
Danesh dan Calista nampak sudah pergi meninggalkan rumah saat waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Keduanya berangkat ke kampus menggunakan mobil masing-masing. Untung saja tadi pagi orang suruhan Dad Berto datang tepat waktu mengantarkan mobil Calista hingga tidak membuat Calista bingung berangkat ke kampus menggunakan apa.
Mobil Calista sampai lebih dulu di kampus Dibandingkan mobil Danesh. Calista memarkirkan mobil di parkiran khusus dosen sedangkan Danesh yang baru saja sampai memarkirkan mobil di parkiran mahasiswa.
Pandangan Calista sejenak tertuju ke arah parkiran mahasiswa sebelum melangkah ke arah ruangan dosen. Di parkiran mahasiswa terlihat Danesh tengah dihadang oleh Audrey.
Calista menyaksikan keduanya yang kini terlibat perdebatan. Danesh melawan perkataan Audrey dengan wajah datarnya sedangkan Audrey berkata dengan wajah bersungut-sungut.
Danesh yang terlihat tidak ingin meladeni Audrey lagi memilih pergi dari parkiran. Tentu saja pergerakan Danesh membuat Audrey dengan sigap mengikutinya dari arah belakang.
Calista segera beranjak dari posisinya saat Danesh melangkah ke arahnya. Ia tidak ingin Danesh mengetahui jika dirinya memperhatikan percakapannya dengan Audrey tadi.
"Sepertinya wanita itu tidak terima diputuskan oleh Danesh." Gumam Calista sambil melangkah.
"Danesh, tunggu!" Audrey yang berhasil menjangkau tangan Danesh mencekalnya kuat hingga membuat langkah Danesh terhenti.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Danesh. Tatapannya nampak dingin dan menusuk tajam.
"Te-tentu saja aku ingin kita kembali bersama. Aku tidak ingin diputuskan begitu saja!"
"Apa kau lupa apa yang aku katakan saat itu sebelum menerima cintamu? Kau harus terima di saat aku memilih untuk meninggalkanmu!" Tekan Danesh. Semangat paginya tadi seketika hilang berganti kekesalan karena sikap Audrey.
"Tapi apa alasan kau meninggalkan aku, Danesh. Aku sudah memberikan yang terbaik untukmu selama kita bersama!" Audrey memperlihatkan wajah sedihnya pada Danesh berharap Danesh kan iba.
Danesh mendecakkan lidah. Malas sekali terlibat drama dengan mantan kekasihnya itu. "Memangnya seberapa lama kita bersama? Apa menurutmu kita sudah menjalin hubungan selama satu tahun? Aku rasa satu bulan saja belum!" Tekan Danesh.
"Sudah sadar? Jika sudah maka menyingkirlah. Kau menghalangi jalanku!" Danesh melangkah melewati Audrey tanpa menunggu jawaban Audrey.
"Danesh..." Audrey berteriak memanggil-manggil nama Danesh namun Danesh menulikan telinga dan terus berjalan.
Perdebatan di antara keduanya ternyata dilihat oleh Rose yang baru saja sampai di kampus. Rose tertawa senang melihat Audrey yang ditinggal begitu saja oleh Danesh.
__ADS_1
"Anak itu... sudah tahu berpacaran dengan Playboy kampus masih saja mengharapkan Danesh setia." Kepala Rose menggeleng. Melihat sikap Danesh tadi meyakinkan Rose jika Danesh tidak berbohong jika sudah memutuskan kekasihnya.
Rose kembali melanjutkan langkah menuju ruangan dosen berada. Ia langsung menceritakan pada Calista apa yang didengarnya tadi setelah berada di ruangan dosen.
"Aku juga mendengarnya tadi. Audrey sepertinya tidak terima ditinggal oleh Danesh." Ucap Calista.
"Tentu saja. Wanita mana yang terima ditinggalkan pria sempurna seperti Danesh? Bukan hanya tampan, tapi Danesh juga memiliki keluarga yang kaya raya. Sudah pasti banyak wanita yang menginginkan dirinya."
"Termasuk kau?" Gurau Calista.
"Sembarangan saja. Aku mana mahu dengan sisa!" Rose ikut bergurau.
Keduanya tertawa.
"Oh ya, Cal. Apa kau sudah ini inu dengan Danesh?" Suara Rose memelan saat bertanya.
__ADS_1
***