
Danesh tak henti mengembangkan senyum mendengar kebaikan istrinya dari cerita Cinta. Semakin merasa beruntung saja Danesh bisa memiliki istri sebaik dan secantik Calista. Pembicaraannya dan Cinta tentang Calista tak berlangsung lama saat mengingat tujuannya datang ke perusahaan saat ini.
"Aku pergi dulu. Aku akan menemui Tuan Hendro."
"Apa kau berniat mengundurkan diri saat ini?" Tebak Cinta. Wajahnya nampak sendu setelah mengatakannya.
"Begitulah. Mungkin saja aku dipecat lebih dulu sebelum mengundurkan diri. Kau tahu jelas bukan perjanjian kontrak kita?"
Cinta menganggukkan kepalanya. Hatinya merasa sedih karena akan kehilangan sosok teman sebaik Danesh sebentar lagi.
"Aku akan menemuimu lagi setelah selesai berbicara dengan Tuan Hendro. Kalau begitu aku pamit dulu."
Cinta mengiyakannya.
__ADS_1
Danesh pun segera berlalu dari hadapan Cinta setelah mendapatkan respon dari wanita itu.
"Danesh, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan istrimu. Semoga setelah ini hidupmu jauh lebih baik setelah berhenti bekerja dari perusahaan ini."
*
Danesh kini sudah berada di dalam ruangan Tuan Hendro. Di dalam ruangan itu hanya ada Danesh dan Tuan Hendro tanpa ada Inez seperti biasanya. Tuan Hendro sengaja mengunci pintu ruangan agar putrinya itu tidak bisa masuk ke dalam ruangan kerjanya.
"Saya cukup terkejut dengan apa yang saya dengar tadi malam. Saya tidak menyangka selama beberapa bulan ini saya memperkerjakan anak dari rekan bisnis saya yang lebih sukses dari pada saya." Ucap Papa Hendro membuka percakapan di antara mereka.
Papa Hendor mengangguk. Menatap kagum pada sosok pria yang ada di depannya saat ini. "Pantas saja kinerjamu sangat bagus selama bekerja di perusahaan ini. Ternyata kepandaian Raka turun kepadamu. Kalian memang ayah dan anak yang berkualitas." Kembali memberikan pujian untuk Danesh dan sang ayah.
"Terima kasih atas pujiannya, Tuan." Jawab Danesh namun tak sampai besar kepala.
__ADS_1
Papa Hendro kembali mengangguk. "Oh ya, Danesh, selain itu saya juga terkejut mendengar kau sudah menikah setelah bekerja di perusahaan ini."
"Saya minta maaf untuk itu, Tuan. Saya siap membayar pinalti yang diberikan kepada saya. Dan untuk kesalahan yang sudah saya perbuat maka hari ini saya memutuskan untuk mengundurkan diri secara langsung dari perusahaan ini." Danesh mengeluarkan sebuah amplop dari tas yang ia bawa lalu menyerahkannya pada Tuan Hendro.
Tuan Hendro menatap tas itu sekilas lalu menatap pada Danesh. "Saya tidak menuntut pinalti atas kesalahan yang sudah kau perbuat. Hasil dari kinerjamu selama ini sudah melebih harga pinalti yang harus kau bayar."
Danesh merasa lega mendengarnya. Ia pikir uang tabungannya akan terkuras cukup banyak untuk membayar pinalti pada perusahaan Papa Hendro.
"Danesh, saya bisa saja merubah surat perjanjian itu sesuai dengan keinginan saya. Dan jika kau bersedia tetap bekerja di sini saya akan menghilangkan syarat yang memberatkanmu agar tetap bekerja di sini. Perusahaan kami sangat membutuhkan sosok seperti dirimu."
Danesh dapat melihat ketulusan Papa Hendro saat mengatakannya. Namun ia tidak mau merubah keputusannya. "Maafkan saya, Tuan. Tapi keputusan saya sudah bulat. Saya tetap akan mengundurkan diri dari perusahaan ini."
"Apa ini semua ada hubungannya dengan Inez?" Tebak Papa Hendro. Hanya putrinya lah yang membuat Danesh tidak nyaman selama bekerja setiap harinya.
__ADS_1
***