Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Makanan Untuk Istri


__ADS_3

Danesh benar-benar merasa ngeri mendengarkan ancaman Calista. Tidak dapat ia bayangkan bagaimana nanti jika Calista benar melakukan ancamannya dengan menjambak rambut wanita yang mencoba mendekatinya.


Carol. Agh nama wanita pengganggu itu terbesit di kepalanya. "Apa Calista akan menjambak rambut Carol jika melihat wanita itu datang menggangguku?" Danesh akhirnya tertawa membayangkannya.


"Sayang, kenapa kau tertawa?" Calista sampai bangkit dari posisi berbaring mendengar suara tawa suaminya dari arah sofa. Ya, saat ini mereka sudah pindah ke dalam kamar setelah beberapa saat yang lalu berbicara sejenak di ruang tamu.


"Tidak ada." Danesh tersenyum. Berharap menghilangkan sisi galak di wajah Calista saat ini.


Jawaban Danesh ternyata tak berhasil membuat wajah galak Calista pudar justru semakin bertambah. Calista bahkan sampai turun dari ranjang mendekati suaminya.


"Kau berbohong kepadaku, kan? Sekarang ayo jawab kenapa kau tertawa?"


Danesh meneguk salivanya susah payah melihat ekspresi Calista saat ini. Terlebih saat ini Calista sudah berkacak pinggang menunjukkan ketidaksukaannya.


Pada akhirnya Danesh jujur juga hal apa yang membuatnya sampai tertawa. Mendengar jawaban Danesh jika yang membuat Danesh tertawa adalah dirinya sendiri membuat Calista segera mencubit pinggang suaminya.


"Jadi benar ya jika ada wanita yang mengganggumu di kampus?"

__ADS_1


"Ada beberapa. Kau harus mengerti sayang jika suamimu ini tampan dan banyak peminatnya." Kelakarnya.


"Danesh..." Calita nampak berang. Tak ingin membuat istrinya berubah menjadi macan galak, akhirnya Danesh segera meraih tubuh Calista dan memeluknya erat.


"Anak Daddy, Mommymu ini galak sekali." Adu Danesh pada janin Calista.


Calista tersenyum mendengarnya. Efek kehamilan benar-benar membuat hormonnya naik turun. Kadang mudah marah dan kadang mudah senyum-senyum sendiri hanya karena membayangkan wajah suaminya.


"Sekarang ayo istirahat lagi di atas ranjang. Kau pasti lelah dan butuh istirahat." Pinta Danesh.


"Aku mencintaimu suamiku. Dan aku tidak mau jika ada parasit yang mencoba menempel di tubuhmu." Gumam Calista sebelum masuk ke alam tidurnya.


*


Waktu sudah berganti malam. Danesh yang merasa khawatir karena Calista sudah melewatkan jam makan malamnya dengan terpaksa membangunkan Calista dari tidurnya. Ia tidak ingin membuat calon bayinya yang berada di dalam perut Calista menjadi kelaparan.


"Sayang, ayo bangun." Danesh menggoyangkan pelan tubuh Calista.

__ADS_1


Calista akhirnya bergumam dengan mata terpejam. Danesh pun memberikan pengertian agar Calista segera bangun untuk mengisi perutnya.


Akhirnya kedua kelopak mata Calista terbuka. Pandangan pertama yang ia lihat saat membuka mata adalah wajah tampan suaminya.


"Aku lelah. Bisakah kau menggendongku saja ke meja makan?" Pintanya manja. Jika tadi ia menolak tawaran Danesh yang ingin menggendongnya, kini Calista justrh menginginkannya.


"Baiklah Tuan Putri." Ucap Danesh lalu dengan hati-hati menggendong tubuh Calista lalu membawanya keluar dari dalam kamar.


Aroma khas ayam bakar tercium semerbak di hidung Calista saat mereka sudah dekat dengan dapur. Calista mengendus aroma tersebut lalu menatap ke arah meja makan berada.


"Kapan kau membeli makanan ini, Sayang?" Tanya Calista setelah duduk di meja makan.


"Tidak dibeli. Ini aku buat sendiri untuk kita." Jawab Danesh seraya menarik kursi untuk dirinya.


"Sayang, kau menyempatkan waktumu untuk memasak di saat aku sedang tidur?" Calista merasa haru dan tak enak secara bersamaan setelah mendengarnya. Di saat ia sedang asik tidur suaminya justru sibuk memasakkan makanan untuknya.


***

__ADS_1


__ADS_2