Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Ancaman Tidak Berlaku


__ADS_3

"Danesh tidak mungkin suami Ibu dan Ibu tidak mungkin bisa mengeluarkan saya dari kampus ini!" Ucap Audrey menggebu-gebu.


"Kenapa tidak mungkin dan kenapa tidak bisa?"


"Karena Ibu tidak memiliki hak apa-apa untuk mengeluarkan saya dari sini. Lagi pula siapa Ibu bisa mengeluarkan saya dari sini!" Cibir Audrey. Bukan tanpa alasan Audrey berani berkata seperti itu. Ia merasa jika saat ini sudah tidak memiliki urusan lagi dengan Calista karena sudah memasuki masa semester akhir. Lagi pula Calista bukanlah dosen pembimbingnya.


Calista menarik salah satu sudut bibirnya dan hal itu terlihat menyeramkan di mata Audrey. "Jika kau tidak tahu siapa saya maka kau bisa mencari tahu biodata pemilik kampus ini!" Ucap Calista lalu pergi begitu saja dari hadapan Audrey. Menurutnya hanya membuang waktu saja meladeni wanita seperti Audrey.


"Bu Calista!" Audrey sedikit berteriak memanggil Calista. Ia belum selesai berbicara dengan Calista dan Calista sudah pergi begitu saja dari hadapannya.


"Apa maksud perkataan Bu Calista tadi menyuruhku melihat biodata pemilik kampus ini?" Audrey cukup merasa penasaran dengan perkataan Calista beberapa waktu lalu.


Tidak ingin terlalu larut dalam rasa penasaran, Audrey segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan membuka situs universitas tempat ia menempuh pendidikan saat ini.

__ADS_1


Kedua bola mata Audrey nyaris keluar dari wadahnya saat melihat biodata pemilik universitas atau lebih tepatnya biodata anak sematawayang pemilik universitas.


"A-apa? Bu Calista adalah anak pemilik kampus ini?" Lirih Audrey dengan tubuh yang mulai bergetar hebat.


*


Semenjak mengetahui status Calista dan Danesh yang ternyata adalah pasangan suami istri, baik Reza atau pun Audrey tidak berani lagi mengusik kehidupan keduanya. Terlebih Audrey, ia merasa takut jika Calista benar-benar membuktikan perkataannya yang ingin mengeluarkannya dari kampus.


Calista dan Danesh pun akhirnya dapat bernafas lega karena orang-orang yang mengusik mereka akhirnya berhenti mengusik dengan sendirinya. Kini Danesh bisa menjalani tugas akhirnya dengan tenang pun dengan Calista yang sudah kembali aktif mengajar di kampus milik keluarganya.


Jika di kampus Danesh sudah tenang karena tidak ada pengganggu di sekitarnya, namun berbeda pada saat ia berada di tempat kerja. Wanita bernama Inez itu tetap saja tak berhenti mengusik hidupnya walau sudah beberapa kali Danesh memberikan peringatan kepadanya.


Seperti saat ini, Inez sedang berusaha mencari perhatian Danesh yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerja ayahnya. Di saat Tuan Hendro sibuk menjelaskan pekerjaan Danesh untuk selanjutnya, Inez pun ikut sibuk menimpali perkataan Tuan Hendro berharap perhatian Danesh tertuju kepadanya.

__ADS_1


"Inez diamlah. Biarkan saja Papa yang berbicara!" Ucap Tuan Hendro yang merasa jengah dengan sikap putrinya.


Inez seketika terbungkam setelah mendengarkan perintah dari Tuan Hendro. Sementara Danesh merasa lega akhirnya tidak lagi mendengarkan kicauan tidak penting Inez.


"Danesh, tunggu!" Inez menghentikan pergerakan Danesh yang baru saja keluar dari ruangan kerja papanya.


"Lepaskan tanganmu!" Titah Danesh dengan tatapan berubah tajam.


Pegangan tangan Inez di lengan Danesh akhirnya terlepas. "Danesh, kau tidak bisa bersikap dingin seperti ini terus kepadaku. Kau harus sadar siapa aku. Aku bisa saja meminta Papa memecatmu jika aku mau!" Ucap Inez yang sudah merasa sebal dengan sikap Danesh.


"Lakukan saja. Aku tidak takut jika harus berhenti bekerja dari perusahaan ini."


***

__ADS_1


__ADS_2