Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Ancaman Untuk Inez


__ADS_3

"Saya tidak ingin membawa nama orang lain atas keputusan yang sudah saya buat, Tuan." Jawab Danesh.


Papa Hendro menghela nafas. Jawaban Danesh cukup meyakinkan dirinya jika putrinya lah yang menjadi salah satu penyebab Danesh keluar dari perusahaannya.


"Jika seperti itu keputusanmu maka saya tidak bisa lagi memaksamu untuk tetap bekerja di sini. Tapi ingatlah Danesh, kapan pun kau ingin kembali ke perusahaan ini, saya dengan tangan lebar mempersilahkan dirimu untuk kembali bekerja di sini."


"Terima kasih, Tuan."


Setelah berbicara panjang lebar dengan Tuan Hendro, akhirnya Danesh keluar dari dalam ruangan kerja Papa Hendro. Danesh merasa bersyukur sebelum ia keluar dari dalam ruangan kerja Papa Hendro, pria paruh baya itu memberikan sebuah amplop berisi uang yang cukup banyak sebagai tanda jasa dirinya pernah bekerja di perusahaan Papa Hendro.


"Tuan Hendro sudah sangat baik kepadaku. Sepertinya aku harus meminta Papa menanam saham lebih banyak di perusahaan ini." Gumam Danesh.


Kini Danesh sudah berada di dalam lift yang akan mengantarkannya ke lantai ruangan kerjanya berada. Recananya, Danesh ingin berpamitan pada seluruh rekan kerjanya yang sudah baik kepadanya selama ia bekerja di perusahaan Tuan Hendro.

__ADS_1


"Danesh!" Suara seorang wanita memanggil namanya membuat langkah Danesh terhenti. Tanpa menoleh ke sumber suara, Danesh sudah mengetahui siapakah orang yang sudah memanggil namanya.


"Danesh tunggu!" Wanita itu berjalan cepat ke arah Danesh yang hendak kembali melangkah.


Tatapan Danesh nampak dingin menatap sosok wanita yang berada di depannya saat ini. "Ada apa?" Tanyanya dengan tatapan tak bersahabat.


"Apa benar kau ingin mengundurkan diri dari perusahaan ini?" Tanya wanita itu yang tak lain adalah Inez.


Danesh hanya diam dan diamnya itu diartikan iya oleh Inez.


"Aku rasa kau tidak perlu tahu jawabannya." Jawab Danesh dengan tatapan semakin dingin.


"Danesh, kenapa kau selalu saja bersikap dingin kepadaku. Memangnya salahku selama ini apa? Apa salah jika aku menaruh perasaan lebih kepadamu?" Inez menunjukkan wajah sedih.

__ADS_1


"Kau tanya kesalahanmu apa?" Danesh berdecih. "Apa harus aku jelaskan apa kesalahanmu selama aku bekerja di sini? Atau apa perlu aku memberitahu Om Hendro apa yang sudah kau lakukan kepadaku di malam pesta perayaan ulang tahun perusahaan ini?" Sentak Danesh.


"A-apa maksudmu, Danesh?"


"Aku masih menyimpan bukti rekaman CCTV saat kau meminta seseorang meletakkan sebuah obat di dalam minumanku, Inez!" Tekan Danesh.


Kedua mata Inez melotot sempurna mendengarkan perkataan Danesh.


"Kau tidak lupa bukan dengan obat apa yang sudah dimasukkan ke dalam minumanku malam itu? Kau pikir aku tidak tahu rencana jahatmu itu? Dan sekarang, apa kau pikir aku tidak bisa membawa permasalahan ini ke ranah hukum?" Ucap Danesh sedikit mengancam.


Tubuh Inez menegang. Pun dengan keringat yang kini bercucuran membasahi pelipisnya.


"Jika kau masih ingin hidup dengan tenang maka jangan pernah lagi mencoba mengusik hidupku atau kau akan tahu akibatnya!" Ucap Danesh lalu pergi meninggalkan Inez yang tertegun di tempatnya berdiri.

__ADS_1


Inez menatap kepergian Danesh dengan mata berkilat. "Jika sudah begini aku tidak bisa lagi mendekatinya atau aku berada dalam bahaya."


***


__ADS_2