
"Cal, kenapa kau diam saja?" Suara Reza terdengar lembut.
Calista menatap wajah Reza dengan datar. "Seperti yang Kakak lihat. Aku baik-baik saja dan bahagia saat ini. Kepergian Kakak tidak ada artinya lagi untukku. Jadi aku mohon setelah ini jangan membahas masa lalu di antara kita lagi."
Hati reza terasa sakit mendengar permintaan Calista. Begitu banyak hal yang ingin ia jelaskan pada Calista tentang kepergiannya tanpa pamit beberapa tahun lalu. Tapi Calista tidak berniat memberikan kesempatan kepadanya untuk menjelaskan.
"Jadi kau benar memiliki hubungan dengan mahasiswa itu, Cal?" Tanya Reza mengalihkan pembicaraan yang tidak diinginkan Calista.
"Ada atau tidak ada hubungan di antara kami aku rasa bukanlah urusan Kakak. Maaf, aku tidak memiliki banyak waktu. Kalau begitu aku pamit dulu." Calista buru-buru berlalu dari hadapan Reza setelah mengatakannya.
Sosok wanita yang sejak tadi berdiri di sebelah tembok ternyata mencuri dengar percakapan mereka. "Ternyata Bu Calista dan Pak Reza memiliki masa lalu bersama sebelumnya." Gumamnya. Seringaian tipis nampak terbit di wajah cantiknya. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Yang jelas ia merasa senang karena mendapatkan bahan untuk menjatuhkan Calista jika diperlukan nanti.
*
__ADS_1
Siang itu tanpa diduga Calista dan Danesh makan di kafe yang sama. Calista yang baru saja masuk ke dalam kafe milik teman baiknya sedikit terkejut melihat keberadaan Danesh dan kedua temannya di sana. Danesh memang belum ada mengabari jika ia akan makan siang di kafe milik Hanum.
"Calista, Rose..." Hanum yang baru saja keluar dari arah dapur berjalan cepat ke arah kedua teman baiknya.
"Hai, Hanum." Calista dan Rose memeluk Hanum secara bergantian.
"Dimana Daisy? Apa kau tidak membawanya ke sini hari ini?" Tanya Rose. Alasan terbesar Rose selalu ingin makan di kafe milik Hanum selain enak karena ia juga ingin melihat Baby Daisy.
"Aku membawanya. Hanya saja beberapa saat lalu Dio datang dan membawanya pergi. Katanya ingin mengajak Daisy pergi menjemput Divan ke sekolahnya." Jawab Hanum.
Hanum tertawa kecil. Ia pun mengajak Calista dan Rose untuk duduk di kursi yang berada di sudut ruangan.
"Sepertinya Bu Calista kenal dekat dengan pemilik cafe ini." Komentar Mike setelah mengalihkan pandangan dari Calista dan kedua temannya.
__ADS_1
"Sepertinya begitu. Setiap kita datang ke sini Bu Calista selalu disambut oleh pemilik kafe ini." Timpal Harry.
Danesh hanya mengangguk saja mengiyakan perkataan kedua sahabatnya. Ia tidak cukup tahu tentang hal itu karena Calista belum pernah menceritakan bagaimana ia bisa dekat dengan Hanum.
Seorang pria dari fakultas yang sama dengan Mike datang dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Calista.
"Kalian merasa penasaran bagaimana bisa Bu Calista bisa dekat dengan pemilik kafe ini?" Tanyanya yang sedikit mendengar percakapan mereka.
Mike menganggukkan kepalanya. "Memangnya kau mengetahuinya?" Tanya Mike.
Pria bernama Raju itu menganggukkan kepalanya. "Sebenarnya ini sedikit rahasia. Tapi aku rasa tidak masalah diceritakan pada kalian. Terlebih Danesh. Dia kan sekarang sedang dekat dengan Bu Calista."
"Jadi?" Danesh mengangkat sebelah alis tebalnya. Entah mengapa ia merasa penasaran dengan cerita Raju saat ini.
__ADS_1
"Bu Calista itu dulunya adalah mantan kekasih dari Bu Hanum pemilik cafe ini." Ucapnya sedikit pelan agar tidak ada orang lain yang mendengarnya selain mereka.
***