
"Kau mengenal dosen baru tadi, Cal?" Tanya Rose. Saat ini ia dan Calista sedang berada di kantin menikmati secangkir coffe sebelum satu jam lagi masuk ke dalam kelas memberikan kisi-kisi untuk ujian.
"Ya. Dia seniorku saat sekolah dulu." Jawab Calista apa adanya.
Rose mendekatkan wajahnya dengan wajah Calista. "Apa? Kau satu sekolah dengan Pak Reza dulu?" Tanya Rose berbisik agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka.
"Begitulah. Bukan hanya itu saja. Aku dan dia sempat menjalin hubungan dua tahun lamanya."
Uhuk
Rose terbatuk-batuk. Informasi yang Calista berikan membuatnya cukup terkejut.
"Kau ini selalu saja." Calista menyodorkan air putih pada Rose.
Rose mengusap dadanya setelah air putih itu masuk membasahi kerongkongannya. "Jadi kalian adalah sepasang kekasih dulunya. Pantas saja tatapan Pak Reza kepadamu berbeda." Ucapnya. Masih teringat jelas di benak Rose bagaimana mata Reza saat menatap Calista.
__ADS_1
"Berbeda bagaimana? Dia menatapku sama seperti dia menatapmu. Jangan mengada-ngada Rose. Harus kau ingat jika kami sudah lama berakhir." Tekan Calista.
Rose yang merasa sangat penasaran dengan masa lalu Calista dan Reza ingin kembali bertanya. Namun niat itu ia urungkan saat melihat kedatangan Danesh dan Harry ke dalam kantin.
Pria itu nampak berjalan melewati meja mereka dengan menebarkan senyum manisnya pada Calista. Calista yang merasa tidak tahan dengan senyuman suaminya itu tanpa sadar membalasnya.
"Manis sekali..." puji Rose setelah Danesh berlalu dari hadapan mereka.
Wajah Calista merona mendengarnya. Senyuman suaminya itu memang sangatlah manis hingga berhasil membuat dadanya berdebar-debar saat melihatnya.
*
Sesuai perkataan Danesh tadi malam, ia dan Danesh akan menginap di rumah mertuanya malam ini. Calista berniat menyelesaikan tugas kampusnya di rumah dan mempersiapkan barang untuk dibawa ke rumah mertuanya nanti malam.
Reza tentu saja merasa kecewa karena tidak bisa berinteraksi dengan Calista. Padahal tujuannya bekerja di kampus adalah untuk mendekatkan diri dengan Calista. Dari informasi yang ia dapat menyatakan jika sampai saat ini Calista belum menikah di umurnya yang sudah memasuki tiga puluh tahun. Reza berniat untuk mendekati Calista dan menjalin kembali hubungan mereka yang pernah kandas karena dirinya.
__ADS_1
Deringan telefon yang terdengar memekakkan telinga mengurungkan niat Calista yang ingin membuka laptopnya di dalam kamarnya siang itu. Nama pemanggil telefon yang tertera adalah nama suaminya membuat Calista segera mengangkat panggilan telefon tersebut.
"Danesh, ada apa?" Tanya Calista setelah panggilan terhubung.
"Tidak ada. Aku hanya rindu saja kepadamu." Jawab Danesh diikuti senyuman di wajahnya di seberang sana.
Calista tersenyum dan senyumannya itu pastinya tidak dapat terlihat oleh Danesh.
"Kau pasti sedang tersenyum bukan? Agh sayang sekali aku tidak bisa melihat senyuman cantik istriku ini. Jika saja bisa aku tidak akan membiarkanmu terus tersenyum karena aku akan mematuk bibir yang terus mengulas senyum itu." Kelakar Danesh.
Calista menggelengkan kepalanya. Pandai sekali suaminya itu berkata sedikit mesum di pembicaraan singkat mereka.
"Jika kau ingin mematukku maka cepatlah pulang. Jika tidak, maka tidak ada jatah mematuk untukmu malam ini."
***
__ADS_1
Vote dan gift dulu yuk sebelum lanjutš¤