
"Sayang, jadi kapan kau akan memberitahukan berita kehamilanmu ini pada Danesh? Ini sudah satu minggu sejak kau dinyatakan hamil. Danesh berhak mengetahui jika istrinya saat ini sedang mengandung." Mom Diora mengusap lembut lengan Calista yang sedang duduk di sebelahnya saat ini.
"Secepatnya, Mommy. Untuk saat ini Cal belum bisa memberitahukannya pada Danesh. Dia sedang sibuk-sibuknya di sana saat ini."
Mom Diora menghela napas dalam. Hanya karena takut Danesh akan bimbang melanjutkan pendidikannya di sana, Calista sampai menutupi berita kehamilannya sampai saat ini.
"Cal, Mom tidak ingin hubunganmu dan Danesh jadi memburuk karena kau menutupi hal ini dari Danesh. Kau tidak akan tahu bagaimana reaksi Danesh nantinya jika dia mengetahui kabar baik ini dari orang lain lebih dulu." Mom Diora memberikan peringatan pada putrinya.
Calista mengangguk saja seraya tersenyum. Ia tahu kesibukan Danesh di awal pendaftaran ulang kuliahnya saat ini. Dan ia tidak ingin membebani pemikiran Danesh karena berita kehamilannya itu.
*
__ADS_1
Satu bulan tanpa terasa sudah berlalu, Calista masih saja memilih menutupi berita kehamilannya dari Danesh. Bukan tanpa alasan Calista melakukannya, mendengar cerita Danesh setiap malamnya tentang kesibukannya setiap harinya membuat Calista semakin ragu saja untuk memberitahukannya pada Danesh.
Di tempat yang berbeda, Danesh yang kini menempati apartemen yang dulunya ditempati oleh Calista nampak termenung memikirkan keadaan istrinya saat ini. Entah mengapa hati Danesh merasa tidak tenang setelah beberapa kali melihat wajah istrinya nampak pucat dan acap kali mual saat di pagi hari setiap kali melakukan sambungan panggilan video dengannya.
"Ada apa dengan istriku? Apa dia baik-baik saja?" Gumam Danesh.
Beberapa waktu berlalu, Danesh masih mencoba meyakinkan dirinya jika saat ini Calista baik-baik saja. Namun hari itu perasaannya sudah tak bisa lagi tenang saat mendengar dari sambungan video suara muntahan Calista di pagi hari untuk yang kesekian kalinya.
"Apa? Istriku sedang hamil dan usia kandungannya saat ini sudah dua bulan?" Suara Danesh terdengar keras di sambungan telefon setelah mendengar kabar kehamilan istrinya.
"Benar, Danesh. Mom mohon jangan marah pada Calista karena dia tidak memberitahukanmu sejak awal. Calista hanya tidak ingin mengganggu konsentrasimu di sana."
__ADS_1
Danesh hanya diam saja. Tangannya menggenggam erat ponsel yang sedang ia pegang. Antara perasaan senang, sedih dan kecewa Danesh rasakan saat ini.
Panggilan telefon pun terputus setelah Danesh menutup percakapannya dengan Mommy Diora.
"Calista, kenapa kau menutupi semua ini dariku?" Kedua bola mata Danesh memerah. Jantungnya berdebar-debar mengetahui jika sebentar lagi ia akan menjadi sosok seorang ayah.
"Anakku... maafkan Daddy tidak bisa menemani Mommymu di saat dia sedang berjuang mengandungmu saat ini." Danesh mengusap kasar wajahnya. Andai saja ia tahu sejak awal jika istrinya sedanh hamil pastilah saat itu juga ia membatalkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan.
Calista yang sedang bersiap menuju kelas untuk mengajar pagi itu dibuat terkejut saat melihat isi pesan dari Danesh yang menyatakan jika suaminya itu sudah mengetahui tentang kehamilannya.
"Da-danesh... bagaimana bisa dia mengetahuinya?" Lirih Calista dengan jantung berdebar-debar.
__ADS_1
***