Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Perasaan Itu Sudah Hilang


__ADS_3

Waktu ujian semester akhir akhirnya tiba. Pagi itu Danesh nampak sudah rapi dengan setelan kemeja putih dan celana hitam melekat di tubuhnya. Setelah memastikan penampilannya tidak ada kurang sedikit pun, Danesh segera keluar dari dalam kamar untuk menghampiri Calista yang sedang sibuk menghidangkan sarapan di dapur.


"Danesh, kau sudah siap. Ayo kita langsung sarapan saja." Ajak Calista.


Danesh menganggukkan kepalanya lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Calisa.


"Hari ini adalah ujian pertama di semester akhir. Aku harap kau dapat mengerjakan ujianmu dengan baik." Ucap Calista sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.


"Semoga saja." Jawab Danesh seraya tersenyum.


Calista ikut tersenyum namun di dalam hatinya merasa awas karena akhir-akhir ini Danesh terlalu sibuk bekerja hingga tidak memiliki waktu luang untuk belajar. Buktinya saja kemarin, Danesh sudah tiba di rumah pukul sepuluh malam dan langsung tertidur setelah membersihkan tubuhnya. Calista bahkan tidak melihat Danesh mempelajari materi ujian setelah Danesh bangun tadi pagi.


Dua puluh menit berlalu Calista dan Danesh sudah selesai menghabiskan makanan mereka masing-masing. Tidak ingin mengundur waktu lama, keduanya langsung saja berangkat ke kampus menggunakan mobil masing-masing.


Kedatangan Calista ke kampus pagi itu disambut dengan senyuman oleh Reza yang sudah berada di dalam ruangan dosen. Calista hanya membalas senyuman di wajah Reza tanpa berniat berbasa-basi dengan Reza.

__ADS_1


"Hari ini mengawas ujian dimana?" Tanya Reza membuka percakapan di antara mereka.


"Gedung B kelas 202." Jawab Calista singkat tanpa berniat bertanya balik pada Reza.


"Kebetulan sekali. Aku juga mengawas di gedung yang sama."


"Oh..." Calista mengangguk-anggukkan kepalanya.


Kedatangan Rose ke ruangan dosen menghentikan niat Reza yang ingin melanjutkan pembicaraan dengan Calista.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan pertanda waktu ujian akan segera dimulai. Calista yang sudah selesai mengecek lembaran ujian langsung saja bangkit dari duduknya dan mengajak Rose untuk pergi bersama ke ruangan ujian.


Lagi, Reza harus menelan kekecewaan karena wanita pujaan hatinya tidak memberikan celah kepadanya untuk dekat dengannya


"Aku lihat sepertinya Pak Reza masih menaruh harapan kepadamu, Cal." Ucap Rose sambil melangkah bersama Calista.

__ADS_1


"Benarkah begitu? Tapi aku rasa juga demikian. Beberapa kali dia mencoba mendekatiku tapi aku selalu mengabaikannya."


"Apa kau tidak memiliki perasaan lagi kepadanya? Maksudku mungkin perasaanmu tumbuh kembali setelah sering bertemu dengannya."


Calista tertawa mendengarnya. "Tentu saja tidak, Rose. Aku tidak memiliki perasaan apapun kepadanya. Perasaan itu sudah mati sejak dia memutuskan pergi meninggalkan aku."


Rose dapat melihat keseriusan di wajah Calista saat mengatakannya.


"Aku hanya ingin fokus pada suamiku saja saat ini. Aku harap dia tidak lagi menaruh harapa kepadaku setelah sering aku abaikan."


Rose menganguk-anggukkan kepalanya. Di dalam hatinya Rose merasa lega karena hati Calista tidak berpaling karena kedatangan Reza yang berstatus cinta pertama Calista saat masih sekolah dulu.


Calista dan Rose akhinya berpisah satelah Calista sampai di depan ruangan kelas 202. Saat baru saja masuk ke dalam kelas, Calista dibuat terkejut karena ternyata ada Danesh di dalam kelas tersebut.


"Danesh, ternyata aku mengawasi kelas ujianmu hari ini." Lirih Calista sambil menatap wajah Danesh yang sedang tersenyum kepadanya."

__ADS_1


***


__ADS_2