Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Tak Sabar Untuk Bersama


__ADS_3

Sejak pagi hingga siang hari telah tiba, Danesh nampak fokus mempelajari pekerjaan apa saja yang akan ia kerjakan selama bekerja di perusahaan. Jacob yang bertugas sebagai asisten sekaligus orang kepercayaan Daddy Raka dengan teliti mengajari Danesh satu persatu pekerjaan yang akan Danesh kerjakan untuk kedepannya.


Walau status Jacob terbilang lebih rendah dari Danesh yang berstatus anak dari pemilik perusahaan, namun Danesh tetap menghargai Jacob yang terus berbicara menyampaikan beberapa hal kepadanya.


"Menurut saya Tuan sudah mengerti hal apa saja yang harus Tuan kerjakan." Ucap Jacob setelah selesai berdiskusi dengan Danesh.


"Saya mengerti namun belum tentu bisa mengerjakannya dengan sempurna. Saya masih membutuhkan bantuanmu untuk membimbing saya."


Jacob menganggukkan kepalanya. "Saya siap kapan pun Tuan butuhkan."


Danesh tersenyum tipis. Ia cukup senang memiliki asisten seperti Jacob yang tidak banyak berbicara namun sigap dalam bekerja.

__ADS_1


Setelah menjelaskan banyak hal kepada Danesh, akhirnya Jacob pun mengantarkan Danesh menuju universitas karena siang ini Danesh memiliki jadwal kuliah di kampusnya.


Kedatangan Danesh siang itu disambut dengan bisik-bisik mahasiswa yang membicarakan tentang mobil yang baru saja pergi setelah mengantarkan Danesh.


Danesh yang dapat mendengar bisik-bisik mahasiswa tentangnya hanya diam sambil terus melangkah ke arah kelasnya berada.


Di tengah perjalanan, Danesh kembali dibuat sebal oleh tingkah Carol yang tiba-tiba saja sudah berjalan di sampingnya. "Danesh, siapa yang mengantarkanmu pergi kuliah tadi?" Tanya Carol. Wanita itu nampak penasaran dengan sang pemilik mobil yang mengantarkan Danesh.


Danesh memilih diam. Semakin banyak berbicara dengan Carol maka semakin membuatnya jengah saja.


"Sayang sekali siang itu aku tidak memiliki kelas yang sama dengan Danesh." Keluh Carol. Wanita itu tidak berani masuk ke dalam kelas yang tidak menjadi kelasnya siang ini. Ia akhirnya memilih menatap Danesh dari luar kelas saja.

__ADS_1


"Tunggu dulu." Carol tiba-tiba teringat akan sesuatu. "Bukannya Danesh berasal dari Indonesia dan sepertinya dia belum memiliki banyak teman di sini. Tapi kenapa tadi ada mobil mewah yang datang mengantarkannya? Apa mungkin Danesh memiliki saudara di kota ini." Carol dibuat bertanya-tanya.


*


Beberapa hari telah berlalu. Kini Danesh semakin sibuk kuliah ditambah bekerja di perusahaan. Calista yang mengetahui kesibukan suaminya dibuat bersedih karena takut Danesh terlalu memforsir tenaganya di negeri orang.


"Kenapa dua minggu terasa lama sekali. Aku sudah tidak sabar ikut menemani suamiku tinggal di sana." Keluh Calista sambil menatap kalender di layar ponselnya.


Sudah satu minggu sejak Danesh bekerja di perusahaan keluarganya, Calista dan Danesh sudah tidak lagi sering berkomunikasi seperti biasanya. Calista mencoba mengerti dengan kesibukan suaminya. Lagi pula tidak mungkin Danesh masih menghubunginya di saat ia sedang bekerja.


"Semoga suamiku baik-baik saja di sana dan tidak ada lagi wanita yang mencoba mendekatinya." Ucap Calista mengingat bagaimana agresifnya wanita yang mengejar Danesh selama ini.

__ADS_1


Harapan Calista tentu saja tidak terwujud mengingat sampai saat ini ada sosok wanita bernama Carol yang masih saja berusaha mendekati Danesh bahkan sampai diam-diam mengikuti pergerakan Danesh setiap harinya.


****


__ADS_2