Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Apa aku harus menjawabnya?


__ADS_3

Calista menggeleng pelan sambil menatap intens wajah Rose. "Aku belum hamil. Bagaimana aku bisa secepat itu hamil sedangkan aku baru saja melakukannya dua kali." Bisik Calista.


Kedua kelopak mata Rose terbuka lebar. "Apa? Dua kali!" Kali ini suaranya terdengan cukup besar hingga menarik perhatian dosen lainnya.


"Rose..." Calista menggeram mendengar suara besar Rose.


"Maaf, maaf." Rose mengatupkan kedua tangan di dada. Ia menatap ke arah rekan kerjanya yang lain sambil mengembangkan senyum lalu kembali memusatkan pandangan pada Calista. Kemarin sahabat baiknya itu baru saja bercerita jika dirinya dan Danesh sudah melakukan adegan yang iya-iya untuk pertama kalinya. Dan tadi Calista berbicara sudah dua kali melakukannya. "Jangan bilang jika tadi malam kau melakukannya lagi dengan Danesh?" Tanyanya tak ingin berpikir sendiri.


Calista menganggukkan kepalanya. "Efek obat itu masih tersisa di tubuh Danesh."


Rose mengerutkan bibir. Tidak masuk akal sekali jawaban Calista kali ini.


"Aku tidak menyangka jika kau pada akhirnya akan melakukannya dengan Danesh." Rose memilih berpindah posisi tempat duduk dari sebelah Calista menjadi berhadapan dengan Calista.


"Hust... pelankan suaramu. Jangan sampai ada yang tahu!"

__ADS_1


Rose mengangguk-anggukkan kepalanya. Di tengah pembicaraan mereka tentang aktivitas Danesh dan Calista tadi malam, keduanya dikejutkan dengan pemberitahuan salah satu rekan kerja mereka jika besok pagi mereka akan kedatangan dosen baru di fakultas mereka.


"Dosen baru? Siapa?" Tanya Rose pada Calista.


Calista mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu. Apa kau tidak melihatnya di grup?"


Rose menggeleng. "Tidak ada biodata tentang dosen baru. Sepertinya sedikit rahasia. Kau bisa bertanya pada Om Berto jika penasaran!" Saran Rose.


"Tidak penting sekali. Siapapun dosen baru di kampus ini tidak akan merugikan dan menguntungkan aku."


Di tempat berbeda, Danesh terlihat memasuki perusahaan tempat ia bekerja dengan wajah datar. Baru saja ia masuk ke dalam ruangan ganti pakaian ia sudah dicecar dengan banyak pertanyaan oleh Inez.


"Danesh, kenapa kau tidak masuk bekerja kemarin? Dan kenapa kau tidak mengangkat telefonku?" Tanya Inez bertubi-tubi.


Danesh menatap datar wajah wanita rubah di depannya saat ini. "Apa pertanyaanmu harus dijawab? Dan apa untungnya jika aku menjawabnya?" Tanya Danesh.

__ADS_1


Wajah Inez memerah memendam kekesalan yang teramat pada Danesh. Ia sedang serius saat ini tapi Danesh bisa-bisanya tidak mau menjawab pertanyaannya.


"Baiklah kalau kau tidak mau menjawab pertanyaanku yang tadi. Sekarang apa kau bisa menjawab kemana kau pergi di malam pesta perusahaan dua hari yang lalu? Kenapa sebelum acara selesai kau sudah menghilang?"


Semakin datar dan dingin saja wajah Danesh menatap wajah Inez. Jika tidak mengingat Inez adalah wanita mungkin saja gempalan tangannya sudah melayang di wajah mulus Inez.


Tidak ingin tersulut emosi karena melihat wajah Inez, Danesh memilih pergi meninggalkan ruangan ganti menuju ruangan pemotretan dimana Cinta berada saat ini.


"Danesh, ada apa denganmu?" Tanya Cinta melihat kekesalan di wajah Danesh.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Danesh singkat.


"Oh ya, kenapa di saat malam pesta kemarin kau tiba-tiba saja menghilang? Inez sangat sibuk mencarimu malam itu? Kemarin dia juga sibuk mencarimu dan menghubungimu tapi kau mengabaikan panggilan darinya."


"Jangan membahas wanita itu lagi." Ucap Danesh singkat tanpa menjawab pertanyaan Cinta.

__ADS_1


***


__ADS_2