Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Menyembunyikan Identitas


__ADS_3

Calista tersenyum seraya mengusap lengan Danesh. Walau awalnya merasa berat harus meninggalkan pekerjaannya, namun kini perasaan Calista sudah tenang karena keputusan yang ia ambil bukan hanya membuat Danesh merasa bahagia namun kedua keluarganya juga.


Keputusan Calista untuk berhenti menjadi dosen di yayasan milik keluarganya akhirnya sampai juga di telinga Reza yang sedang bersama dengan Rose di kantin pagi itu.


"Jadi berita yang beredar itu benar jika satu bulan lagi Calista akan berhenti bekerja?" Tanya Reza pada Rose.


Rose tidak memperlihatkan raut tak suka saat kekasihnya itu membicarakan tentang Calista di depannya. "Benar. Cal memang sudah mengambil keputusan untuk ikut dengan Danesh menetap di luar negeri.


Reza mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memilih mengalihkan percakapan di antara mereka tentang Calista karena tidak ingin membuat kekasihnya menjadi salah paham.


"Apa kau masih memendam sedikit perasaan untuk Calista?" Tanya Rose setelah keduanya diam beberapa saat.


"Tidak. Jika aku masih memendam perasaan kepadanya aku tidak mungkin mau menjadikanmu sebagai kekasihku saat ini."

__ADS_1


Rose tersenyum bahagia mendengarnya. Ia pikir Reza belum sepenuhnya lupa dengan Calista.


"Oh ya, selama aku dekat denganmu aku belum pernah bertemu dengan kedua orang tuamu. Apa kau tidak tinggal bersama kedua orang tuamu di kota ini?" Tanya Rose.


"Tidak. Orang tuaku menetap di Surabaya sedangkan di sini aku tinggal di apartemen."


Rose mengangguk-anggukkan kepalanya. Walau dalam hatinya ia sangat ingin Reza memperkenalkannya pada kedua orang tuanya, namun Rose tidak berniat memaksa Reza untuk memperkenalkan dirinya pada orang tua Reza. Menurut Rose, biarlah Reza yang berinisiatif lebih dulu untuk memperkenalkannya pada kedua orang tuanya.


*


"Jadi Kak Reza tidak menceritakan pada Rose siapa dia sebenarnya?" Ucap Calista dalam hati setelah mendengarkan cerita tentang Reza dari Rose.


"Cal, kenapa kau diam saja?" Rose menegur Calista yang nampak termenung.

__ADS_1


"Aku tak apa." Calista tersenyum. Menyembunyikam kebingungan di hatinya saat ini tentang sikap Reza yang berniat menyembunyikan identitas dirinya yang sebenarnya. Sebenarnya sampai saat ini Calista juga dibuat bingung kenapa Reza memilih menjadi seorang dosen padahal pekerjaannya di Surabaya sangat menjanjikan.


"Sebenarnya aku ingin Kak Reza memperkenalkan aku pada keluarganya seperti aku memperkenalkan dia pada ayah dan ibuku. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa memaksanya untuk saat ini. Kak Reza juga tidak pernah menyinggung tentang hal itu."


Calista mengusap lengan Rose. Ia dapat melihat sedikit harapan di wajah Rose. "Mungkin belum saatnya. Kau sabar saja. Jika sudah waktunya, Kak Reza pasti mau memperkenalkanmu pada keluarganya."


Rose tersenyum mendengarnya. "Iya. Semoga saja."


Setelah cukup lama berbicara dengan Rose, Calista pun berpamitan untuk pulang. Ia tidak enak meninggalkan suaminya di rumah orang tuanya tanpa dirinya. Lagi pula saat ini Calista sudah sangat rindu dibelai oleh suami tampannya itu.


Selama berada di dalam perjalan pulang menuju rumah kedua orang tuanya, Calista bukan hanya memikirkan tentang Danesh, tapi tentang Rose juga. Calista masih saja heran dengan sikap Reza yang seperti menyembunyikan identitasnya dari sahabatnya.


"Awas saja jika Kak Reza berniat menyakiti Rose!" Gumam Calista.

__ADS_1


***


__ADS_2