Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Aku juga ingin memberikannya


__ADS_3

Calista hampir saja berteriak saat melihat sesuatu yang nampak besar dan panjang keluar dari balik celana yang Danesh lepaskan. Danesh yang tidak ingin mendengarkan teriakan Calista segera membungkam mulut Calista dengan ciuman yang mematikan.


Calista membalas ciuman suaminya itu tak kalah ganas saat merasakan tubuhnya sudah membutuhkan sebuah pelepasan.


Dengan terburu-buru dan tak sabar akibat obat terlarang yang masuk ke dalam tubuhnya, Danesh segera melakukan penyatuan yang sejak tadi sudah sangat ia inginkan.


Teriakan yang hendak keluar dari mulut Calista kembali terbenam begitu saja akibat ciuman Danesh. Calista menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan lewat cakaran di punggung Danesh.


Danesh membiarkan istrinya itu menyakiti punggungnya asal mendapatkan apa yang ia inginkan. Untuk saat ini katakanlah Danesh egois karena melakukannya secara kasar dan sedikit buru-buru. Tapi apa daya, Danesh tidak bisa berlaku lembut akibat obat itu begitu kuat bekerja di dalam tubuhnya.


Entah sudah berapa lama Danesh dan Calista larut dalam pertarungan panas mereka malam itu. Senyuman terkembang di wajah Danesh karena mengetahui istrinya masih bisa menjaga kesuciannya dengan baik sampai menikah dengannya.


"Terima kasih." Danesh mengecup sayang kening Calista yang nampak banjir keringat.


Calista hanya diam akibat rasa sakit di bagian intinya saat ini.

__ADS_1


"Maafkan aku karena menyakitimu." Danesh rasanya menyesal karena sudah berlaku kasar dalam percintaan mereka. Ia benar-benar tidak bisa mengendalikan hasratnya yang teramat tinggi.


"Jangan menyalahkan dirimu." Lirih Calista. Sedikit banyaknya Calista cukup mengetahui efek yang ditimbulkan oleh obat terlarang itu.


Danesh menatap Calista penuh harap. Pengaruh obat itu kembali terasa dan Danesh kembali menginginkan istrinya itu.


Calista yang sudah lelah dan sakit tak kuasa menolaknya karena ia tidak ingin pengaruh obat itu menjadi penyakit untuk Danesh nantinya jika tidak cepat disembuhkan dengan tubuhnya.


*


"Maafkan aku. Seharusnya aku tidak melakukannya seperti tadi malam." Sesal Danesh.


Calista sedikit memiringkan tubuhnya menatap pada Danesh. "Siapa yang menjebakmu? Dan kenapa kau bisa terjebak?" Tanyanya pelan.


"Aku juga tidak tahu. Setelah ini aku akan berusaha mencaritahunya." Jawab Danesh. Ia tidak bisa menebak siapa yang sudah menjebaknya jika tidak mendapatkan bukti lebih dulu. "Apa itunya sangat sakit?" Tanya Danesh. Agh, bodoh sekali. Seharusnya ia tidak perlu bertanya karena sudah pasti jawabannya ada iya.

__ADS_1


"Seperti yang kau pikirkan."


"Apa kau menyesal?" Tanya Danesh. Ia takut Calista belum siap melakukannya.


"Tidak. Aku juga ingin memberikannya kepadamu. Mungkin caranya saja yang sedikit salah."


Danesh merasa lega mendengarnya. Ternyata istrinya itu sudah ikhlas menyerahkan tubuhnya untuknya. Tahu begitu sejak kemarin Danesh meminta haknya pada Calista.


"Tunggu sebentar. Aku akan memesan obat untukmu." Danesh segera menyambar ponselnya yang berada di atas nakas lalu memesat salap untuk istrinya.


Calista membiarkan Danesh melakukan apa yang ia inginkan. Untung saja pagi ini ia tidak memiliki jadwal untuk mengajar sehingga tidak harus berangkat pagi ke kampus.


Tak berselang lama, seseorang terdengar mengetuk pintu rumah mereka. Danesh segera memakai pakaiannya yang tenggorok mengenaskan di atas lantai lalu keluar dari dalam kamar untuk menemui seseorang di depan rumahnya.


***

__ADS_1


__ADS_2