihat lebih bahagia setelah bersamamu. Buktinya saja dia mudah tersenyum sekarang."
Danesh tersenyum tipis mendengarnya. Perkataan dari Harry setidaknya cukup membuat hatinya merasa lega.
"Sebentar lagi kita akan memasuki semester akhir. Jika kau ingin lebih cepat untuk sukses maka berusahalah dari sekarang. Selesaikan kuliahmu dengan cepat dan segera cari pekerjaan yang lebih bagus lagi. Atau jika kau mau, kau bisa membuktikan kualitas yang kau punya dengan bekerja di perusahaan milik keluargamu. Jika bekerja di sana aku yakin kau bisa memberikan harta yang berlimpah untuk Bu Calista."
"Tidak. Aku akan berjuang sendiri tanpa mengandalkan keluargaku." Ucap Danesh mematahkan saran Harry.
__ADS_1
***