Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Apa kau takut?


__ADS_3

Calista melebarkan kedua kelopak matanya saat melihat judul tiket yang baru saja keluar dari mesin tix id. Sebuah judul film bergenre horor Danesh pilih untuk mereka tonton beberapa menit lagi.


"Apa kau yakin kita akan menonton film horor?" Tanya Calista.


"Tentu saja yakin. Jika tidak kenapa aku membeli tiketnya." Jawab Danesh.


Calista bergedik ngeri. Bagaimana tidak, Calista yang sangat anti dengan film horor kini diajak untuk menontonnya. Tidak dapat Calista bayangkan bagaimana ekspresinya nanti saat adegan jumscare ditampilkan.


"Ayo kita masuk." Ajak Danesh. Dari pada bertanya apakah Calista menakuti film horor yang ia sudah ketahui jawabannya, Danes lebih memilih mengajak Calista untuk masuk ke dalam studi.


"Tapi..." Calista hendak mengajukan protes namun tarikan tangan Daniel mengurungkan niatnya untuk bersuara.


Kini Calista dan Danesh sudah duduk di sebuah kursi yang berada di paling belakang bioskop. Danesh sengaja memilih kursi yang berada di paling belakang dan sudut agar nanti ia bisa dengan bebas memeluk Calista jika saja wanita itu ketakutan dan memerlukan bantuan darinya. Licik memang tapi Danesh sangat mengharapkan itu.


Lima belas menit berada di dalam bioskop Danesh dan Calista lewati dengan bercerita kegiatan masing-masing hari ini. Hingga tibalah waktu film dimulai dan lampu di dalam bioskop mulai dimatikan.

__ADS_1


Baru saja film dimulai, Calista sudah dibuat merinding melihat adegan wanita yang sedang berlari karena dikejar dengan samurai oleh pria yang sedang kesurupan.


"Kau kenapa?" Tanya Danesh pelan sambil menahan senyum melihat Calista yang yang kini menutup mata.


Calista hanya diam sambil mengepalkan erat kedua tangannya.


Danesh memilih diam tak lagi mengajak Calista untuk berbicara sampai Calista meminta bantuan darinya.


Setengah jam film berputar Calista masih menunjukkan tanda-tanda takut di batas normal. Namun saat film sudah mendekati bagian inti Calista tak lagi bisa menahan rasa ketakutannya hingga tanpa sadar meraih tangan Danesh dan menggenggamnya cukup kuat.


Calista yang merasa sangat ketakutan memilih membiarkan Danesh terus memeluk tubuhnya sambil mengintip film yang masih berlanjut. Walau pun takut tapi Calista merasa penasaran juga dengan film tersebut.


Satu setengah jam berlalu, akhirnya film pun selesai. Lampu bioskop sudah menyala kembali dan Calista dengan cepat melepaskan tubuhnya dari pelukan Daniel.


"Kenapa tadi, takut ya?" Tanya Danesh sambil berjalan meninggalkan bioskop.

__ADS_1


"Ti-tidak. Hanya terkejut saja saat melihat hantunya." Kilah Calista.


Danesh mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menahan senyum. Susah sekali membuat istrinya itu jujur jika ia sangat takut dengan film yang berlangsung tadi.


"Aku pikir kau takut sampai tubuhmu bergetar begitu tadi." Ucap Danesh.


Calista hanya diam sambil mempercepat langkahnya hingga meninggalkan Danesh beberapa langkah di belakangnya.


"Hahaha..." Danesh tertawa kecil melihat sikap menggemaskan istrinya. Ia pun mempercepat langkahnya untuk menyusul Calista. "Buru-buru sekali jalannya seperti dikejar setan saja." Ucap Danesh setelah berhasil mengimbangi jalan Calista.


"Kalau bisa cepat kenapa harus lambat." Jawab Calista.


"Aku pikir kau takut dikejar hantu di film tadi." Ucap Danesh berniat menggoda istrinya lagi.


"Ish, diamlah Danesh." Ucap Calista dengan wajah sebal karena Danesh terus menggodanya.

__ADS_1


***


__ADS_2