Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Tidak sebaik dirinya


__ADS_3

"Dari siapa aku mengetahuinya aku rasa tidak penting. Dan untuk apa membahasnya karena aku hanya penasaran saja."


Calista menatap wajah suaminya itu lekat. Umur Danesh yang terpaut cukup jauh dari umurnya membuat Calista berpikir jika cara berpikir Danesh saat ini berbeda dengan dirinya.


"Apa kau sedang menduga-duga tentang suatu hal saat ini?" Tebak Calista. Ia baru saja teringat jika Danesh mengabaikan pesan darinya. Dan sepertinya alasan Danesh mengabaikannya karena pertanyaannya saat ini.


"Jujur saja iya. Aku sempat berpikir jika kau belum bisa melupakannya. Ya? Mungkin saja kau masih mengingat masa lalu kalian yang manis. Terlebih kau sampai bertaruh nyawa hanya untuk menyelamatkan dirinya." Wajah Danesh nampak dingin saat mengatakannya.


"Jika aku berkata jika aku belum bisa melupakan dirinya apa kau akan marah?" Calista memberikan pertanyaan yang membuat Danesh dengan cepat menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak marah. Hanya saja aku tidak suka." Terangnya.


Calista tersenyum kecil. "Aku akan menjadi wanita pembohong jika aku mengatakan jika aku sudah melupakannya sepenuhnya. Tujuh tahun menjalin hubungan dengannya bukanlah waktu yang sebentar. Begitu banyak kenangan yang sudah kami lewatkan bersama. Tapi terlepas dari pada itu, saat ini hidupku sudah tak lagi bersamanya. Dan ingatanku juga tidak seratus persen tentang dirinya. Aku sedang belajar melupakan kenangan kami sepenuhnya. Dan aku juga sedang belajar menjalani hidup yang lebih indah bersama dirimu. Maafkan aku, aku butuh waktu sedikit lagi untuk menghilangkan semua memory tentangnya."


Perkataan Calista membuat dada Danesh terasa menghangat. Ia tidak bisa menyalahkan Calista karena belum bisa melupakan Dio sepenuhnya. Danesh menghargai permintaan Calista, melupakan sepenuhnya seseorang yang sudah sekian lama mengisi hati dan pemikiran kita bukanlah hal yang mudah.


"Lantas apa kau tidak bersedih melihatnya bahagia bersama dengan istrinya? Aku lihat kau cukup dekat dengan istri dari Tuan Dio."


"Apa kau sedang merendah saat ini? Kau juga wanita yang baik. Buktinya saja setelah bertaruh nyawa kau tidak menuntut balas budi apa pun dari Tuan Dio.

__ADS_1


Calista menarik tipis kedua sudutnya. Pandangannya ia alihkan ke depan menatap pepohonan yang ada di depannya. "Tidak. Aku berkata apa adanya. Aku menolongnya murni karena rasa kemanusiaan. Dan aku tidak mengharapkan balas budi apa pun darinya. Lagi pula jika aku meminta balas budi darinya apakah bisa menjamin aku bisa bahagia bila bersamanya sedangkan hatinya terus tertuju pada wanita lain yang lebih dicintainya."


Danesh menatap intens wajah istrinya. Tidak ada gurat kesedihan sedikit pun yang Calista tunjukkan saat bercerita tentang masa lalunya.


"Danesh, hubungan kita akan berjalan dengan lebih baik jika ada keterbukaan satu sama lain. Aku harap kau tidak mengambil kesimpulan sendiri atas apa yang mengganggu pemikiranmu."


Tangan Danesh terulur menarik pinggang Calista mendekat ke arahnya. "Maafkan aku. Aku hanya merasa dia lebih baik dariku."


Calista mendongak. Keningnya mengkerut menandakan ia sedang bingung saat ini. "Tahu dari mana jika dia lebih baik darimu?" Tanyanya.

__ADS_1


"Dia baik, tampan dan juga sukses. Sedangkan aku, mungkin penghasilan yang aku punya saat ini hanyalah penghasilan seujung jari untuknya. Aku bahkan tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu. Buktinya saja kita masih tinggal di kontrakan saat ini."


***


__ADS_2