
"Ya. Aku tidak ingin anak dan istriku kelaparan setelah bangun tidur. Baiklah, sudahi banyak tanyanya. Sekarang ayo kita makan." Ajak Danesh sambil mengusap kepala istrinya sebelum Calista berbicara lebih panjang.
Kali ini Calista tak ingin mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri. Ia segera mengambil piring dan mengambilkan nasi beserta lauk untuk Danesh. Tak lupa Calista menuangkan air ke dalam gelas untuk suaminya.
"Terima kasih, Sayang." Danesh tersenyum.
Calista membalas senyuman Danesh lalu mengambil makanan dan minum untuk dirinya sendiri. Setelah siap, keduanya pun memulai makan bersama mereka malam itu.
Dua puluh menit berlalu, Calista dan Danesh selesai menghabiskan makanan di piring mereka masing-masing. Calista tak henti memuji kelezatan makanan buatan suaminya sejak awal menikmatinya sampai habis.
"Sayang, kau semakin pintar saja memasak setelah pindah ke sini." Puji Calista sambil mengusap perutnya yang terasa penuh.
Danesh tersenyum tipis. Semenjak hidup di rantau orang ia lebih suka memasak sendiri dari pada membeli makanan di luar jika ia sedang berada di apartemen. Namun jika sedang sibuk di kampus, Danesh memilih membeli makanan di luar.
"Aku jadi merasa mengabaikanmu semenjak kita tinggal berjauhan." Calista mengungkapkan isi hatinya. Di saat ia asik dengan hidupnya sendiri, Danesh justru sibuk mengurus kebutuhannya seorang diri
__ADS_1
"Kau ini bicara apa? Aku tidak merasa kau mengabaikanku selama ini." Danesh menyanggah perkataan istrinya.
Calista yang hendak menjawab pun mengurungkan niatnya saat tangan Danesh terangkat mengusap kepalanya. "Ayo kita pindah ke ruang tamu saja." Ajak Danesh.
Calista mengiyakannya. Sebelum pergi ia membereskan piring bekas makanan mereka lebih dulu dibantu oleh Danesh.
"Sayang, besok aku ikut mengantarkanmu pergi ke kampus, ya." Pinta Calista setah mereka duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Selain rindu melihat kampus tempat ia menempuh pendidikan beberapa tahun lalu, Calista juga penasaran dengan gerak-gerik suaminya selama di kampus.
"Boleh saja. Jadi maksudmu kau yang membawa mobilnya besok, begitu?" Tanya Danesh.
"Baiklah sayang. Terserahmu saja asal kau bisa memastikan kau dan Baby akan baik-baik saja."
"Siap komandan!" Calista memperagakan gerakan hormat.
Danesh mengusap kepala istrinya. Setiap saat istrinya itu selalu saja berhasil membuatnya merasa gemas kepadanya.
__ADS_1
*
Waktu yang dinantikan Calista pun tiba. Pagi itu Calista nampak sudah rapi dengan dress bewarna pastel yang melekat indah di tubuhnya. Danesh yang sudah siap untuk pergi ke kampus pun sudah rapi dengan setelan kemeja dan celana chino.
"Ayo berangkat sayang." Danesh menggenggam tangan istrinya. Membawa Calista keluar dari dalam apartemen mereka.
"Nanti setelah pulang dari kampus aku langsung ke apartemen Daddy." Ucap Calista setelah mereka berada di dalam lift.
"Baiklah. Kabari aku kemana pun kau pergi." Pinta Danesh.
"Iya, iya, suamiku sayang."
Beberapa menit berlalu, kini Danesh dan Calista sudah berada di dalam kampus tempat Danesh melanjutkan pendidikannya. Calista memilih membiarkan Danesh pergi lebih dulu dari mobilnya dan mengikutinya dari jarak aman. Calista ingin melihat apakah ada sosok yang mencurigakan di dekat suaminya atau tidak.
Danesh yang tidak mengetahui jika Calista memperhatikan gerak-geriknya terus saja berjalan hingga akhirnya langkahnya terhenti saat melihat wanita yang selalu mengganggu hidupnya selama berada di kampus.
__ADS_1
***