
"Carol, kenapa kau terus saja berusaha mendekatinya padahal satu bulan ini dia selalu menunjukkan wajah dinginnya kepadamu?" Wanita bernama Jessy bertanya pada Carol yang baru saja duduk di sebelahnya.
"Karena dia berhasil membuatku merasa tertarik kepadanya. Selama kuliah di kampus ini aku belum pernah merasakan ketertarikan pada pria mana pun selain dia." Jawab Carol apa adanya.
"Tapi dia tidak demikian. Dia seperti tidak suka saat kau berusaha mendekatinya. Buktinya saja dia sering mengabaikanmu."
Carol tersenyum saja. Tidak peduli dengan sikap yang Danesh perlihatkan kepadanya. Menurutnya selagi Danesh tidak menendangnya maka ia akan tetap maju tanpa gentar.
"Yang seperti Danesh itu yang menarik. Tidak suka didekati wanita cantik seperti diriku. Dia sangat sempurna di mataku." Carol memberi tahu setelah cukup lama terdiam.
"Mungkin saja dia sudah memiliki kekasih hingga terus mengabaikanmu." Jessy mengatakan kemungkinan yang ada.
"Aku yakin tidak. Selama satu bulan dia tinggal di kota ini aku tidak pernah sekali pun melihatnya pergi bersama wanita mana pun."
__ADS_1
"Bisa saja kekasihnya berasal dari negara asalnya." Jessy kembali menyebutkan kemungkinan yang ada.
Perkataan Jessy berhasil membuat Carol terdiam. "Tidak. Jika pun Danesh memiliki seorang kekasih dari negara asalnya, aku yakin bisa menggantikan posisi kekasihnya tersebut."
"Carol, kau jangan gila. Untuk apa kau berusaha merebut Danesh dari kekasihnya sedangkan kau masih bisa mendapatkan pria lain yang juga mencintaimu."
Carol tersenyum saja. Ia tahu keputusannya sangat gila ingin merebut seorang pria dari kekasihnya. Namun mau bagaimana lagi, hati Carol sudah jatuh terlalu dalam untuk Danesh.
*
Setibanya di dalam kafe, Danesh mencari tempat yang nyaman untuk ia melakukan panggilan video. Sebuah kursi yang berada di lantai atas kafe akhirnya menjadi tujuannya.
Danesh duduk di kursi yang berada di sudut kafe lalu melakukan panggilan video dengan istrinya.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, Carol dan Jessy yang baru sampai di lantai atas memilih duduk di kursi yang berada tidak terlalu jauh dari Danesh berada. Danesh yang sedang fokus melihat wajah istrinya tidak menyadari keberadaan Carol dan Jessy karena posisi duduk Danesh membelakangi mereka.
"Kau dengar itu, Carol. Danesh tertawa." Jessy berbisik di telinga Carol agar perkataannya tak terbawa angin ke telinga Danesh.
Carol hanya diam. Ia mencoba mencuri dengar pembicaraan Danesh dengan seseorang di seberang sana. Namun tidak ada yang bisa Carol dengar selain suara lembut Danesh menjawab perkataan seseorang di seberang sana.
"Kenapa dia bisa bersikap hangat seperti itu." Lirih Carol dalam hati. Kali ini ia melihat dua sisi yang berbeda dalam diri Danesh. Danesh akan menjadi pria dingin di luar dan berubah hangat saat jauh dari orang sekitarnya.
Carol terus mendengarkan perkataan Danesh walau ia tidak terlalu mengerti bahasa Indonesia. Dan tiba-tiba saja jantung Carol seakan berhenti berdetak saat mendengar Danesh menyebutkan kata sayang untuk seseorang yang sedang berbicara dengannya.
"Dia bilang apa tadi, sayang?" Ulang Carol sambil menatap pada Jessy meminta jawaban.
"Sepertinya dia memang menyebutkan kata sayang baru saja." Jawab Jessy apa adanya.
__ADS_1
***